Jum''at, 03 Agustus 2012 | 08:25 WIB
Riset Hanya Jadi Pembenar Keputusan Politik 
TEMPO.CO , Jakarta - Kegiatan riset ilmiah di Indonesia masih dianggap sebagai 
alat pembenar keputusan politik yang diambil penguasa. Hal ini terbukti dari 
banyaknya gugatan masyarakat terhadap kebijakan yang diambil oleh pemerintah 
yang sebagian besar tidak memiliki basis riset yang kuat. "Ini mirip dengan 
yang terjadi di era Orde Baru, yakni ketika kebijakan politik tak tak bisa 
dikritisi," kata Yogi Vidyattama, peneliti senior dari Universitas Canberra, 
Australia, dalam diskusi Forum Indonesia yang digelar di kampus tersebut, 
Selasa 31 Juli 2012.

Menurut Yogi, meskipun rezim berganti, tidak otomatis ada reformasi dalam 
pengambilan kebijakan publik. Saat ini, pertimbangan politik menjadi dasar 
untuk pengambilan keputusan yang berdampak besar kepada publik. Padahal, hasil 
riset dapat digunakan sebagai pembentuk opini publik untuk menghasilkan 
kebijakan baru yang bermanfaat.

Yogi memberikan contoh di banyak negara, kebijakan mengenai perubahan iklim 
pada awalnya tak didukung oleh banyak pemerintah karena tak popular dan 
menghambat laju ekonomi negara. Namun ketika opini masyarakat terbentuk melalui 
publikasi hasil riset independen di media, banyak negara yang kemudian 
mengeluarkan kebijakan mengenai pengaturan emisi karbon.

Menurut Adi Budiarso, mahasiswa doktoral University of Canberra yang sedang 
melakukan penelitian tentang pengambilan kebijakan, kebijakan publik yang 
berbasis riset akan lebih baik dalam membantu memecahkan masalah karena 
dilakukan berdasarkan fakta dan lebih bersifat strategis. “Kebijakan publik 
yang berbasis dari hasil riset para peneliti akan lebih memuaskan banyak pihak 
sehingga sebuah kebijakan itu tidak gampang untuk diganggu gugat karena melalui 
sebuah proses metode ilmiah,” ujarnya.

Diskusi Forum Indonesia merupakan kegiatan bulanan yang berlangsung di Canberra 
dan dipelopori sejumlah mahasiswa Tanah Air yang sedang menempuh pendidikan 
lanjutan di kota itu. Adapun tema yang dibahas merupakan topik-topik hangat 
yang sedang dibicarakan di Indonesia. “Kami berusaha memberi solusi untuk 
Indonesia yang lebih baik,” kata Ketua Forum Indonesia, Ratih Maria Dhewi, 
mahasiswa program Phd University of Canberra yang meneliti seluk beluk sumber 
daya manusia Indonesia dalam rilis yang diterima Tempo.

ADEK MEDIA

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke