http://www.shnews.co/detile-4366-hedonisme-elite-dan-awal-kehancuran-negara.html

Hedonisme Elite dan Awal Kehancuran Negara 
Thomas Koten* | Sabtu, 07 Juli 2012 - 12:13:07 WIB



(dok/antara)Hedonisme dapat menghancurkan negara. 
Ada sebuah fenomena bangsa yang sesungguhnya sudah sangat mengerikan, tetapi 
tampaknya masih dianggap biasa-biasa saja, yakni menguatnya demoralisasi dalam 
kehidupan masyarakat bangsa. Ini terpotret dari perilaku hedonis nan serakah 
akan materi dan kekuasaan yang berkembang dalam masyarakat bangsa. 

Fenomena ini akan bertambah parah, mengingat kehidupan sosial politik bangsa 
yang dikomandani kaum elite negeri dijejali bebalisme, baik secara 
institusional maupun personal. Bebalisme ditandai dengan buta dan tulinya mata 
dan telinga, serta tumpulnya hati nurani para pemimpin, pejabat, dan kaum elite 
negeri yang berkecimpung di bidang politik, hukum, dan ekonomi. 

Implikasinya, politik berjalan hanyalah sekadar mekanisme rutin yang dangkal, 
dengan lilitan uang yang lebih dikenal dengan politik uang. Hukum tergeletak 
menjadi formalisme dari sebuah peraturan tertulis dus penanganan kasus secara 
tebang pilih. Di bidang ekonomi, terjadinya pengguritaan kapitalisme dengan 
mengabaikan etika bisnis, lantaran yang dikejar hanyalah keuntungan materi 
semata. 

Semua itu membuat korupsi, suap, politik uang, dan berbagai bentuk kejahatan 
merajalela dan sulit terkendalikan. Akibat dari bekapan bebalisme, segala 
kritik dan sinisme publik yang begitu gencar dilancarkan dianggap hanyalah 
pepesan kosong, dan seenaknya mengatakan semua itu adalah bagian dari 
demokrasi, di mana semua orang boleh bebas bersuara menyampaikan pendapatnya, 

Kaum elite negeri lupa fenomena yang sangat mengerikan ini memberikan gambaran 
akan terjadinya kehancuran bangsa dan rontoknya negara. Namun, apakah semua ini 
benar-benar sebagai indikasi dari sebuah negara bangsa yang sudah sampai pada 
ambang batas kehancurannya? Bagaimana mengelaborasi dan menjelaskannya? 

Teori Runtuhnya Negara 

Ibnu Khaldun dalam karya momumentalnya, The Muqaddimah an Introduction to 
History (1989), mengingatkan perilaku hedonis serba serakah serta tabiat 
kekuasaan yang egoistis dan tidak dikelola dengan baik menggiring bangsa dan 
negara ke jurang kehancurannya. Melalui teori siklus peradaban, Ibnu Khaldun 
menjelaskan proses kehancuran negara dalam tiga fase. 

Pertama, tabiat kekuasaan nan serakah selalu menumpuk di satu tangan (the royal 
authority, by its very nature, must claim all glory for it self). 

Meski kekuasaan itu awalnya diperjuangkan oleh banyak orang, namun kemudian 
dimonopoli oleh satu orang dengan kekayaan dan segala fasilitas dikuasai dan 
dinikmati oleh segelintir orang. Maka, kekuasaan negara menjadi kian rapuh dan 
tidak kuat menahan terjangan badai persoalan yang datang bertubi. 

Kedua, tabiat kekuasaan yang menghendaki kemewahan yang berselimutkan kemalasan 
dan instanisme, ingin cepat kaya dengan menempuh jalan pintas (the royal 
authority, by its very nature, requires luxury). 

Situasi ini ditandai pula dengan korupsi dan suap serta aneka kejahatan moral 
lainnya yang kian merusak akhlak dan keadaban bangsa. Jika keadaan ini tidak 
segera dikendalikan, kehancuran dan rontoknya bangsa sudah di pelupuk mata. 

Ketiga, tabiat kekuasaan yang melumpuhkan keberanian, kejuangan, kejujuran, dan 
seterusnya, karena dibungkus pola hidup mewah dengan semangat hidup hedonistik 
yang semakin menggila. Padahal, negara yang semakin tua semestinya menghendaki 
tabiat kekuasaan yang stabil dan tenang (the royal authority, by its very 
nature, requires tranquility and rest). 

Pemikiran yang sama perihal negara hancur dan rontok dikemukakan pula oleh 
Antonio Rosmini (1797-1855) dalam Philips Rusihan S (1998), Rosmini Critico di 
Rousseau. 

Eseme Dellerelazioni tra Etica e Politica, seorang filsuf sekaligus politikus 
yang notabene berasal dari negara yang pernah menjadi pusat Imperium Romanum, 
menegaskan bahwa kehancuran sebuah negara atau bangsa terjadi pada tahap akhir 
dalam perjalanan kemakmurannya. 

Dengan ajaran moral personalitasnya, Rosmini menegaskan kehancuran sebuah 
negara, seperti kerajaan Romawi, selalu diawali oleh demoralisasi individual 
dan masyarakat. Dalam masing-masing tahap perkembangan suatu masyarakat 
mempunyai tujuan pokok yang berbeda. 

Pertama, yaitu ketika masyarakat masih muda, atau baru terbentuk, tujuan ini 
terletak dalam masyarakat sendiri. Artinya, eksistensi dari masyarakat itulah 
yang merupakan keprihatinan utama rakyatnya. 

Kedua, ketika keamanan sudah mulai terjamin dan tujuan pokok negara beralih ke 
kekuasaan. Di sini, negara mengukuhkan kewibawaannya. Ketiga, setelah kekuasaan 
sudah kuat dan pemerintahan sudah menjadi mantap, dan sasaran pokok negara 
beranjak ke kesejahteraan sosial dan ekonomi. Ini sering terjadi penumpukan 
harta dan kekayaan. 

Tahap akhir, tatkala kemakmuran telah tercapai dan yang dikejar oleh masyarakat 
tidak lain adalah kesenangan dan kenikmatan alias perilaku hedonis yang tidak 
terkontrol, kemudian membawa negara dan bangsa ke jurang kehancurannya. 

Ini karena pada tahap ini terjadi demoralisasi bangsa yang tak terkendali. 
Demoralisasi bangsa oleh Rosmini, ditandai dengan merebaknya prostitusi, 
perjudian, minuman keras, korupsi, suap dan melekatnya budaya instan ,lunturnya 
semangat juang, yang semuanya terbungkus rapi perilaku hedonis. 

Perilaku Hedonis Elite 

Hedonis adalah suatu sikap atau gaya hidup instan yang berorientasi pada 
kenikmatan badani. Atau, hedonisme merupakan sebuah aliran filsafat yang 
memaparkan pemikiran bahwa tujuan akhir hidup manusia adalah untuk memperoleh 
kenikmatan-kenikmatan badani. 

Orang yang terasuk semangat hedonisme hanya berprinsip bahwa tujuan utama dalam 
perbuatan adalah untuk memperoleh kenikmatan atau untuk memuaskan rasa nikmat 
yang bersifat badani, seperti materi, kekuasaan, dan seks. 

Sungguh tragis nasib sebuah bangsa jika para penguasa, pejabat, dan kaum elite 
negeri sudah dirasuki semangat hedonisme. Karena kelompok ini adalah kelompok 
strategis yang semestinya memberikan cermin keteladanan bagi masyarakat. 

Tatkala masyarakat kehilangan keteladanan dari para elite negeri, di mana 
mereka terus mengumbar perilaku hedonis, maka akan terus tumbuh subur perilaku 
hedonis di tengah masyarakat. Jika sudah demikian, nasib bangsa seperti 
dikatakan di atas, berada di ambang kehancuran dan keruntuhannya. 

Jadi, solusi etisnya adalah para penguasa, pejabat, atau para elite negeri 
semestinya selalu memberikan keteladanan bagi masyarakat dengan selalu 
memperhatikan sisi etis dan moral di tengah masyarakat. Pencitraan hidup 
sederhana harus diusung oleh kaum elite. Perilaku elite yang menodai etika dan 
mengabaikan moralitas akan semakin membunuh akhlak dan membinasakan nurani 
masyarakat. 

Bagi elite negeri mesti menyadari perihal seperti dikatakan filsuf sekaligus 
seniman Jean Jaques Rousseau, setiap warga negara saja wajib merasa diri tidak 
henti-hentinya berada di bawah pengawasan publik. Bagaimana jadinya jika itu 
tidak disadari oleh kaum elite negeri yang memiliki posisi strategis dalam 
memberikan citra dan contoh di tengah masyarakat? 

Karena kaum elite negeri itu, entah dia seorang pejabat publik sebagai pemegang 
kekuasaan atau bukan, ia tetap laksana pemimpin yang harus memiliki komitmen 
etis dan leadership moral, serta kepekaan nurani. Karena posisi elite itu 
sendiri hakikatnya selalu mengandung dimensi moral-etis. 

*Penulis adalah Direktur Social Development Center. 

(Sinar Harapan) 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke