Jokowi-Basuki Figur yang Merangkul Semua Golongan
Penulis : Kurnia Sari Aziza | Jumat, 20 Juli 2012 | 06:32 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Politisi Partai Amanat Nasional, Bima Arya Sugiharto, 
menuturkan, salah satu kunci kemenangan pasangan calon Jokowi-Basuki pada 
putaran pertama Pilkada DKI Jakarta 2012 adalah karakter ketokohan yang cukup 
kuat.

"Sentimen kepartaian hancur pada Pilkada DKI Jakarta kali ini karena pasangan 
Jokowi-Basuki menampilkan figur yang terlihat mampu merangkul berbagai kalangan 
dan golongan," kata Bima Arya dalam diskusi "Masihkah Layak Lembaga Survei 
Dipercaya?" di Jakarta Media Center, Jakarta, Kamis (19/7/2012).

Dalam menghadapi putaran kedua, menurut Bima, kedua pasang calon harus lebih 
fokus pada ide dan gagasan ketimbang pencitraan. Ia pun menyetujui apabila 
Jakarta dianggap sebagai barometer politik nasional.

Bima melanjutkan, fenomena adanya swing voters atau pemilih yang ketika 
dilakukan survei belum menetapkan pilihan sampai hari H pencoblosan mengerahkan 
suara mereka kepada pasangan calon Jokowi-Basuki.

"Para swing voters ini memiliki kecenderungan bergerak ke arah Jokowi-Basuki," 
ujarnya.

Hal tersebut, menurut Bima, juga dikarenakan oleh faktor figur dan karakter 
yang dimiliki oleh pasangan calon besutan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan 
tersebut.

"Karena figur dan karakter Jokowi maupun Basuki yang menawarkan ide perubahan. 
Selain itu, visi dan misi Jokowi-Basuki juga berhasil disosialisasikan media 
secara baik," katanya.

Hari Kamis (19/7/2012), Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jakarta telah menetapkan 
pasangan nomor urut tiga Joko Widodo-Basuki Tjahaja sebagai pemenang Pilkada 
DKI Jakarta 2012 putaran pertama.

Pasangan Jokowi-Basuki memperoleh suara tertinggi di antara lima calon lainnya. 
Berdasarkan penghitungan suara keseluruhan, pasangan Jokowi-Ahok meraup suara 
sebanyak 1.847.157 atau sebesar 42,60 persen. 

Editor :
Benny N Joewono


http://www.suarapembaruan.com/home/diserang-sms-gelap-mengandung-sara-jokowi-tak-pedulikan/22424
Diserang SMS Gelap Mengandung SARA, Jokowi Tak Pedulikan
Kamis, 19 Juli 2012 | 14:25

Jokowi [google][JAKARTA] Sekretaris tim kampanye pasangan calon Gubernur dan 
Wakil Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo-Basuki Tjahaja, M Sanusi mengatakan 
kandidatnya tidak peduli dengan beredarnya pesan singkat atau SMS gelap 
memasuki pilkada putaran kedua.

"Saya sudah sampaikan kepada Mas Jokowi mengenai maraknya SMS gelap yang 
mengandung SARA. Tapi Mas Jokowi mengatakan biarkan saja," ujar M Sanusi di 
Jakarta, Kamis.

Ketua Fraksi Gerindra di DPRD Jakarta itu menambahkan pesan singkat gelap yang 
memojokkan kandidatnya beserta kampanye hitam, justru akan menjadi bumerang 
bagi kandidat yang melakukan hal itu.

"Dengan banyaknya kampanye hitam itu, justru akan menurunkan citra dari orang 
yang melakukan itu," ujarnya.

SMS gelap memang beredar, termasuk yang sampai di redaksi SP. Isinya mengenai 
kubu Jokowi-Ahok yang disebut-sebut akan didanai yayasan sebuah agama yang ada 
di luar negeri yang bermaksud memberikan donasi jutaan dolar, asalkan jika 
menang menjadi gubernur DKI akan mendirikan rumah-rumah ibadah dari agama 
tertentu. Disinggung mengenai strategi untuk memasuki putaran kedua ini, Sanusi 
mengatakan pihaknya akan melakukan konsolidasi partai pendukung yakni PDI 
Perjuangan dan Gerindra, kemudian konsolidasi partai dengan sayapnya dan tim 
kampanye mengakomodasi seluruh relawan yang ada dan juga relawan yang baru.

"Jokowi dan Ahok itu nantinya hanya jalan-jalan saja nantinya," tambah dia.

Dia mengaku strategi pada putaran kedua itu tak berbeda dengan strategi putaran 
pertama.

Pada putaran pertama, Sanusi mengaku banyak orang datang ke markas tim sukses 
untuk bertemu dengan Jokowi dan Ahok.

"Mereka ingin tahu seperti apa sebenarnya Jokowi dan Ahok itu," kata Sanusi.

Sedangkan untuk persoalan koalisi, Sanusi mengatakan pihaknya sepakat 
komunikasi dijalankan oleh kandidat sedangkan yang menentukan nantinya adalah 
parpol.

"Setelah rapat rekapitulasi penghitungan suara ini baru akan dilakukan koalisi. 
Sekali lagi kami tekankan, kami tidak akan mencederai kepercayaan masyarakat 
kepada Mas Jokowi dan Ahok dengan menjadikan mereka sebagai sapi perah. Kami 
setuju akan berkoalisi sepanjang tujuannya untuk membuat Jakarta itu lebih baik 
lagi," ujar dia mengakhiri. [Ant/L-9] 



Jum''at, 20 Juli 2012 | 08:07 WIB
Transjakarta Ideal Versi Ahok 
TEMPO.CO, Jakarta - Transjakarta menjadi sarana transportasi alternatif bagi 
warga Ibu Kota. Namun, tak jarang warga mengutarakan keluhannya soal 
Transjakarta. Mulai dari waktu tunggu yang terlalu lama, sampai kelebihan 
muatan. 

Calon Wakil Gubernur DKI, Basuki Tjahaja Purnama, memiliki trik agar 
Transjakarta bisa memberikan layanan maksimal bagi warga Ibu Kota. Pertama, 
menurut Ahok, jumlah armada Transjakarta yang dioperasikan terlalu sedikit. 

“Bus hanya tersedia 520 unit, padahal idealnya setiap koridor ada 120-150 
unit,” kata Ahok ketika mengunjungi kantor Tempo di Velbak, Jakarta, kemarin. 
Alasan minimnya jumlah armada pun klasik, yaitu masalah dana. 

Dana, kata Ahok, seharusnya tidak menjadi hambatan untuk menyediakan lebih 
banyak armada. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta bisa 
dimanfaatkan. Namun, jika APBD tak bisa menjadi jawaban atas masalah dana, maka 
sektor swasta bisa dilibatkan untuk menjawab masalah penyediaan armada 
Transjakarta. 

“Selama ini pemerintah daerah enggan melibatkan sektor swasta karena takut 
tidak bisa dikendalikan. Keterlibatan swasta dengan konsorsium bisa jalan 
dengan perjanjian yang jelas,” katanya. 

Ahok juga sempat menawarkan salah satu solusi untuk menjawab masalah anggaran. 
Di Jakarta, beberapa perusahaan seringkali memasang billboard untuk iklan. 
Menurut Ahok, “bayaran” sewa billboard tersebut digunakan untuk membeli satu 
unit bus transjakarta. 

“Nanti bus-nya diberi cap perusahaan yang memasang iklan tersebut. Saya rasa 
orang Jakarta tidak akan keberatan,” katanya. Solusi ini, menurut Ahok, bisa 
menarik masyarakat untuk menggunakan Transjakarta. Minimnya jumlah armada 
membuat satu armada Transjakarta yang seharusnya dipenuhi 85 orang akhirnya 
disesaki oleh 125 orang. 

Pengawasan terhadap awak Transjakarta yang “nakal” juga bisa dilakukan dengan 
sistem kontrol berbasis Global Positioning System (GPS). Dengan GPS ini, bisa 
diawasi pukul berapa satu unit bus berangkat, kecepatan bus, kilometer bus, 
apakah disengaja atau memang karena macet bahkan pengemudi bisa langsung 
diingatkan jika dirasa terlalu cepat mengemudi. “Sistem GPS ini murah. 
Mahasiswa di beberapa universitas sudah pernah mengembangkannya,” katanya. 

Jika masalah armada serta “terhambatnya” traffic armada bisa diatasi, Ahok 
yakin masyarakat akan berpaling ke bus Transjakarta. “Mereka membawa mobil 
macet, melihat Transjakarta sudah renggang, nah mereka pasti pindah. Hukum 
pasar nantinya akan berlaku,” katanya. Dengan sistem tersebut, konsep 
Transjakarta di mana armada lewat setiap tiga sampai lima menit pun bisa 
terealisasi. 

Untuk menarik kalangan menengah-atas, jika nanti terpilih, Ahok berencana untuk 
menyediakan sebuah “paket hemat.” “Mereka bayar Rp 300 ribu per bulan, itu 
sudah termasuk bus Transjakarta dengan feeder-nya,” katanya. 

ANANDA W. TERESIA 



Golput Masih Merajai Pilkada DKI Jakarta
Penulis : Riana Afifah | Jumat, 20 Juli 2012 | 05:53 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Meski pasangan Jokowi-Ahok telah resmi ditetapkan sebagai 
pemenang Pilkada DKI Jakarta 2012 pada putaran pertama, perolehan suaranya 
masih jauh tertinggal dengan angka warga Jakarta yang golput.

Dari hasil rekapitulasi penghitungan suara pada tingkat provinsi, jumlah warga 
Jakarta yang tercantum dalam daftar pemilih tetap (DPT), tetapi tidak 
menggunakan hak pilihnya, tercatat sebanyak 2.555.207 pemilih.

Sementara itu, perolehan suara Jokowi-Ahok yang merupakan pemenang hanya 
mencapai angka 1.847.157. Data di lima wilayah juga tidak jauh berbeda.

Untuk Jakarta Pusat, jumlah warga yang masuk dalam DPT, tetapi tidak 
menggunakan hak pilihnya, tercatat 300.582 pemilih. Adapun perolehan suara 
pemenang di wilayah ini adalah Jokowi-Ahok, tetapi hanya menyentuh angka 
193.446 pemilih.

Untuk Jakarta Selatan, jumlah warga dalam DPT yang memilih tidak menggunakan 
haknya terdata sebanyak 564.010 pemilih. Pasangan Jokowi-Ahok yang unggul di 
wilayah ini cukup memperoleh suara dari 357.172 pemilih.

Selanjutnya di Jakarta Timur, selisih golput dengan perolehan suara pemenang 
juga tampak mencolok. Jumlah warga yang masuk dalam DPT tetapi tidak memakai 
hak pilihnya sebanyak 721.499 pemilih. Adapun perolehan suara Jokowi-Ahok ada 
pada angka 502.616 pemilih.

Kemudian di Jakarta Barat, pasangan Jokowi-Ahok yang menang dengan perolehan 
suara sebesar 467.081 pemilih tetap tertinggal dengan jumlah warga dalam DPT 
yang tidak menyoblos pada 11 Juli lalu. Sebanyak 503.797 warga Jakarta Barat 
memilih untuk tidak menggunakan hak pilihnya.

Terakhir di Jakarta Utara, jumlah warga yang tidak memilih, tetapi masuk dalam 
DPT, tercatat sebanyak 461.518 pemilih. Perolehan suara Jokowi-Ahok yang berada 
di puncak untuk wilayah ini hanya meraup sebesar 325.569 pemilih.

Yang mengejutkan di Kepulauan Seribu, pasangan Foke-Nara yang menang dengan 
perolehan suara 6.916 berhasil menyaingi suara warga yang tidak digunakan, 
yaitu sebesar 3.801 pemilih. 

Editor :
Benny N Joewono

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke