http://www.suarapembaruan.com/home/sengketa-laut-china-selatan-sby-kecewa-asean-dianggap-pecah/22323

Sengketa Laut China Selatan, SBY Kecewa ASEAN Dianggap Pecah
Senin, 16 Juli 2012 | 15:02

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) [Antara]



[JAKARTA] Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengungkapkan rasa kecewa dan 
prihatinnya atas pertemuan para Menteri Luar Negeri se-ASEAN yang berlangsung 
di Phnom Penh, Kamboja pada 8-13 Juli lalu. Pasalnya, pada pertemuan yang 
membahas sengketa Laut Cina Selatan, para delegasi tersebut tidak menghasilkan 
komunike bersama. Padahal, biasanya dalam pertemuan seperti ini pasti selalu 
ditemukan jalan keluar. 

“Terus terang sebagai salah satu pemimpin negara, saya kecewa dan prihatin. 
Seban yang baru saja terjadi pada pertemuan ini bisa menimbulkan persepsi atau 
gambaran yang keliru tentang ASEAN. Media internasional katakan ASEAN pecah, 
tak ada unity pada ASEAN. Saya tidak setuju, ASEAN tidak pecah, tidak ada 
disunity di ASEAN meski ada isu, masalah yang harus ASEAN selesaikan,” ujar 
Presiden SBY dalam keterangan pers di Kantor Presiden, Senin (16/7). 

Dikatakannya usai menerima laporan resmi mengenai situasi pertemuan dari 
Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa, Senin pagi, hal seperti belum 
ditemukannya kesepakatan dalam menghadapi masalah belum pernah terjadi semenjak 
ASEAN berdiri. 

Oleh karena itu, dia mengaku, kejadian ini tentunya menarik perhatian banyak 
kalangan, baik di lingkungan ASEAN sendiri maupun komunitas internasional. 
Padahal, serumit apapun masalah, selalu ada titik temu, selalu ada konsensus 
dan itulah tradisi dan budaya politik ASEAN yang dijalankan selama ini atau 
yang dikenal dengan ASEAN way. ASEAN way sendiri sudah berhasil menyelesaikan 
isu Myanmar dan konflik perbatasan Thailand-Kamboja.

Untuk diketahui, isu sengketa di Laut Cina Selatan yang melibatkan RRT dan 
sejumlah negara ASEAN memang telah mengemuka sejak Indonesia menjadi Ketua 
ASEAN tahun lalu. Insiden terakhir terjadi antara RRT dengan Filipina. Presiden 
SBY berharap masalah ini dapat dikelola dengan baik, dengan perspektif yang 
jernih, dan dengan tujuan menjaga stabilitas di kawasan. 

”Indonesia berpendapat, saya berpendapat, seraya saya tetap percaya kepada 
Perdana Menteri Kamboja Hun Sen sebagai Ketua ASEAN untuk bisa mengelola 
permasalahan ini dengan baik. Karena pertemuan di Phnom Penh kemarin gagal 
untuk mengeluarkan komunike, kiranya bisa dilakukan konsultasi, komunikasi, dan 
lobi di antara para menteri luar negeri ASEAN,” harap SBY.

Indonesia, tambah SBY memiliki sikap yang jelas dalam melihat isu Laut Cina 
Selatan. Di mana, dalam konteks ini, Indonesia menginginkan kawasan yang damai, 
tertib dan aman. Selain itu, dalam konteks ini tidak perlu menyalahkan 
Tiongkok, namun bagaimana masalah ini bisa dikelola dengan perspektif yang 
jernih. Apalagi, empat bulan lagi akan ada pertemuan tingkat puncak yang mana 
bukan hanya dihadiri oleh 10 kepala pemerintahan, namun lebih dari itu yang 
pastinya akan mengangkat isu Laut Cina Selatan. 

Untuk itu, Presiden SBY pun segera meminta Marty Natalegawa untuk kembali 
berkomunikasi dengan koleganya di ASEAN dalam semangat ASEAN. SBY berharap 
akhirnya akan tercipta suatu posisi bersama ASEAN menyangkut isu Laut Cina 
Selatan. [O-2]


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke