Memahami Faktor Pencetus Inflasi Indonesia
Penulis : Anastasia Joice

KOMPAS.com - Di setiap awal bulan, berbagai data fundamental ekonomi domestik 
mulai dirilis oleh pemerintah. Baik itu data inflasi, ekspor, impor serta 
neraca perdagangan Indonesia. Salah satu data penting yang kerap menjadi 
perhatian adalah data inflasi.

Inflasi menurut ilmu ekonomi sederhananya adalah peristiwa di mana terjadi 
peningkatan harga barang-barang secara umum & terus menerus dalam suatu periode 
/kontinyu berkaitan dengn mekanisme pasar. Hal ini terkait dengan hukum 
permintaan dan persediaan dari suatu barang atau jasa tertentu. Sedangkan jika 
yang terjadi sebaliknya, maka kondisi itu disebut deflasi.

Untuk konteks Indonesia, inflasi lebih sering terjadi. Berbeda misalnya dengan 
Jepang yang lebih cenderung terus menerus mengalami deflasi dalam jangka 
panjang. Mengapa di Indonesia lebih sering terjadi inflasi?

Pada dasarnya secara umum inflasi disebabkan oleh dua faktor yaitu karena yang 
dikenal dengan istilah demand pull inflation & cost push inflation. Demand pull 
inflation atau inflasi karena naiknya permintaan, lebih banyak terjadi pada 
saat-saat tertentu.

Datangnya tahun ajaran baru misalnya, akan menaikkan permintaan pemenuhan 
kebutuhan biaya dan perlengkapan sekolah. Peristiwa lainnya adalah menjelang 
datangnya bulan Ramadhan atau bulan puasa sampai dengan Hari Raya Idul Fitri. 
Kebutuhan masyarakat cenderung meningkat sehingga secara otomatis akan 
menggerek kenaikan permintaan. Mulai dari makanan, pakaian bahkan juga 
kendaraan akan bergerak naik. Implikasinya, pada momen tersebut biasanya 
inflasi di di dalam negeri akan meningkat.

Selanjutnya adalah memasuki bulan Desember, saat Natal dan Tahun Baru. 
Kebutuhan biasanya ikut meningkat seiring perayaan Natal dan liburan tahun baru 
yang mendorong peak season tidak hanya di Indonesia tetapi juga di seluruh 
dunia.

Untuk menggambarkan penyebab terjadinya cost push inflation atau inflasi yang 
disebabkan oleh kenaikan biaya, contoh yang paling populer adalah kenaikan 
harga bahan bakar minyak. Jika harga BBM naik berarti ongkos produksi 
meningkat. Maka produsen yang tidak ingin kehilangan profit akan membebankan 
kenaikan biaya tersebut pada harga jualnya. Akibatnya, harga barang-barang 
secara bersama-sama akan naik sehingga terjadi inflasi.

Lebih spesifik untuk Indonesia, komponen inflasi di dalam negeri terdiri dari 
volatile foods (komponen harga bergejolak), administered price (komponen harga 
yang diatur pemerintah), core inflation (komponen inti) dan imported inflation 
(inflasi karena naiknya harga barang impor).

Apa sajakah yang memengaruhinya?
Yang tergolong dalam volatile foods adalah harga-harga barang yang tercermin 
dari Indeks Harga Konsumen (IHK). Saat ini, indeks ini meliputi 7 (tujuh) 
kategori yang terdiri dari (1) Bahan makanan (2) Makanan jadi, minuman, rokok 
dan tembakau ; (3) Perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar; (4) Sandang; 
(5) Kesehatan; (6) Pendidikan, rekreasi dan olah raga serta terakhir (7) 
Transport dan komunikasi dan jasa keuangan.

Berarti jika ada kenaikan harga dari ketujuh kategori di atas, maka komponen 
volatile foods akan bergerak naik dan mendorong laju inflasi domestik. Khusus 
kenaikan harga bahan makanan, dikenal juga dengan istilah Agflasi atau 
agriculture inflation yaitu inflasi yang disebabkan oleh kenaikan harga-harga 
produk pertanian.

Adapun untuk sisi administered price terdapat beberapa contoh yang terjadi di 
Indonesia. Misalnya kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Oleh 
karena itu, biasanya jika pemerintah berencana menaikkan harga BBM bersubsidi, 
maka akan berpotensi menggerek inflasi di dalam negeri. Namun selama ini, 
kenaikan inflasi akibat BBM biasanya cenderung berangsur turun karena 
masyarakat sudah mulai menyesuaikan kebutuhannya dan beradaptasi dengan 
kenaikan BBM itu sendiri. Maka inflasi di bulan-bulan berikutnya cenderung akan 
lebih rendah dibanding pada bulan pertama dan kedua penerapan harga BBM yang 
baru. Selain itu juga, kebijakan pemerintah untuk menaikkan tarif dasar 
listrik, kenaikan tarif tol dan lainnya akan mendorong terjadinya inflasi.

Selanjutnya, core inflation merupakan underlying inflation yang cenderung 
menetap dalam setiap pergerakan laju inflasi. Dibandingkan dengan komponen 
inflasi lainnya, inflasi ini cenderung dapat dipengaruhi atau dikendalikan oleh 
bank sentral atau BI karena umumnya bersifat demand pull inflation. Maksudnya 
jika inflasi inti cenderung naik, maka kenaikan suku bunga acuan dapat 
menurunkan daya beli sehingga secara keseluruhan inflasi akan mereda.

Terakhir adalah imported inflation. Semakin banyaknya kebutuhan masyarakat yang 
dipenuhi dari barang impor cenderung membuat komponen imported inflation kian 
berpengaruh dalam laju inflasi. Cara cepat untuk menangani inflasi jenis ini 
adalah dengan kebijakan stabilitas nilai tukar rupiah. Jika rupiah menguat, 
maka imported inflation bisa ditekan seperti yang terjadi di pertengahan tahun 
2011 lalu. Namun sebaliknya, jika rupiah cenderung terdepresiasi maka inflasi 
barang impor berpotensi meningkat.

Satu hal lagi yang menjadi faktor pencetus tingginya inflasi domestik adalah 
kondisi geologis Indonesia sebagai negara kepulauan. Dibandingkan negara lain 
di kawasan Asia misalnya, inflasi Indonesia cenderung tinggi. Diperlukan 
tambahan ongkos transportasi antar pulau yang biasanya akan menaikkan harga 
jual barang-barang. Akan tetapi, sebenarnya kondisi perekonomian dengan inflasi 
jauh lebih baik dibanding jika mengalami deflasi.

Mengapa demikian? Karena inflasi terutama yang disebabkan oleh demand pull 
inflation menunjukkan tingginya permintaan yang akan mendorong pertumbuhan 
ekonomi secara keseluruhan. Oleh karenanya, di setiap negara umumnya memiliki 
target inflasi yang dianggap nyaman.

Saat ini, BI mentargetkan inflasi Indonesia 2012 di kisaran 4,5 persen plus 
minus satu . Artinya jika inflasi bergerak di level 3,5 – 5,5 persen kondisi 
tersebut masih terhitung nyaman untuk perekonomian Indonesia. Jadi tidak perlu 
takut dengan inflasi selama masih dalam koridor aman seperti yang terjadi 
sekarang ini di mana inflasi Indonesia Mei 2012 dibandingkan dengan Mei 2011 
sebesar 4,45 persen. (Nurul Eti Nurbaeti, Head of Research Divisi Tresuri Bank 
BNI)
*Tulisan ini merupakan pendapat pribadi


Editor :
Erlangga Djumena


http://www.suarapembaruan.com/home/indonesia-masih-membutuhkan-4-juta-enterpreneur/22124
Indonesia Masih Membutuhkan 4 Juta Enterpreneur
Senin, 9 Juli 2012 | 15:15

Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta. [Antara]
[JAKARTA] Indonesia baru memiliki 0,18 persen enterpreneur atau sekitar 400.000 
enterpreneur dari total seluruh penduduk. Idealnya diperlukan 4,4 juta 
enterpreneur, sehingga masih diperlukan 4 juta lagi enterprenuer jika ingin 
menjadi bangsa yang sejahtera.

Setiap negara setidaknya memiliki 2 persen enterpreneurship dari total seluruh 
penduduknya jika ingin sejahtera. Sehingga bisa menciptakan lapangan pekerjaan 
dan meningkatkan jumlah pendapatan perkapita.

Demi mendorong hadirnya enterpreneur dibidang teknologi dan inovasi atau 
technopreneurship, Kementerian Riset dan Teknologi (Kemristek) mengelar 
Technopreneurship Boot Camp (pelatih)kepada 70 orang pemuda dan mahasiswa dari 
18 provinsi di Indonesia.

Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta mengatakan para pemuda perlu 
dibina untuk menjadi enterpreneur terlebih lagi menjadi technopreneur.

Technopreneurship tahun 2012 adalah boot camp (pelatihan) kedua setelah 
sebelumnya acara pelatihan serupa dilakukan tahun 2011. Peserta pelatihan kali 
ini merupakan hasil seleksi dari 333 proposal pengaju. Selama 10 hari ke depan 
peserta dilatih berbagai kegiatan teori dan praktik di Pusat Penelitian Ilmu 
Pengetahuan dan Teknologi (Puspitek) Serpong.

"Menurut data statistik, negara kita sedang memiliki usia produktif yang 
tinggi. Jika tidak dimanfaatkan akan rugi. Pemuda-pemuda ini bagus untuk 
dikembangkan, kalau tidak kita hanya menjadi konsumen teknologi atau bergantung 
pada negara lain," katanya di sela pembukaan Technopreneurship Boot Camp 2012 
di Jakarta, Senin (9/7).

Dalam pelatihan ini, Kemristek juga bekerja sama dengan Universitas Ciputra 
Entrepreneurship Center (UCEC)yang banyak memiliki pengalaman dalam pelaksanaan 
training enterpreneurship di Indonesia.

Pendiri UCEC Ciputra mengungkapkan Indonesia membutuhkan orang-orang kelas 
dunia. Oleh karena itu, technopreneur dibutuhkan. Para enterprenuer berbasis 
teknologi ini bukanlah orang-orang peniru konsep orang lain, tetapi harus 
menemukan temuannya sendiri (inovator).

"Indonesia akan berhasil jika banyak orang-orang yang memiliki jiwa 
enterpreneur tidak hanya technopreneur, tapi juga artenterpreneur, 
tradenterpreneur dan preneur-preneur profesional lainnnya," ungkapnya.

Ia berharap Indonesia bisa mengejar pendapatan perkapita menjadi US$ 
10.000/tahun dari US$ 3.600/tahun saat ini. Sebab menurutnya, Singapura sudah 
memiliki pendapatan perkapita US$ 45.000/tahun, Korea US$ 20.000/tahun dan 
Jepang US$ 45.000/tahun. [R-15]

Kirim email ke