Peran dan keterlibatan Aulia Pohandlm mata rantai kasus Bank Century mulai dari 
pemberian fasilitas GSM kepada Bank CIC.


Untuk membongkar kasus bank Century secara tuntas mau tidak mau 
investigasi harus dimulai dari tahun 2000 ketika masih bernama Bank CIC.

1. BANK CIC ikut serta dalam program GSM-102 pada tahun 2000 dan 2001 
dengan jumlah fasilitas yang diterima sebesar  US$ 953.9 juta diberikan oleh 
Commodity Credit Corp melalui USDA. Dana tersebut diterima dari 
tiga bank, yakni SCB US$ 191.4 juta, Bank Denver US$ 616 juta, dan 
Deutsche Bank US$ 146.5 juta

2. Alokasi yang diberikan untuk 
Indonesia secara total adalah US$ 1,2 milyar, dimulai sejak bulan 
Oktober 1999 dengan plafon awal US$ 400 juta. Ada 14 bank lokal termasuk
 bank BUMN yang ditunjuk oleh BI sebagai bank pelaksana. Adalah suatu 
keanehan bahwa dari plafon yang diberikan kepada Indonesia sebesar US$ 
1,2 milyar, Bank CIC mendapatkan alokasi sebesar US$ 950juta atau hampir
 85% dari keseluruhan fasilitas.

3. Bank CIC ketika itu adalah 
bank kecil yang baru mendapat izin sebagai bank devisa, tidak mempunyai 
track record sebagai international banking maupun trade financing tapi 
diberi rekomendasi oleh BI untuk mendapatkan plafon sampai US$ 950jt. 
Fasilitas GSM-102 ini berjangka waktu 3 tahun (secara blanket). Ini 
bukan berarti bahwa fasilitas yang diberikan kepada importir juga 3 
tahun. Fasilitas yang diberikan kepada importir tentunya mengikuti 
jangka waktu LC sebagai underlying transaction dan sifatnya self 
liquidating. Artinya pada saat importir melunasi financing import 
tersebut, maka bank pelaksana harus melakukan pembayaran kepada bank 
pemberi kredit. Hal inilah yang tidak dilakukan oleh Bank CIC sehingga 
dapat memanfaatkan fasilitas GSM-102 sebagai suatu pembiayaan tetap 
berjangka waktu 3 tahun, dalam US$ dengan bunga rendah (karena 80% 
risiko kredit ditanggung oleh CCC).

4. Jadi dapat kita 
bayangkan dalam  periode pasca krismon 98  sebagian besar bank lokal 
masih kesulitan likwiditas, kemudian problem BLBI ϑαn dilanjutkan dengan
  Rekapitalisasi Perbankan.

5. Industri perbankan semakin 
terpuruk dg Langkanya Sumber dana pihak ketiga mengakibatkan pinjaman 
interbank lokal  sampai mencapai 90% per tahun.

6. Kondisi 
semakin memburuk sampai  LC  yg diterbitkan oleh bank di Indonesia harus
 di konfirmasi oleh bank asing untuk dapat di negosiasikan di LN.

7. Dalam kondisi pasar γαnϛ demikian, tiba2 muncul  sebuah bank kecil 
bernama CIC Bank menikmati likuiditas murah untuk jangka waktu 3 tahun. 
Sebanyak hampir US$ 1 milyar atau eqivalent Rp.12 T dengan kurs pada 
waktu itu.

8.Dalam sekejap CIC dikenal sebagai bank yang 
bisnisnya terfokus pada trade financing. Aset dan kewajiban bank  ini 
juga meningkat pesat. Jika pada September ,2000 kewajiban CIC masih 
sekitar Rp 4,4 triliun,  per September 2001  melonjak dua kali lipat 
menjadi Rp 9,2 triliun.

9. Ironisnya, rasio kecukupan modal 
(CAR)   menurun dari 10,83 persen pada September 2000  menjadi 4,87 
persen per September 2001.

10.Berbekal likuiditas dari 
fasilitas GSM 102 yang diputar dulu CIC Bank membeli instrumen pasar 
uang valuta asing melalui Chinkara Capital yang juga adalah pemegang 
saham, CIC berspekulasi dalam membeli instrumen derivative semacam 
Credit Linked Notes dan instrument lain yang terdapat spread antara 
harga beli dengan face value.

11.Investasi antara lain membeli 
US Treasury Strips sebesar US$ 177 juta berjangka waktu 10 tahun dan 
tidak berbunga. (catatan: US Treasury Strips adalah instrumen yang 
diterbitkan oleh Bank Sentral Amerika berupa Bonds berjangka waktu 10 
tahun dimana coupon pembayaran bunga setiap 6 bulan telah dipisahkan 
(strip) dan dijadikan instrumen bond tersendiri. Dengan demikian US 
Treasury strip Bond hanya terdiri dari prinsipalnya saja atau sama 
dengan zero coupon bond). Alias tidak menghasilkan pendapatan bunga 
karena sudah ditarik didepan.

12.Investasi lainnya adalah dalam
 instrument Credit Linked Notes CLN yang dibeli sebesar USD 225 juta 
berkaitan dengan pinjaman pemerintah Indonesia yang akan jatuh tempo 
pada akhir 2005. Instrumen ini dikenal dengan CLN/ROI 2005.

13.Berkaitan dengan dugaan penyelewengan atas pengelolaan fasilitas 
GSM-102 tsb,  BI menerjunkan tim pemeriksa untuk melakukan pemeriksaan 
di CIC pada bulan July- Nov 2001.

14.Laporan hasil pemeriksaan 
BI yang dilakukan pada bulan Juli-Nov 2001 sesungguhnya memberikan 
gambaran kondisi bank yang lebih realistis dengan berbagai macam 
pelanggaran perihal ketentuan CAR, NPL, Legal Lending Limit.

15.Kondisi CIC ketika itu dapat dikatakan "setengah hidup", hampir 70% sumber 
dana berasal dari GSM-102

16.Hasil pemeriksaan BI tersebut ditindak lanjuti dengan surat BI 
tertanggal 22 Juli 2002 berupa teguran. Sebab management dan pemegang 
saham tidak menanggapi temuan dari hasil pemeriksaan BI November 2001 
dengan suatu action plan yang dapat memperbaiki kondisi bank.

17.Kenapa investasi di US Treasury STRIPS?  Patut diduga bahwa coupon 
bunga untuk jangka waktu 10 thn  yang sudah menjadi menjadi obligasi 
baru τεlαħ ditarik tunai didepan Walaupun dalam pembukuan tercatat 
sebesar US$ 177juta namun dana yg dikeluarkan tidak sebesar itu karena 
dikurangi pendapatan   bunga selama 10 thn γαnϛ ditarik di muka.

18.Demikian juga untuk instrument CLN ROI sebesar $225juta. Menurut 
sang empunya bank, ini atas perintah Aulia Pohan Dir BI. Barangkali pada
 awalnya instrumen ini cukup menjanjikan akan membawa untung, karena 
sebagai pejabat BI tentunya paling mengetahui apakah pinjaman pemerintah
 γαnϛ akan jatuh tempo 2005 dibayar atau tidak. Yang jelas instrumen 
derivative ini dijual oleh pasar dengan tingkat discount γαnϛ tinggi 
karena country risk Indonesia masih tinggi.

19. Jumlah dana 
γαnϛ keluar untuk membeli instrumen CLN/ROI tidaklah $225jt walaupun 
dalam pembukuan tertera senilai face value. Dengan asumsi harga dibawah 
par 20% saja maka pemilik CIC sudah bisa mengantongi $20- $50jt atas 
transaksi ini.

20.Inilah γαnϛ di issuekan sєв̍αϛαί instrumen 
bodong padahal  sebetulnya merupakan  Jumlah discount γαnϛ dinikmati 
atas pembelian derivative CLN.

21. Menjelang jatuh tempo 
CLN/ROI di thn 2004- 2005 dunia di kejutkan dengan meroketnya harga 
minyak  tidak  αϑα satu pakar pun termasuk direksi BI γαnϛ dapat 
memprediksi bahwa di thn 2005 harga minyak mencapai $100 per barrel. 
Akibatnya pemerintah RI default terhadap pinjamannya, sehingga harga 
instrumen derivative CLN/ROI 2005 terjun bebas. Disinilah kelanjutan 
dari malapetaka CIC bank γαnϛ melibatkan pejabat BI. Bemula dr niat 
memutarkan dana murah GSM 102 sebesar $900jt dengan mengharapkan 
keuntungan besar, malah mengakibatkan lobang besar dlm struktur keuangan
 CIC. Hal tsb γαnϛ memantik diadakan pemeriksaan BI pada akhir thn 2001,
 γαnϛ memberikan gambaran kondisi CIC γαnϛ sesungguhnya.

22. 
Sebenarnya Kejaksaan Tinggi Jakarta pernah menggelar perkara CIC di 
tahun 2002, sejumlah pejabat BI τεlαħ dipanggil al AP, AT termasuk 
dirjen lembaga keuangan ketika itu Darmin Nasution. Akan tetapi kasus 
tsb seakan raib ditelan bumi tidak terdengar kelanjutannya.

23. Proses merger CIC, Pikko, Danpac menjadi Bank Century  αϑαlαħ salah satu 
upaya untuk menutupi lobang tsb.
BI ϑαn Bapepam pun menutup mata atas berbagai macam pelanggaran rambu2 
aturan dalam proses merger tsb. Utamanya  αϑαlαħ membiarkan nilai Asset 
CIC sebagai bank penerima penggabungan seperti apa adanya (book value), 
tanpa dilakukan proses revaluasi atau mark to market atas instrument 
surat berharga pasar uang γαnϛ nyata2 τεlαħ berkurang nilainya.

24. Fasilitas GSM 102 γαnϛ diberikan kepada CIC sesungguhnya telah 
jatuh tempo pada thn 2002 dαn 2003. Dαn belum dapat dikembalikan oleh 
CIC, olh karena sebagian besar dana masih nyangkut di Surat Berharga. 
USDA dαn Commodity Credit Corporation sebagai penjamin fasilitas GSM  
kemudian melakukan blacklist thd Indonesia dαn segala fasilitas 
penjaminan credit γαnϛ berkaitan dengan import commodity dibekukan untuk
 sementara waktu.

Jika kita urut dαrί awal terlihat dengan 
jelas kejanggalan2 γαnϛ patut dipertanyakan dαn kental oleh keterlibatan
 BI maupun oknum BI.

- pemberian rekomendasi kpd CIC untuk 
mendapatkan fasilitas GSM102 kpd USDA sebesar $950juta atau 85% dαrί 
total alokasi γαnϛ diberikan USDA kepada Republik Indonesia. Padahal 
banyak bank2 γαnϛ lebih qualified untuk menjalankan program tsb γαnϛ 
mempunyai track record dalam trade financing.

- BI membiarkan 
CIC beroperasi sejak thn 2000 dengan struktur assets γαnϛ tidak wajar, 
diluar kelaziman sebuah bank komersi. Laporan keuangan dengan jelas  
menggambarkan bahwa 70% dαrί assets tertanam di Surat Berharga Valuta 
Asing. Sudah hampir pasti melanggar ketentuan rambu2 kontrol seperti 
batasan Net Open Positon.

- Keterlibatan pejabat BI, Aulia Pohan γαnϛ merekomendasikan investasi dalam 
CLN ROI 2005 sebanyak $225jt.

- BI membiarkan proses merger γαnϛ melanggar berbagai macam ketentuan, γαnϛ 
telah di laporkan dalam audit BPK.

- BI membiarkan Bank Century hasil merger melakukan berbagai macam 
acrobat keuangan, antara lain,BC menjaminkan penempatan dana valuta 
asing pada bank koresponden sebanyak equivalen Rp.2T untuk dijaminkan 
dlm rangka memberikan fasilitas back to back credit kepada nasabah 
terkait group. Dimana pada akhirnya dana penempatan tsb di eksekusi oleh
 bank koresponden, sebagai offset thd pemberian kredit tsb.

Jadi kalau kita pilah2 timeline mulai thn 2000 sampai merger 2005 
kemudian dαrί 2005 sampai 2008 , dilanjutkan 2008 sampai 2010, maka 
agendanya macam2. Tapi kalau penegak hukum termasuk KPK bilang tidak 
dapat menemukan unsur pidana, ya agak aneh. 

(by Bambang Soesatyo, Anggota Timwas Century DPR)

berita terkait :

http://jaringanantikorupsi.blogspot.com/2012/08/medianusantara-17-kejanggalan-bailout.html

http://jaringanantikorupsi.blogspot.com/2012/08/medianusantara-wawancara-antasari-azhar.html

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke