Menghindari perkawinan inces di Padang Savanna
Senin, 9 Juli 2012 02:39 WIB | 1882 Views

Dahlan Iskan (*)


Menteri BUMN, Dahlan Iskan (FOTO ANTARA)

Jakarta (ANTARA News) - Dari NT ke NTT. Itulah jadwal perjalanan Presiden SBY 
pekan lalu. Dari North Teritory (NT) di Australia ke NTT (Nusa Tenggara Timur) 
di belahan timur Indonesia. Wilayahnya berdekatan, kondisi alamnya mirip-mirip, 
dan keduanya jadi andalan untuk produksi daging bagi negara masing-masing. 


Bedanya, produksi ternak di NT berlebih untuk Australia, sedang produksi ternak 
NTT tidak cukup untuk Indonesia. Tahun lalu Indonesia harus impor sapi sampai 
350.000 ekor, kebanyakan dari NT.


Problem itulah yang jadi fokus kunjungan Presiden SBY ke NT. Ini sangat serius 
karena bisa jadi impor ternak dari NT akan terus bertambah yang ujung-ujungnya 
kelak Indonesia akan tergantung Australia.


Apalagi konsumsi daging kita akan terus membumbung seiring dengan terus naiknya 
kelas menengah di Indonesia. Menurut laporan Bank Dunia, jumlah kelas menengah 
kita naik drastis dalam delapan tahun terakhir. Tahun lalu sudah mencapai 56,5% 
(131 juta), dari hanya 37% di tahun 2003.


Karena itu kali ini Presiden SBY membawa misi dua jalur: silakan pengusaha NT 
terus mengeskpor sapi ke Indonesia, tapi juga harus diimbangi dengan investasi 
ternak di NTT. Atau di propinsi lainnya di kawasan timur Indonesia. 


Melihat kuatnya imbauan presiden soal investasi ternak ini, saya menafsirkannya 
begini: kalau Australia tidak juga mau investasi ternak di Indonesia, jangan 
salahkan Indonesia kalau satu saat nanti ada investor lain (asing maupun lokal) 
yang menanam modal di NTT dan akhirnya Indonesia tidak akan impor sapi lagi!


Dalam perjalanan pulang ke NTT, Presiden SBY menegaskan agar para menterinya 
aktif menindaklanjutinya. Karena itu, ketika masih di dalam pesawat, saya minta 
izin: mengunjungi padang savanna Kabaru, 100 km dari Waingapu. 


Saya ingin tidur di savanna Kabaru untuk melihat peternakan besar di situ. Saya 
berjanji pagi-pagi sudah akan tiba kembali di Waingapu untuk ikut penerbangan 
pesawat kepresidenan kembali ke Jakarta.


Di savanna Kabaru, BUMN memiliki 7.000 ha padang gembalaan. Di bangun tahun 
1973, padang gembalaan ini pernah berjaya. Dananya dari Bank Pembangunan Asia 
(ADB) dan manajemennya dipegang oleh ahli dari Australia. 


Tapi kejayaan proyek ini tidak lama. Sejak tahun 1980an, tidak terlalu diurus 
lagi. Terakhir proyek ini, entah mengapa, berada di bawah naungan PTPN 14 yang 
tugas pokoknya mengurus perkebunan.


Selama ini sebenarnya sudah ada BUMN yang mengurus peternakan: PT Berdikari. 
Tapi Berdikari juga tidak terlalu fokus. Di samping memiliki peternakan seluas 
6.000 ha di Sidrap, Sulsel, PT Berdikari juga mengurus bisnis asuransi, pupuk, 
dan bahkan meubel. 


Dengan hasil kunjungan Presiden ke NT itu mau tidak mau PT Berdikari harus 
lebih fokus. Urus peternakan saja, tapi habis-habisan. Bidang usaha asuransi, 
pupuk, dan meubelnya harus dilepas ke BUMN lain. 


Sebaliknya, PTPN 14 juga harus fokus ke perkebunan dengan cara menyerahkan 
peternakan di savanna Kabaru, Sumba ini ke PT Berdikari.


Saat saya tiba di savanna Kabaru hari sudah malam. Sudah pukul 20.00. Mestinya 
sudah gelap. Tapi langit Sumba sangat terangnya: rembulan nisfu sya’ban mejeng 
dengan menornya.


Musim dingin di Australia membuat Sumba kebagian pula sejuknya. Sebuah purnama 
di padang savanna yang sangat sempurna. Sebuah malam yang tidak mungkin didapat 
di Jakarta. 


Malam itu, di gazebo yang diterangi api unggun dan bulan purnama, masa depan 
padang penggembalaan itu dibicarakan.


Di situ ada Dirut PTPN 14 Budi Purnomo, Dirut PT Berdikari Librato El Arif, dan 
Dirut PTPN 12 Singgih Irwan Basri. Ada juga Pak Wayan manajer peternakan yang 
sudah tinggal di situ sejak 30 tahun yang lalu. Pak Wayanlah saksi hidup 
pembangunan, kejayaan, dan kemerosotan peternakan BUMN ini. 


Sementara rapat sedang berlangsung, di dapur rumah Pak Wayan puluhan ibu sedang 
memasak: ayam goreng kampung, telur tanpa kimia, daun pepaya, dan sambal terasi.


Rapat pun diskors ketika aroma ayam goreng dan sambal terasi terbawa angin 
sepoi savanna ke gazebo. Makan malam pun berlangsung di bawah langit malam yang 
terang disaksikan bulan purnama yang sangat ceria! 


Menjelang tengah malam, kesimpulan pun disepakati: peternakan ini harus berjaya 
kembali. Tentu di bawah manajemen PT Berdikari. 


Bahkan seperti yang ditekadkan oleh manajemen PTPN 3, peternakan-peternakan di 
seluruh perkebunan sawit pun akan diserahkan pengelolaannya ke PT Berdikari. 
Dengan demikian program Sa-Sa (Sapi-Sawit) juga akan mendapatkan manajemen yang 
tepat.


Yang masih memerlukan kajian lebih lanjut adalah: perlukah peternakan ini 
dikombinasikan dengan tanaman sorgum. Perlukah mengadopsi sistem kombinasi 
antara peternakan lepas dan peternakan kandang.


Perlukah membangun rumah potong hewan di situ, agar tidak mengalami keruwetan 
pengiriman sapi lewat laut ke Jawa. 


Memang aneh, di pusat peternakan sapi seperti Sumba belum ada industri 
pemotongan hewan.


Ketika masih jaya-jayanya pun, untuk menjualnya, sapi hasil Kabaru ini harus 
digiring ke pelabuhan Waingapu yang berjarak hampir 100 km jauhnya.


Rombongan sapi itu digiring melalui savanna selama tiga hari tiga malam (malam 
hari sapi ditidurkan di perjalanan). “Saya sering ikut menggiring dengan cara 
naik kuda,” kata Pak Wayan.


Susutnya berat sapi dalam proses pengiriman ke Jawa ini tentu tidak akan 
terjadi kalau ada pemotongan hewan di Sumba.


Proses pengiriman dagingnya pun juga bisa lebih sederhana. Di masa lalu mungkin 
tidak gampang mencari ahli pemotongan dan sumber listrik untuk cold 
storage-nya. Namun dengan adanya kemajuan pembangunan belakangan ini mestinya 
berbagai hambatan itu tidak seberat dulu. 


Kini, dengan pengelolaan seadanya pun, masih terdapat 3.700 sapi di Kabaru. 
Jumlah ini sebenarnya perkiraan saja. Menghitung sapi yang dilepas liar di 
padang yang begitu luas tentu tidaklah mudah. Setiap periode semua sapi memang 
dikumpulkan di satu kawasan untuk dihitung ulang.


Tapi sapi yang terus bergerak sulit dihitung. Pernah suatu saat dipakai cara 
ini: sapi yang sudah dihitung dipotong buntutnya. Agar ketahuan mana yang sudah 
dihitung dan mana yang belum. Tapi cara ini menyiksa. Bahkan banyak juga sapi 
yang sembunyi di gulma-gulma liar yang sulit dimasuki kuda.


Kelak, cara yang lebih modern harus dilakukan. Misalnya di setiap telinga sapi 
dipasangi chip yang bisa dimotitor di komputer. Ini sekaligus untuk mengetahui 
adakah sapi yang dicuri dan apakah ada yang disate di savanna itu sendiri.


Yang juga harus dilakukan adalah mendatangkan pejantan murni. Impor pejantan 
kelihatannya harus dilakukan secara rutin.


Yang terjadi selama ini, sapi-sapi di savanna tersebut sudah saling kawin 
silang. Bisa jadi pejantan yang ada sudah mengawini ibunya atau neneknya 
sendiri. Inilah yang menyebabkan sapinya kian mengecil sehingga kurang 
menguntungkan. 


Ini berbeda dengan masa jaya dulu. Di samping didatangkan sapi khusus pejantan, 
dilakukan pula gerakan pengebirian massal.


Setiap lahir sapi jantan, langsung dikebiri. Memang kasihan sapi jantan di situ 
yang tidak pernah bisa menikmati kejantanannya, namun itulah cara untuk 
menghindari perkawinan inces yang hanya akan memerosotkan kualitas ternak.


Kekurangan 350.000 ekor sapi setiap tahun bukanlah perkara yang mudah 
mengatasinya. Satu padang penggembalaan yang begitu luas di Kabaru pun hanya 
bisa menghasilkan 5.000an sapi per tahun.


Kalau pun nanti dikombinasikan dengan sistem kandang, paling hanya bisa 
meningkat menjadi 10.000 ekor. Betapa banyak peternakan yang masih harus 
dibangun. 


Tapi bukankah untuk mencapai seribu langkah tetap saja harus ada ayunan pertama?


(*) Menteri Negara BUMN



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke