Mendagri: Kasus Sampang Bukan Masalah Agama Selasa, 28 Agustus 2012 | 05:52 WIB KOMPAS/RIZA FATHONIMenteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi
SURABAYA, KOMPAS.com — Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi menyatakan bahwa kerusuhan di Sampang, Madura, bukan masalah agama, melainkan masalah kriminal murni. "Kejadian di Sampang merupakan kriminal murni dan konflik keluarga yang berkembang di masyarakat, bukan masalah Syiah maupun anti-Syiah," ujarnya kepada wartawan seusai menggelar rapat koordinasi tertutup di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Senin (27/8/2012) malam. Ia menjelaskan, kasus ini berawal dari permasalahan keluarga sejak 2004 hingga sekarang, yaitu antara Tajul Muluk dan Rois yang mempunyai masalah pribadi dan tersebar di masyarakat luas. "Kebetulan keduanya berbeda aliran, satu Syiah dan satunya Sunni. Mereka juga memiliki anak buah banyak. Dari sinilah persoalannya, bahwa masalah awal bukan masalah agama, tapi pribadi yang dimiliki oleh kedua orang tersebut," tuturnya. Mengantisipasi kasus ini, pihaknya menyerahkan sepenuhnya kepada pihak Polri untuk segera menangkap para tersangka di Sampang. "Pasti polisi akan bersikap profesional menangani masalah ini. Serahkan semuanya ke kepolisian," papar mantan Gubernur Sumatera Barat tersebut. Terkait pengungsi Syiah, Gamawan Fauzi mengungkapkan akan ditangani Pemerintah Provinsi Jatim dan dibantu pemerintah pusat, mulai dari tempat tinggal hingga para anak-anak pengungsi, serta hak mendapatkan pendidikan layak. Sementara itu, pertemuan digelar secara tertutup antara Gubernur Jatim beserta Forpimda dengan Gamawan Fauzi, Menteri Hukum dan HAM Amir Syamsudin, Menteri Agama Suryadharma Ali, Kepala BIN Letjen Marciano, Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, dan Kapolri Jenderal Polisi Timur Pradopo. Pertemuan berlangsung sekitar dua jam dan tertutup bagi wartawan. Hadir juga dalam pertemuan tersebut Kapoda Jatim Irjen Hadiatmoko, Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Murdjito, Ketua DPRD Jatim Imam Sunardhi, beserta pejabat berwenang lainnya. Seperti diberitakan, peristiwa penyerangan kelompok minoritas Islam Syiah di Desa Karang Gayam, Sampang, terjadi pada Minggu (26/8/2012) sekitar pukul 11.00 WIB. Kasus penyerangan kelompok Islam Syiah di Dusun Nanggernang itu kali ini merupakan kali kedua dalam dua tahun terakhir ini. Polri Dianggap Lalai pada Kasus Sampang Senin, 27 Agustus 2012 | 15:16 Seorang warga tampak membakar kediaman kelompok Muslim Syiah di Sampang [antara][JAKARTA] Peristiwa kekerasan di Sampang, Madura, Jawa Timur disesalkan banyak pihak yang kembali tejadi untuk kedua kalinya. Komisi III Bidang Hukum DPR pun berencana untuk turun ke lokasi kejadian di Sampang guna mendapatkan data akurat terkait aksi kekerasan yang menewaskan 2 orang anggota kelompok Syiah tersebut. Ketua Komisi Hukum Dewan Perwakilan Rakyat Gede Pasek Suardika mengatakan kekerasan yang terulang terhadap kelompok minoritas Syiah Sampang merupakan kelalaian kepolisian. Hal itu menyebabkan terjadinya penyerangan, pembunuhan, hingga pembakaran pemukiman Syiah di Sampang. “Kami sangat sesalkan. Kami anggap ini kecolongan dari aparat keamanan. Kepolisian tidak bisa deteksi lebih awal. Mestinya, intelejen kepolisian bisa deteksi dari awal karena bukan kejadian yang baru meledak," ujarnya di Jakarta, Senin (27/8). Desember 2011 lalu, kerusuhan sejenis pernah terjadi di lokasi yang sama. Saat itu, warga setempat datang menyerang permukiman, musala, dan asrama milik kelompok Syiah Sampang. Pasca-rusuh Sampang, Desember 2011 itu, Komisi Hukum sudah datang ke Sampang. Hasilnya, Mabes Polri meluncurkan program satu polisi satu desa untuk melaporkan perkembangan di setiap desa. Munculnya kembali kasus Sampang, kata Pasek, merupakan bukti program satu polisi satu desa itu tidak berjalan. Pasek mengkhawatirkan jatuhnya korban jiwa dalam kekerasan Sampang dapat mempersulit masyarakat setempat untuk memulihkan diri dan berperilaku harmonis ke depannya. Komisi III pun bertekad untuk mengetahui siapa orak di balik aksi penyerangan Sampang itu. "Kita cari tahu. Kalau memang aparat lalai, maka kami akan lakukan upaya penanganan dan perbaikan secara sungguh-sungguh. Kalau sampai nyawa melayang, artinya aparat terasa tidak hadir di tengah masyarakat. Polisi wajib melindungi rakyat. Deteksi dini sangat penting sebagai aspek pencegahan," jelasnya. [H-15] Polisi Perketat Penjagaan Dua Polsek di Sampang Penulis : Kontributor Pamekasan, Taufiqurrahman | Selasa, 28 Agustus 2012 | 02:44 WIB KOMPAS.com/TAUFIQURRAHMAN Polda Jawa Timur mendirikan dua posko keamanan di Sampang, untuk mengantisipasi terjadinya bentrok susulan antara warga Syiah dengan warga kontra Syiah. SAMPANG, KOMPAS.com — Penangkapan delapan orang pengikut Syiah asal Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang, oleh pihak kepolisian Senin (27/8/2012), berdampak pada memanasnya kembali situasi di lokasi peristiwa pembakaran oleh warga yang mengaku pengikut Sunni, Ahad lalu. Sempat beredar isu bahwa lebih dari 200 pengikut Syiah yang masih belum dievakuasi dan berada di persembunyian akan melakukan penyerangan dan pembakaran kantor Polsek Karang Penang dan Polsek Omben. Isu itu kemudian membuat pihak keamanan semakin memperketat penjagaan di posko keamanan dan di dua kantor Polsek tersebut. Kapolri Jenderal (Pol) Timur Pradopo saat berkunjung ke lokasi kejadian bersama Menteri Agama Suryadharma Ali, Senin sore, menjelaskan, untuk mencegah adanya kerusuhan susulan, 33 SSK Brimob Polda Jawa Timur bersama jajaran kepolisian di Madura beserta anggota TNI sudah disiagakan penuh di sejumlah titik. "Kami akan melakukan tindakan tegas kepada siapa pun pelakunya. Sebab, perbuatan mereka sudah pelanggaran pidana murni. Termasuk jika delapan orang yang sudah diperiksa bisa mengarah kepada tersangka," tegasnya. Sementara delapan orang yang sudah diperiksa di Mapolres Sampang yaitu Hadari, Husen, Mat Safi, H Malik, Saniwan, Bunedi, Hakki, dan Mukhlis yang kini sudah masuk dalam daftar pencarian orang. Editor : Eko Hendrawan Sofyan [Non-text portions of this message have been removed]
