Kamis, 12 Juli 2012 | 07:46 WIB
Ini Rahasia Kemenangan Jokowi
TEMPO.CO, Jakarta - Kemenangan pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama 
dalam Pemilihan Gubernur DKI Jakarta, Rabu 11 Juli 2012 kemarin, 
memutarbalikkan prediksi semua lembaga survei. Sebelumnya, empat lembaga 
survei--Indo Barometer, Sugeng Sarjadi School of Government, Lingkaran Survei 
Indonesia, serta Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis 
(Puskaptis)--menyatakan pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli bakal menang mudah. 
Kubu ini bahkan sesumbar bakal menang pemilihan dalam satu putaran saja.

Nyatanya, semua hasil hitung cepat (quick count) yang dirilis Rabu 11 Juli 2012 
kemarin menunjukkan angka berbeda. Justru pasangan Jokowi-Ahok, yang diusung 
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Gerakan Indonesia Raya 
(Gerindra), yang unggul sementara. Menurut hitung cepat Indo Barometer, 
misalnya, Jokowi-Basuki meraih 42,24 persen suara, jauh di atas Fauzi-Nachrowi 
yang hanya meraup 33,77 persen suara.

Pengamat kebijakan publik Universitas Indonesia, Andrinof A. Chaniago, yang 
juga menjadi konsultan politik untuk Jokowi, menilai kemenangan jagonya itu 
ditentukan pada sepekan terakhir menjelang hari pencoblosan. "Saya kira 
kampanye kubu Foke pada H-7 terlalu ofensif dan banyak melakukan serangan 
agresif, sehingga terkesan tidak etis dan kontraproduktif," katanya. Model 
kampanye macam itu, kata Andrinof, akhirnya menjadi senjata makan tuan.

Pada saat yang sama, Jokowi berhasil mencitrakan diri sebagai alternatif 
terbaik untuk menggantikan incumbent. "Sosok Jokowi dinilai lebih menjanjikan 
untuk membawa perubahan di Ibu Kota," kata sosiolog Universitas Indonesia, Imam 
B. Prasodjo. Warga Jakarta terutama mengenal Jokowi berkat prestasinya yang 
menonjol sebagai Wali Kota Solo. "Jokowi dikenal dengan mobil Esemka, 
pembelaannya terhadap pedagang kaki lima dan melindungi pasar tradisional, 
bahkan pernah berantem dengan Gubernur Jawa Tengah karena menentang pembangunan 
mal," kata Imam lagi.

Penilaian itu dibenarkan oleh peneliti Lembaga Survei Indonesia, Burhanudin 
Muhtadi. Semua citra baik itu, kata dia, disokong pula oleh pemberitaan positif 
di media massa dan media sosial. "Jokowi itu memang media darling (kesayangan 
media)," katanya.

Selain itu, faktor penting lain yang tak kalah menentukan adalah kinerja mesin 
partai. Peneliti LSI lainnya, Saiful Mujani, melihat dukungan Partai Demokrat 
dalam kampanye Fauzi kurang maksimal. "Sementara mesin PDIP dan Gerindra solid 
di belakang Jokowi."

RINA WIDIASTUTI | AFRILIA SURYANIS | ANANDA PUTRI



Kamis, 12 Juli 2012 | 07:25 WIB
Hadapi Foke, Jokowi Galang Koalisi di Putaran 2 

TEMPO.CO, Jakarta - Calon Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, yang memenangi 
putaran pertama pemilihan gubernur versi hitung cepat, merancang koalisi untuk 
menghadapi Fauzi Bowo pada putaran kedua nanti. ”Kami akan membentuk desain 
khusus koalisi," kata Jokowi, Rabu, 11 Juli 2012.

Jokowi tak memerinci soal rancangannya itu. Tapi dia memastikan akan melibatkan 
calon gubernur lain yang tersisih. “Malam ini (tadi malam), akan saya dolani 
semua,” kata dia.

Seorang calon gubernur, yakni Hidayat Nur Wahid, sudah langsung ia kunjungi 
saat penghitungan suara masih berjalan kemarin. “Secara logika, calon gubernur 
lain otomatis pasti ingin melihat Jakarta yang baru," kata Basuki Tjahaja, 
wakil Jokowi.

Meski belum bersedia mengungkap peluang koalisi, Hidayat berjanji membantu. 
"Kami akan saling bela kalau baju batik dan baju kotak-kotak diintimidasi," 
katanya.

Dalam hitung cepat beberapa lembaga survei, pasangan Jokowi-Basuki mengungguli 
lima pasangan lain. Lingkaran Survei Indonesia mencatat Jokowi-Basuki meraup 
suara 43,07 persen, sedangkan Fauzi Bowo-Nachrowi meraih 34,08 persen. Indo 
Barometer mencatat suara Jokowi-Basuki 42,24 persen dan Fauzi-Nachrowi 33,77 
persen. Komisi Pemilihan Umum baru akan mengumumkan hasil resmi sembilan hari 
mendatang.

Fauzi Bowo, yang mengaku terkejut dengan hasil hitung cepat itu,
menyatakan siap bertanding di putaran kedua, 20 September 2012 nanti. "Mari 
kita bertarung di putaran kedua," kata Fauzi.

Sejumlah analis mengungkap kunci keberhasilan Jokowi menjungkirbalikkan hasil 
survei yang selama ini menempatkan Fauzi di posisi teratas. "Ada manuver 
positif Jokowi, yaitu social imagery yang merakyat, sering turun ke masyarakat, 
sehingga dia lebih dipercaya dibanding calon lain," kata Direktur Citra 
Komunikasi Lingkaran Survei Indonesia Toto Izul Fatah.

Peneliti Lembaga Survei Indonesia, Burhanudin Muhtadi, menunjuk media memiliki 
andil. "Jokowi itu media darling," ujarnya.

ANANDA W. TERESIA | ADITYA BUDIMAN | ANANDA PUTRI | AMANDRA MUSTIKA | ATMI 
PERTIWI | WURAGIL




Pilkada DKI 
Rakyat Ingin Pemimpin Bebas Korupsi
Penulis : Nina Susilo | Kamis, 12 Juli 2012 | 07:13 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com- Figur Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama unggul dalam 
berbagai hitung cepat yang dilakukan beberapa lembaga survei. Keunggulan 
Jokowi-Ahok ini menunjukkan keinginan rakyat akan pemimpin bebas korupsi.

"Kemenangan Jokowi akan merembet ke daerah-daerah, rakyat menunjukkan 
keinginannya atas pemimpin yang bebas korupsi," kata Martin Hutabarat, anggota 
Fraksi Partai Gerindra, menanggapi hasil Pilkada DKI, Rabu kemarin.

Jokowi selama ini dikenal warga Solo sebagai tokoh yang merakyat dan tidak 
sombong. Selain itu, dia mampu merangkul dengan tulus para calon yang tidak 
lolos.

Menurut sejumlah lembaga survei dalam hitung cepat Pilkada DKI kemarin, 
pasangan calon Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama mendapat suara sekitar 42 
persen dan pasangan Fauzi Bowo-Nachrawi Ramli sekitar 33 persen. 

Editor :
Marcus Suprihadi


Pilkada DKI 
Jakarta Pluralis dan Toleran 
Penulis : Nina Susilo | Kamis, 12 Juli 2012 | 06:23 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Hasil Pilkada DKI Jakarta yang memungkinkan calon 
gubernur dan wagub dari luar Jakarta menunjukkan bahwa warga Jakarta sangat 
pluralis. Ini sekaligus membantah isu sektarian yang kerap mengancam Jakarta.

"Hasil pilkada ini menunjukkan peta politik di Jakarta sangat cair," kata 
Koordinator Nasional Komite Pemilih Indonesia Jeirry Sumampow, menanggapi hasil 
Pilkada DKI, Rabu (11/7/2012) kemarin.

Dalam survei-survei, lanjutnya, ditunjukkan bahwa angka masyarakat yang belum 
menentukan pilihan selalu tinggi. Pemilih yang belum menentukan pilihan ini 
yang mengubah kenyataan bahwa Fauzi Bowo selalu unggul di survei, tetapi 
tergeser Jokowi dalam pilkada dengan selisih sekitar 10 persen.

Hasil pilkada ini juga menunjukkan bahwa masyarakat DKI sangat pluralis. 
Pilihan tidak didasarkan pada isu yang sektarian, tetapi lebih pada kapasitas 
figur.

Padahal, selama ini isu toleransi kerap dianggap masalah berat di DKI. 
Ketokohan figur juga lebih efektif memengaruhi pemilih kendati politik uang 
terjadi. Bahkan, partai terlihat tidak begitu menentukan.

Di sisi lain, dari partisipasi masyarakat yang diperkirakan berkisar 65 persen, 
Jeirry mengatakan, masyarakat harus diapresiasi. Setidaknya, partisipasi 
masyarakat DKI tidak turun dari pemilu dan pilkada lalu. 

Editor :
Marcus Suprihadi


20 September, Pemungutan Suara Putaran Kedua
Kamis, 12 Juli 2012 | 05:58 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Pemilihan gubernur DKI Jakarta harus memasuki tahapan 
putaran kedua setelah tidak ada satu pun calon yang meraih suara 50 persen plus 
satu. Adalah pasangan Jokowi-Ahok dan Foke-Nachrowi Ramli yang nantinya akan 
bertarung di putaran kedua.

Berdasarkan jadwal yang diterima dari KPUD DKI Jakarta, putaran kedua pemilihan 
gubernur akan berlangsung pada tanggal 20 September 2012. Tentunya, dalam 
tahapan sebelum pemungutan suara tahap kedua akan diagendakan pula kampanye 
dari dua pasangan kandidat kepala daerah.

Untuk kampanye, KPUD DKI Jakarta telah menetapkan jadwal pada tanggal 14 
September 2012 hingga 16 September 2012. Adapun masa tenang adalah tanggal 17 
September 2012 sampai 19 September 2012.

Sementara itu, pengumuman resmi penetapan gubernur DKI Jakarta terpilih 
dilakukan tanggal 3 Oktober 2012.

Berikut ini jadwal lengkap tahapan pemilihan gubernur DKI Jakarta tahap kedua:

13 September 2012: Pendistribusian perlengkapan pilkada hingga ke KPPS.

14 September-16 September 2012: Masa kampanye putaran kedua.

17 September-19 September 2012: Masa tenang.

20 September 2012: Pemungutan suara tahap kedua.

3 Oktober 2012: Penetapan dalam rapat pleno KPUD DKI Jakarta tentang pasangan 
calon terpilih.

11 Oktober 2012-30 Oktober 2012: Penyelesaian perselisihan hasil melalui 
Mahkamah Konstitusi (MK).

31 Oktober 2012-2 November 2012: KPU provinsi menyampaikan putusan MK dan 
penetapan pasangan calon terpilih kepada DPRD provinsi.


Sumber :
Tribunnews.com
Editor :
Aloysius Gonsaga Angi Ebo

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke