Dulu Tukang Becak, Kini Punya 10 Mobil dan 2 Pabrik
Penulis : Dimasyq Ozal | Senin, 9 Juli 2012 | 06:38 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Bertahun-tahun lamanya Sanim menggantungkan nasib pada 
sebuah becak yang dimilikinya. Kini nasibnya berubah, ia menjadi jutawan dengan 
dua pabrik, tiga rumah, 10 mobil, dan dua kali haji dari usahanya itu.

Sanim (60) merupakan seorang pengusaha asal Desa Rawa Urip, Kecamatan Pangenan, 
Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Ia menjadi salah satu contoh warga yang berhasil 
keluar dari garis kemiskinan.

Dua usaha yang ia jalani saat ini ialah pabrik pembuatan garam dan pupuk 
organik. Namun, nama Sanim lebih dikenal sebagai pengusaha garam ketimbang 
pengusaha pupuk organik.

"Sekarang saya punya 10 mobil, tiga di antaranya mobil pribadi tipe Daihatsu 
Taruna, Honda Jazz, dan mobil pertama ketika saya beli tahun 1997, yaitu 
Daihatsu Espass, bangga sekali saya saat itu. Sisanya mobil angkut produksi, 
seperti Fuso," ujar bapak empat anak ini, saat ditemui Kompas.com di acara 
peluncuran buku kewirausahaan Rhenald Kasali di Gedung WTC, Jakarta Kamis 
(5/7/2012).

Adapun beberapa jenis garam yang diproduksi, ialah jenis garam grosok (garam 
non-yodium masih berbentuk butiran besar dan kasar, biasanya dipakai untuk 
budidaya dan pengawetan ikan), garam dapur (konsumsi), dan garam industri untuk 
pabrik tekstil.

Sementara jenis pupuknya, yakni organik tipe KCL (Kalium clorida), fungsinya 
meningkatkan unsur hara Kalium di dalam tanah budidaya.

Kemampuan produksi kedua pabriknya, Samin mengaku, dalam setahun mampu 
memproduksi masing-masing 2.000 ton baik garam maupun pupuk organik.

"Oh kalau barang jadinya, itu mah ((harga jual) rahasia perusahaan mas. yang 
penting perhitungan saya ini ada lebihnya gitu. Saya tidak tahu kiranya berapa, 
tapi tahun kemarin bersih minimal mencapai Rp 400 juta per tahun," tuturnya 
sambil tertawa.

Menimba Ilmu Dari Pabrik Garam

Sanim menceritakan, pada awalnya ketika masih sebagai tukang becak, ia sering 
mangkal di perapatan Jalan Cirebon. DI tempatnya mangkal, berdiri sebuah pabrik 
garam yang cukup besar.

Sanim pun tertarik untuk melamar kerja di pabrik tersebut, dengan harapan 
nasibnya bisa lebih baik. Beruntung, Ia diterima bekerja di situ.

"Setelah dua bulan bekerja, saya pun berpikir, daerah kita kan punya potensi 
garam, loh kenapa saya tidak bisa membuat garam sendiri," ungkapnya.

Akhirnya, Sanim berhenti kerja dari pabrik garam tersebut. Di situlah Ia mulai 
berpikir, usaha garam ternyata mampu mengeruk keuntungan yang lebih besar dari 
buruh pabrik apalagi tukang becak.

Baginya, garam bukan hanya sebagai bumbu penyedap makanan, melainkan juga 
dibutuhkan untuk keperluan industri, pertanian, dan perikanan. Ternyata, tidak 
sia-sia pernah bekerja di pabrik garam. "Jadi bisa dikatakan cuma nimba ilmu di 
pabrik tersebut," tuturnya.

Ilmu yang diperolehnya, ialah cara membuat garam krosok. Samin pun menggarap 
empang peninggalan orang tuanya yang berada di belakang rumah Sanim untuk 
mencoba membuat garam.

"Alhamdulillah, lama-lama usaha saya berkembang, sampai yang awalnya usaha di 
halaman belakang rumah, lalu berkembang dan kita bisa membeli tanah untuk 
tempat produksi yang lebih luas lagi," ujar Sanim yang mampu mengantarkan 
keempat anaknya meraih gelar sarjana ini.

Petani garam umumnya memanfatkan empang atau kolam di dekat pantai. Caranya, 
dengan mengumpulkan air laut ke dalam empang. Lalu, dengan bantuan sinar 
matahari, air laut yang terkumpul tersebut akan menguap dan menghasilkan 
kristal-kristal bersenyawa Natrium klorida (NaCl).

Kristal NaCL itu dikumpulkan oleh petani, lalu dibersihkan berulang kali dari 
kotoran yang melekat hingga menjadi butiran halus dan kecil namun non-yodium.

Itu dulu, kini selain memproduksi sendiri garam krosok, Ia juga membelinya dari 
petani garam di sekitar Cirebon. Dengan kisaran harga beli sekitar Rp 400 per 
kilo gram.

Harga belinya murah disebabkan garam yang diterima masih sangat kotor dan 
berwarna hitam. Kemudian Ia cuci kembali dengan alat seadanya.

Akhirnya, Ia memutuskan untuk membeli alat pencuci khusus garam krosok seharga 
Rp 20 jutaan. Lebih efisien dan garam krosok bisa dibersihkan dengan cepat. Ia 
pun menjual garam itu ke industri, pertanian, dan perikanan.

Namun, Sanim enggan menyebut berapa harga jual garamnya. Di beberapa iklan 
promosi yang beredar di internet, harga jual garam krosok bersih bisa mencapai 
Rp 810.

Peralatan produksi garamnya pun masih menggunakan mesin tradisional. 
Menurutnya, ini warisan budaya setempat. Lagi pula. Ia menganggap, mesin 
tradisional lebih tahan lama dan tidak tidak menimbulkan bising ketimbang mesin 
modern berbahan besi.

Mesin tradisional ini lah yang digunakan sanim, mengolah garam krosoknya 
menjadi garam beryodium dan bisa dikonsumsi oleh masyarakat.

"Kalau barang jualnya habis-habis terus, tak pernah berkurang. Karena pemasaran 
banyak sekali setelah garam beredar," ungkapnya.

Memanfaatkan KUR

Lambat laun, Sanim pun mulai berpikir untuk mengembangkan usaha lebih besar 
lagi dari yang Ia jalani sekarang. Pada 2010, ia memutuskan, menggunakan 
fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang disediakan perbankan BUMD Jawa Barat, 
yakni Bank BJB (Bank Jabar Banten).

Sebelumnya, Ia hanya memanfaatkan jasa bilyet giro Bank BJB untuk bertransaksi 
dengan pembeli luar kota. "Kita pernah mengajukan utang pinjaman ke Bank BCA, 
tapi waktu itu ditolak. Setelah itu akhirnya kita ke bank BJB. setelah diproses 
dan melihat prospek perkembangan usaha kita, akhirnya kita dapat dana," katanya 
bercerita saat kesulitan memperoleh dana usaha.

Untuk menghasilkan 2.000 ton garam, paling tidak Sanim harus mengeluarkan biaya 
produksi sebesar Rp 1 miliar. Untuk itu, Ia sangat membutuhkan suntikan dana 
bank untuk memperlancar arus produksinya.

Ia mengaku, tidak pernah mengalami kredit macet selama meminjam ke bank "Ke 
depannya nanti saya akan meminjam kembali ke Bank BJB sebesar Rp 500 juta. 
Kepinginnya saya balikin sekitar 1 tahun," katanya.

Sementara itu, ditemui Kompas.com di tempat yang sama, Dirut Bank BJB Bien 
Subiantoro mengatakan, bank yang dipimpinnya itu memberikan akses kemudahan 
bagi para pengusaha mikro emelalui jalur KUR.

Salah satu langkah BJB, ialah meluncurkan suatu program bernama 'Warung BJB'. 
Warung tersebut semacam bank keliling khusus untuk menyalurkan pembiayaan usaha 
mikro.

Kini, 430 Warung BJB tersebar di pasar-pasar tradional di beberapa wilayah Jawa 
Barat dan Banten.

"Khusus kredit (KUR) kita masih fokus di Jawa barat dan Banten. Ini karena 
untuk menyalurkan kredit, kita harus tahu dulu customernya," tutur Bien.

Dirinya mengklaim, pengusaha mikro tidak perlu lagi berpikir ribetnya proses 
birokrasi pengajuan dana KUR.

Biasanya, lanjut Bien, pengusaha mikro yang datang ke BJB untuk mengajukan KUR, 
didiskusikan terlebih dahulu, bank pun bisa langsung mencairkan dananya. 
Asalkan pengusaha punya tempat usaha tetap.

"Kita memberi dana mulai paling kecil yankni Rp 2 juta hingga yang paling besar 
sampai Rp 50 juta. Begitu tumbuh, lalu kita naikan kembali levelnya sampai RP 
100 juta. lalu begitu tumbuh lagi, kita naikan kembali level pinjamannya. 
NPL-nya (kredit bermasalh) pun kecil hanya empat persen (maksimal lima persen) 
untuk mikro," kata Bien, yang pernah menjabat Direktur Treasury dan 
Internasional Bank BNI ini.

Rhenald Kasali Tentang Sanim

Guru Besar FEUI sekaligus penggiat Rumah Perubahan kewirausahaan Rhenald Kasali 
mengatakan, banyak sekali orang yang menjadi tukang becak selama 20 tahun dan 
bahkan hingga akhir hayatnya.

"Tapi Pak Sanim berubah, justru Pak Sanim melihat dirinya ada potensi. Dan 
sekarang Pak Salim menjadi pengusaha besar di bidang garam. Ketika sebagian 
besar orang justru ingin impor garam. Pak Sanim berkutat untuk menyelamatkan 
garam Indonesia. Jadi ini salah satu contoh," ungkapnya pada sambutannya di 
peluncuran buku terbarunya tentang kewirausahaan.

Rhenald menyebut Sanim dan pengusaha mikro sejenis adalah para "Pengusaha 
Cracking". Para pengusaha yang awalnya bukan dari kalangan keluarga pengusaha, 
namun mereka nekat keluar dari kebiasaan-kebiasaan masyarakat pada umumnya. 

Editor :
Benny N Joewono

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke