Program padat karya serap 11.264 naker Minggu, 22 Juli 2012 21:44 WIB | 1563 Views
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar (ANTARA) Jakarta (ANTARA News) - Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi melalui program padat karya menargetkan penyerapan tenaga kerja sebanyak 11.264 orang pada 2012. Pelaksanaan program padat karya ini bertujuan menyerap pengangguran di pedesaan, meningkatkan daya beli dan membantu pertumbuhan ekonomi pedesaan di Indonesia, kata Menakertrans Muhaimin Iskandar dalam keterangan pers Pusat Humas Kemnakertrans di Jakarta, Minggu. Sasaran utama dari Program padat karya itu adalah kawasan pedesaan yang tersebar di seluruh Indonesia yang memiliki tingkat pengangguran yang cukup tinggi. Program padat karya terbagi menjadi dua kegiatan yaitu padat karya produktif dengan target penyerapan 8.184 orang dan padat karya infrastruktur dengan target sebanyak 3.080 orang. Menakertrans menyebut dengan adanya program padat karya itu maka akan tercipta pekerjaan sementara yang dapat menambah penghasilan masyarakat sekaligus terbangunnya sarana, prasarana dan usaha produktif masyarakat pedesaan Pada dasarnya pemerintah hanya membantu memfasilitasi pelaksanaan padat karya ini. Semua berdasarkan usulan dan pertimbangan masyarakat setempat dengan memperhatikan potensi sumber daya alam yang tersedia, kata Muhaimin. Muhaimin mengatakan program padat karya itu berorientasi pada prinsip "Dari, oleh dan untuk Masyarakat," dengan mengutamakan semangat gotong royong dan rasa solidaritas dari masyarakat di pedesaan yang berada di wilayah kabupaten/kota dan provinsi di Indonesia. Program padat karya infrastruktur akan difokuskan pada pembuatan dan rehabilitasi fisik seperti pembangunan dan pengerasan jalan di desa, pembangunan jembatan dan saluran air di pedesaan. Sedangkan padat karya produktif lebih diutamakan pada pemberdayaan usaha seperti budidaya ikan, ternak sapi, kambing dan ayam dan kerajinan tangan anyaman. Dalam pelaksanaannya, program padat karya itu didampingi oleh petugas lapangan padat karya (PLPK) yang bertugas merencanakan, mengkoordinasikan dan mengawasi. Muhaimin berharap pelaksanaan program padat karya ini dapat mengurangi angka pengangguran di pedesaan dan memperluasan kesempatan kerja baru sehingga mampu menambah lapangan kerja bagi tenaga kerja baru. Saat ini menurut data BPS, tingkat pengangguran terbuka di Indonesia pada Februari 2012 mencapai 6,32 persen atau 7,61 juta orang. Sedangkan Menakertrans Muhaimin menargetkan pada tahun 2014 terjadi penurunan angka pengangguran menjadi 5,1 persen. Muhaimin optimis target ini bakal tercapai dengan menggalakkan program aksi gerakan penanggulangan pengangguran (GPP) di berbagai daerah di Indonesia. (A043/C/Z003) Pengamat sarankan pemerintah fokus bina petani singkong Kamis, 19 Juli 2012 22:24 WIB | 1511 Views Ilustrasi - Petani singkong sedang panen. (FOTO ANTARA/Iggoy el Fitra) Jakarta (ANTARA News) - Pengamat ekonomi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Agus Eko Nugroho mengatakan, pemerintah sebaiknya memfokuskan pembinaan petani singkong untuk menopang pasokan ke industri hilir dan menjaga persaingan dengan komoditi impor. "Peran pemerintah di sini mengembangkan potensi domestik ketika investasi dan bisnis asing masuk," kata Agus saat dihubungi di Jakarta, Kamis. Ia menyarankan beberapa hal yang bisa dilakukan pemerintah, dalam hal ini Kementerian Perindustrian, salah satunya adalah membantu pembiayaan produksi petani dan koperasi agar bisa membeli barang dan jasa. "Pembiayaan itu untuk menggunakan teknik dan metode produksi berbasis singkong terbaru beriringan dengan masuknya investasi," katanya. Agus mengatakan, bantuan pembiayaan untuk petani juga bisa diaplikasikan pada program-program sosial yang menyasar masyarakat kecil seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR). Ia tidak meragukan daya saing ekspor produk domestik berbasis singkong ke berbagai negara sasaran ekspor walaupun dampak krisis global harus diwaspadai. "Beberapa negara seperti India dan Brazil bisa menjadi sasaran ekspor produk industri berbasis singkong," katanya Selain meningkatkan daya saing produk, dia juga menyarankan pemerintah untuk menjembatani pengusaha kecil dan petani singkong dengan disributor dan penjual. "Perlu adanya kesepahaman antara pengusaha besar dan petani kecil dalam berproduksi singkong, yang sebenarnya itu bisa diatur oleh pemerintah," katanya. Pemerintah juga jangan melupakan untuk menyampaikan proyeksi persaingan ekonomi industri kecil dan menengah singkong terkait krisis global kepada para pelaku usaha domestik yang bergantung pada pasokan singkong dari petani, katanya. (Z002) [Non-text portions of this message have been removed]
