Selasa, 17 Juli 2012 | 08:40 WIB
MUI Cianjur: 1 Ramadan Tidak Serentak

TEMPO.CO, Cianjur - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Cianjur memastikan 
jika penentuan tanggal 1 Ramadan atau hari pertama puasa tidak akan serentak. 
Hal ini karena adanya perbedaan penafsiran dan pandangan terhadap cara 
perhitungan antara hisab dan rukyat. 

"Kami pastikan tidak akan serentak, karena sejak dulu memang ada dua 
perhitungan yang dipercaya untuk penentuan 1 Ramadan dan 1 Syawal. Namun, MUI 
dan Kementerian Agama telah sepakat penentuan ini berdasarkan perhitungan 
rukyat atau saat hilal terlihat di akhir bulan Syaban," ujar Sekretaris MUI 
Kabupaten Cianjur, Ahmad Yani, di Cianjur.

Yani menegaskan, MUI dan Kementerian Agama tidak akan mempersoalkan dan memaksa 
suatu kelompok untuk sama dan sepemahaman mengenai perhitungan ini, karena 
semuanya berdasarkan kepercayaan masing-masing. 

"Tim MUI dan Kementerian Agama telah sepakat untuk penentuan 1 Ramadan 
berdasarkan penglihatan rukyat atau usai melihat hilal pada 29 Syaban 1433 
Hijriyah tepat pukul 11.21 WIB," ujarnya.

Untuk penentuan tersebut, tim MUI dan Kementerian Agama akan melihat secara 
langsung adanya hilal yang dilokasikan untuk wilayah Cianjur dan Sukabumi, 
berpusat di Pelabuhan Ratu, Sukabumi. Semuanya serentak akan dilakukan di 70 
titik se-Indonesia. 

Jika hilal terlihat pada hari Kamis, dipastikan puasa Ramadan akan digelar 
mulai 21 Juli 2012 dan salat tarawih berlangsung 20 Juli 2012. "Jika hilal 
tidak terlihat pada Kamis tersebut, maka akan dipastikan puasa Ramadan akan 
dibulatkan usai tanggal 30 Syaban 1733 Hijriyah, katanya. 

Hasil dari penentuan ini, menurut Yani, nantinya akan dilaporkan pada sidang 
isbat semua departemen untuk menentukan dan diumumkan secara nasional. 
Perbedaan tersebut, lanjutnya, tidak akan mengurangi substansial Ramadan 
sebagai bulan penuh berkah dan ampunan.

Sementara itu, melihat perbedaan mazhab perhitungan tersebut, Sekretaris Komisi 
IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Cianjur, Mohamad Toha, 
mengungkapkan persoalan ini memang tidak akan pernah selesai di Indonesia. 
Sebab, perbedaan penafsiran dan pandangan masing-masing kelompok sangat kuat. 
Namun, mekanisme negara untuk menentukan 1 Ramadan dan 1 Syawal sudah tepat 
dengan adanya sidang isbat, duduk bersama untuk menentukannya.

"Meskipun akhirnya akan tetap berbeda juga, mudah-mudahan para pemimpin Ormas 
dapat menyamakan rumusan tentang penentuan tanggal dan tahun hijriyah, karena 
ini penting untuk kebersamaan umat," ujar dia.

Menurut Toha, di era yang serba modern dan kecanggihan teknologi, sebenarnya 
tidak perlu melihat perhitungan dengan mata kepala sendiri hingga larut malam. 
"Ini menarik saat sidang isbat selalu dilaksanakan, namun perbedaan akan selalu 
terjadi," ujarnya.

DEDEN ABDUL AZIZ



Selasa, 17 Juli 2012 | 05:27 WIB
NU Yakin Awal Puasa Hari Sabtu
TEMPO.CO, Surabaya--Koordinator Tim Rukyatul Hilal (melihat hilal) Pengurus 
Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur, KH Sholeh Hayat, meyakini awal puasa 
Ramadan 1433 H jatuh pada Sabtu, 21 Juli. "Dari hasil kajian pada 21 kitab 
rujukan, 16 kitab berkesimpulan puasa pada Sabtu," kata dia kepada Tempo, Senin 
16 Juli 2012.

Menurut dia, mayoritas rujukan memprediksi hilal di bawah 2 derajat sehingga 
hampir bisa dipastikan hilal pada Kamis, 19 Juli, tidak akan terlihat. Artinya, 
bulan Sya''ban wajib digenapkan menjadi 30 hari dan tanggal 1 Ramadan jatuh 
pada Sabtu, 21 Juli. Hilal atau bulan baru adalah bulan sabit yang tampak 
bersamaan dengan matahari terbenam. 

Berbeda dengan NU, Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, Nadjib 
Hamid, memastikan awal Ramadan jatuh pada Jumat, 20 Juli mendatang. PWM Jawa 
Timur meyakini hilal pada 19 Juli bakal tampak di ketinggian 1 derajat lebih 44 
menit hingga 2 derajat lebih 8 menit. "Artinya, hilal sudah wujud, dan kami 
puasa tanggal 20 Juli," kata Nadjib.

Sementara itu, Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Direktorat 
Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama, Ahmad Jauhari, menilai 
perbedaan penentuan awal puasa adalah wajar. Ia juga membantah tudingan bahwa 
sidang Isbat yang akan dilakukan 19 Juli mendatang tidak demokratis. “Memang 
tidak mungkin menunggu suara bulat karena keputusan harus diambil saat itu 
juga," ujarnya. 

FATKHURROHMAN TAUFIQ | GADI MAKITAN 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke