To:

[email protected], [email protected], [email protected],
[email protected],

[email protected], [email protected],
[email protected], [email protected], [email protected],
[email protected], [email protected],



*LEADERSHIP62* <[email protected]>, [email protected]
, [email protected], [email protected],
[email protected], [email protected],
[email protected],  *[email protected]*,
[email protected], *Persaudaraan **<*
[email protected]>,



[email protected], [email protected],
[email protected],  [email protected],
[email protected],  [email protected],
[email protected] ,[email protected],
[email protected],   [email protected],



[email protected],
[email protected],
[email protected], [email protected],
[email protected], [email protected],  *
[email protected]*,    [email protected],
[email protected],  *IES* <
[email protected]>



*UNPAR* <[email protected]>,
[email protected], [email protected],
[email protected], [email protected],
[email protected], ,  [email protected],
[email protected], Hhutauruk,, Liza, Sisca, Basuki Tjahaja Purnama  <
[email protected]>,

* *

* *

22 Agustus 2012

*Solusi Labilitas Lahan Hambalang Sport Center ~ penawaran konsep*



*Salam…*

*Mungkin karena aktivitas yang sangat padat, Elsha belakangan sempat kurang
fit. Beberapa hari, terutama  karena suster cuti lebaran, kami menemani
apoh membantu okung di kota Bogor.Hari ini setelah cukup istirahat, keadaan
Elsha sudah kembali pulih. *

*Walau sedikit terlambat, saya bersama keluarga, yang juga ikut mewakili
umat beragama secara umum serta umat Kristiani khususnya, mengucapkan salam
berbahagia pada Hari Raya Lebaran 1433 Hijriah. Dalam suasana kemenangan
atas nafsu dosa di hari yang fitri, mari kita saling memaafkan serta saling
membangun demi kebaikan bersama. Amin. *

*Terima kasih kepada bapak Presiden SBY,  karena menyambut peringatan
proklamasi kemerdekaan, seperrti kesempatan yang  kami dapatkan selama 7
tahun ini,  keluarga kami  kembali berkesempatan mengikuti upacara bendera
di istana negara. Upacara kenegaraan yang kami ikuti di sore hari ini,
terasa lebih nyaman bagi ke2 putri kami karena lebih singkat dan teduh.
Saat penurunan bendera, sambil menggendong Elsha dan Dona, saya dan bu
Ansye  memberi hormat bendera sambil menyenandungkan Indonesia Raya dengan
rasa bangga. Sementara para pengunjung terkesan lemas menjelang saat
berbuka puasa, nyanyian serta sikap hormat kami seakan menghadirkan
semangat baru kepada rekan undangan di dekat kami. Lebih dari itu, selain
Elsha yang amat bangga dengan sikap ‘holmat bendela’ sambil menyanyi
’Indonesia Laya’, kepada segenap saudara-saudarku yang bernaung di bawah
kibaran Sang Merah Putih, saya ucapkan salam Dirgahayu Kejayaan  Indonesia
yang ke 67: “Sekali Merdeka: Tetap Merdeka!”*

    **

*1. Tayangan Dua Kasus Proyek Tertunda dari Metro TV*

Awal Juni lalu, kebetulan saya menyaksikan paket Metro TV yang
mengungkapkan 2 proyek yang mengalami masalah teknis sehingga pekerjaannya
ditunda.

Pada sesi pertama, disajikan dampak pengeboran PT Lapindo-Brantas yang
sudah beberapa tahun berbagi kelimpahan produk, bahkan hingga
menenggelamkan beberapa ruas jalan tol, beberapa hektar areal industri
serta sejumlah desa pemukiman penduduk di Sidoarjo- Jawa Timur. Sejalan
dengan  prestasi itu, belakangan direktur PT. Lapindo Brantas terpilih dan
kini menjabat sebagai bupati Sidoarjo. Ditayangkan  penderitaan serta
protes masyarakat yang terkesan tidak efek apa-apa. Dalam tayangan
perspektif  udara, diantara genangan lumpur, tampak kepulan asap yang
dikelilingi 1 atau 2 garis berbentuk lingkaran. Saya duga garis lingkaran
itu adalah bekas tanggul yang sempat dibangun untuk menghambat luapan
lumpur panas. Walau keberadaan tanggul itu terkesan tidak efektif
 menghambat luapan, lingkaran itu menunjukkan pusat kebocoran perut bumi
yang bisa membantu kita menentukan lokasi kerak bumi yang dirusakkan dan
perlu disumbat.

Pada sesi kedua, ditayangkan Proyek  Hambalang Sport Center yang ditunda.
Dari kamera dari posisi ketinggian di luar pagar proyek, tampak beberapa
area tanah pada lokasi bangunan mengalami kelongsoran. Beberapa pondasi
yang seharusnya menjadi tumpuan beban konstruksi tampak  menggantung.
Kondisi mengambang menunjukkan bahwa pondasi  justru membebani konstruksi
bangunan. Dari tayangan, tampak ringkihnya konstruksi bangunan yang nyaris
patah dan runtuh. Menyaksikan tayangan itu, saya membayangkan metode
penyelamatan  bangunan yang memerlukan kehati-hatian serta ketelitian
tinggi. Untuk menyelamatkan konstruksi dimana tanah  tumpuannya  turun
sedemikian  dalam,  diperlukan upaya mengurangi beban dengan memotong dan
mencopot komponen yang terlanjur turun/ mengambang, menyiapkan landasan
yang lebih solid untuk tumpuan bagi pondasi, merevisi pondasi serta
menyambung dan menggabungkan kembali komponen konstruksi yang sudah
dipotong-potong tadi. (Walau sedikit repot, saya seakan tertantang dan
bergairah untuk mengerjakan pekerjaan yang sering  dianggap rumit seperti
itu)

Dalam  perspektif  *T*ujuan, *D*ampak serta *T*anggungjawab pelaksanaan dua
proyek yang ditunda itu  terdapat perbedaan signifikan.

Tujuan proyek pengeboran PT Lapindo Brantas adalah untuk mendatangkan
keuntungan bagi pemiliknya. Karena melimpahnya produksi (dimana kandungan
emas, mineral, minyak, air, kalorinya ) yang dianggap memiliki nilai
ekonomi terlalu murah, lumpur panas itu dikontribusikan kepada masyarakat
serta lingkungan sekitar dengan metode yang melanggar HAM serta merusak
ekosistem.

Secara prinsipal gagasan Sport Center di puncak gunung Hambalang yang
berlokasi dalam lingkungan hijau Jabodetabek ini cukup kreatif. Sementara
lokasi Jakarta sudah sangat sempit dengan udara panas serta kadar polusi
knalpot sangat tinggi, sedangkan puncak gunung Hambalang yang belum
berkembang itu memiliki udara bersih serta view yang sangat indah,
pembangunan Sport Center disitu sangatlah ideal. Seandainya proyek ini
berhasil, saya percaya bukan hanya meningkatkan prestasi olah raga
Indonesia, namun juga ikut memajukan perekonomian masyarakat kecamatan di
sekitarnya. Lebih dari itu, walau pada proyek awal direncanakan hanya untuk
menampung 600 siswa terbaik Indonesia, saya berpendapat jumlah ini perlu
digandakan beberapa kali lipat agar bisa memadai pembinaan para atlit
Indonesia, putra-putri pilihan terbaik yang mewakili  270 juta orang dari
bangsa yang besar ini. Adapun 32 hektar lahan yang digunakan berasal dari
pengembalian kepada negara atas hak pengelolaan lahan yang terbengkalai
yang dulu dipegang oleh keluarga pak Harto. Seandainya lahan demikian luas
masih ada di Jakarta dan masih bisa dibeli dengan harga Rp 10jt/m2, untuk
pemerintah harus mengeluarkan dana sebesar 320.000x10jt= Rp3,2 Triyun hanya
untuk lahan saja. Untuk pelaksanaan mega-proyek yang memilik tujuan
konstruktif  senilai 1,2 Trilyun itu, walau sempat terjadi masalah
kelongsoran, hingga kini masyarakat sekitarnya tidaklah  dirugikan (bahkan
ikut diuntungkan) berkat kehadiran proyek itu.

* *

*2.      **Survey ke Lokasi Proyek Sport Center di Puncak Gunung Hambalang*

Dalam surat 15 Juni 2012 kepada presiden SBY, selain memohonkan perhatian
Pemerintah atas kejanggalan DPT DKI, saya mengatakan bahwa dalam waktu
dekat saya akan membantu menangani masalah lokal sederhana dan mencari
kesempatan luang untuk merancang terobosan juga membantu mengatasi krisis
di luar negri. Walau belum menyebutkan secara spesifik, saat itu saya
merencanakan untuk membantu mengatasi masalah yang dihadapi Proyek
Hambalang Sport Center dan terobosan solusi untuk mengatasi krisis ekonomi
di Eropa dan di Amerika.

Sejak kecil hingga kuliah, ayah kadang mengajak saya bertamasya menjala
ikan sambil menelusuri sungai  atau mengendarai  truk jadul ataupun jeep
Gaz (Russia) pergi ke gunung Hambalang. Dulu  toko kami sering melayani
pesanan bahan bangunan bagi pabrik bata-press di kawasan PT Cipendawa di
gunung Hambalang.  Saya ingat jika makan bekal nasi di kebun tepi sungai
dengan lalap sambal serta ikan asin, rasanya nikmat sekali.  Dulu dari
jendela rumah, kami bisa memandangi gunung Hambalang  dengan bentuknya yang
khas. Namun sejak dibangun pasar di belakang rumah, saya harus naik ke
lantai atap untuk memandangi gunung Hambalang.

Sabtu pagi 16 Juni, dengan berbekal timbel saya mengajak keluarga, Firma
dan Udin (pengasuh& kenek asal Hambalang) mengunjungi proyek itu. Setelah
melakukan sejumlah pemotretan dari luar pagar, saya memarkir mobil dekat
pintu gerbang. Melalui gerbang yang tidak terkunci itu, saya menemui
petugas penjaga. Kepada petugas security saya katakan bahwa saya bermaksud
untuk membantu pemerintah untuk mengatasi kelongsoran lahan pada proyek
tersebut. Sementara belum mendapatkan respons yang mungkin agak lama,
kemarin saya sudah menyampaikan kepada bapak Presiden rencana untuk
membantu mengatasi masalah proyek ini. Walau tampak heran, petugas itu
kemudian meminta saya menemui pak Bunyamin, kepala security di situ.
Mungkin karena melihat  kejujuran serta sikap yang super pede akan
kemampuan teknis, pak Bunyamin mau menjelaskan masalah teknis serta
menyuruh salah seorang  anak buahnya mengantar kami ke lokasi.  Lebih dari
yang saya harapkan, beliau juga menyarankan saya beserta keluarga
mengendarai mobil yang akan dipandu oleh motor salah seorang anak buahnya.
Kepada Udin yang  memang sudah turun, saya bilang: “Maneh antosan di pos
wae, didieu sareng bapa sekuriti…”  Namun pak Bunyamin juga menyarankan
Udin juga boleh ikut dalam mobil ke lokasi bermasalah dalam proyek seluas
32 ha itu. Sebelum meninggalkan pos jaga, pak Bunyamin menanyakan apakah
saya membawa kamera. Saya jawab bahwa benar saya membawanya. Ketika saya
tanyakan apakah saya tidak diizinkan mengambil gambar ataupun membawa
kamera, setelah berpikir sejenak beliau mengatakan bahwa saya diizinkan
membawa kamera dan  mengambil gambar yang saya perlukan.  (Wow..!
Sementara para wartawan tidak diizinkan masuk, hanya dengan bekal kejujuran
serta sangat percaya diri, tanpa menunjukkan kartu identitas maupun tanda
kepresidenan, sedemikian mudah saya memperoleh kepercayaan …).

Adapun lokasi proyek sport center itu terletak hanya beberapa ratus meter
dari puncak gunung Hambalang.  Proyek itu dibangun dilereng puncak gunung
yang cukup terjal dengan view terbuka yang indah, bahkan ada lokasi yang
memiliki kemiringan hampir 45 derajat. Walau pembangunan baru sekitar 50%
selesai, sudah tampak kemegahan kompleks olah raga itu. Jika dibandingkan
dengan kinerja pak Fauzy Bowo bagi proyek normalisasi 13 sungai Jakarta
(yang saya duga proyek fiktif), saya pastikan (di luar masalah labilitas
lahan), proyek sport center ini memang sungguh  eksist dan cukup
berkwalitas.  Setiba di lokasi longsoran, saya menyaksikan tanah anjlok
yang  turun hingga 8 meter karena longsor. Tampak pula sedikit serakan
puing bangunan yang masih tersisa. Menjawab pertanyaan-pertanyaan, para
petugas menjelaskan bahwa terdapat 3 lokasi yang mengalami kelongsoran,
yaitu pondasi genset serta 2 lapangan indoor untuk badminton dan sepak
takraw. Rupanya untuk mencegah penurunan tanah yang lebih parah, bangunan
bermasalah itu sudah dihancurkan, sedangkan  puing-puingnya sudah diangkut
ke tempat yang aman.

Menyaksikan situasi yang terkesan sudah terkendali, saya katakan bahwa
dengan dibongkarnya bangunan yang pondasinya menggantung itu, pembangunan
pondasi baru (untuk genset dan lapangan indoor) bisa dilanjutkan dengan
posisi baru  yang beberapa meter lebih rendah dari posisi semula. Ketika
masih berada di lokasi proyek, saya menduga bahwa berkat kerelaan
pemerintah untuk mengorbankan bangunan kritis, masalah sudah tuntas.
 Sambil meneruskan pengambilan beberapa foto konstruksi dan lingkungannya,
kami kembali ke pos jaga.

 Diperjalanan kembali ke pos jaga, saya dicegat oleh seorang dari pihak
pemborong yang dengan curiga menanyakan apakah saya seorang wartawan. Saya
katakan bahwa saya adalah seorang pengelola toko yang  memiliki tujuan
konstruktif untuk menyampaikan proposal solusi kepada Presiden.  Sebelum
pamit, saya sempat ngobrol dengan pak Bunyamin yang merasa heran kalo
saya*bisa berbahasa Sunda’
*.  Rupanya beliau adalah salah seorang pelanggan toko kami. Beliau juga
mengenal ayah dan almarhum paman (yang gemar berburu celeng) yang dulu
sangat  akrab dan dikenal penduduk Hambalang.

Dalam pejalanan pulang, saya menghentikan mobil di tepi jalan yang teduh
untuk menikmati acara puncak  dengan menyantap nasi timbel nostalgia.
Setelah puas menghabiskan 3 bungkus nasi timbel,  saya mengobrol dengan 2
penduduk yang sedang mengangkuti rabuk. Mereka mengatakan bahwa tanah
disitu sebenarnya bersifat  rapuh karena kemungkinan di lapisan bawah tanah
terdapat aliran lumpur. Dari situ saya simpulkan bahwa rupanya kelongsoran
itu bukan hanya terjadi 1x (belakangan saya ketahui bahwa saat itu sudah 3x
terjadi longsoran). Itu  berarti solusinya tidaklah sesederhana, karena
seandainya tidak ditangani secara hati-hati, kelongsoran itu akan semakin
berlanjut dan meluas yang bahkan mengancam ekosistem hingga daerah aliran
sungai.

Menimpali ucapan bahwa seingat saya tanah di gunung Hambalang  dulu adalah
milik pak Probosutedjo, bapak itu menjawab bahwa daerah tersebut sebelumnya
adalah milik pak Tommy Soeharto yang sudah dikembalikan kepada Pemerintah.
Sambil memikirkan masukkan informasi  yang disampaikan, menganalisa
penyebab teknis serta memikirkan alternatif solusi, seperti biasa kami
sekeluarga pulang ke toko sambil menyanyi-nyanyi.

* *

*3.      **Menawarkan  Konsep Solusi Labilitas Lahan Hambalang Sport Center*

Saya bersyukur karena pada akhirnya, menggelembungnya DPT tidak sampai
mengganggu Pilkada-1 DKI. Total peserta Pilkada-1 di bawah (hanya 76% dari)
jumlah pemegang e-KTP DKI. Lebih dari itu, calon yang saya akan dukung
berhasil masuk babak final dalam Pilkada-2 ke DKI.  Setelah melepas
ketegangan pasca focus  Pilkada-1, tanggal 2 Agustus yang  baru lalu, saya
menyampaikan surat penawaran kepada presiden SBY dan kepada menpora Andi
Malaranggeng mengenai Konsep Solusi Labilitas Lahan Hambalang Sport Center.

Senin sore dan Selasa sore sementara menuliskan draft surat ini, kabupaten
Bogor dilanda hujan awal yang deras. Dalam kecemasan saya senantiasa berdoa
agar hujan tidak menimbulkan longsoran baru di area Hambalang Sport Center.
Selasa  pagi kemarin, saya kembali menghubungi pak Bunyamin. Saya bersyukur
bahwa selain masih mengenal saya, beliau mengatakan bahwa tidak terjadi
longsoran baru sejak kunjungan kami Juni yang lalu.   Dalam dukungan serta
kesiapan membantu saya, pak Bunyamin mengatakan bahwa memang seharusnya
proyek itu diteruskan, karena sudah begitu banyak dana yang dikeluarkan.



*4.      **Diskusi Rencana Proposal Konsep dengan staff Menpora*

Setelah diskusi dengan pak Bunyamin di proyek Hambalang, 2 Agustus juga
sempat berdiskusi dengan pak Surojo di kantor Kemenpora.

15 Agustus lalu, saya juga diterima oleh pak Heru (Deputi 5/ Kemenpora).

Kepada pak Heru, saya menjelaskan mengenai garis besar rencana proposal
konsep yang akan saya ajukan yang saya sebut dengan istilah ‘Site-Plan’
(perencanaan situasi/ posisi) kasus. Dalam bagan yang saya gambarkan bahwa
kasus Hambalang memiliki 2 perspektif yang sejajar serta berkorelasi
(memiliki pengaruh yang saling memperkuat): Bidang Teknis dan Bidang
Non-Teknis.

Sedangkan Proposal 5 Konsep yang akan saya tawarkan adalah salah satu sub
dari Perspertif Bidang Teknis. Dalam menangani suatu persoalan yang
kompleks, akan lebih efektif jika kita mengerjakan lebih dulu hal-hal
(teknis) yang lebih sederhana dan mudah untuk diatasi. Sejalan urutan itu,
dengan sifat korelasi antara ke2 bidang yang sejajar itu, maka hal-hal yang
tadinya cenderung lebih rumit akan jadi sederhana sehingga mudah
diselesaikan.

*Posisi Awal**          :* Kasus Longsor Pondasi                           *<
korelasi >*         Masalah Non Teknis

*Action   `              : *Tunda Pembangunan/ Status Quo            *ç=====
**è*         Pertanyaan& Investigasi

*Dampak              : *Resiko Longsor Susulan               *            **
ç=====**è*         Cari ‘Kambing Hitam’**

*Next                     :  *Kerusakan Ekosistem                   *
   **ç=====**è*        Tanggung  Jawab Hukum**

*Result                   : *Proyek Gagal. Kerugian Negara.              *ç
=====**è*          Masalah meluas

*               *

*Terobosan**           :* Kasus   Longsor Pondasi
  *< korelasi >*         Masalah Non Teknis

*Action   `              : **Solusi Labilitas Lahan     *
         *ç=====**è*         Fokus 1 Target

*Dampak              : *Selesaikan Proyek Aman& Efektif*                **ç
=====**è*         Reposisi.Laporkan: Tekor/Lebih

*Next                     :* Hambalang Sport Center Berdiri
  *ç=====**è*        Sport Center Diresmikan **

*Result                   :* Karya Nyata PORA
     *ç=====**è*          Prestasi  Indonesia



Sementara ini, sambil menantikan kabar dari Kemenpora, saya sudah merancang
5 Konsep Solusi Labilitas Lahan yang saya percaya mampu mengatasi kesulitan
labiltas di lahan sport center tersebut. Dalam merancang konsep itu,  saya
juga memperhitungkan karakter tanah di wilayah itu (berwarna kemerahan,
sangat gembur sehingga bagus sekali bagi ladang singkong, kontur lahan
miring pada lembah terjal serta harus mampu menumpu beban ratusan/ ribuan
ton dari bangunan 8 tingkat ).

*Solusi Labilitas Lahan* itu terdiri dari :

a.      Analisa Teknis Labilitas serta Kelongsoran Lahan.

b.      Konsep Antisipasi serta Persiapan Teknis.

c.      Konsep Rehabilitasi Teknis 1.

d.      Konsep Rehabilitasi Teknis 2.

e.      Konsep Rehabilitasi Teknis 3.

Pak Heru menjelaskan  bahwa kasus teknis proyek Hambalang ditangani oleh
beberapa kontraktor pihak ke3.  Sementara konsultan dari para pakar geologi
dan teknik sipil, hingga kini belum ditemukan metode tepat untuk mengatasi
labilitas yang menyebabkan kelongsoran itu. Walau niat untuk meneruskan
proyek masih tetap dipertahankan, melanjutkan proyek  pembangunan sementara
labilitas tanah belum diatasi, adalah suatu upaya yang sangat  beresiko
tinggi. Saya kira penerusan proyek di puncak gunung tanpa stabilitas lahan,
bisa merusak wilayah sekitarnya hingga ke daerah aliran sungai. Seandainya
digambarkan, itu akan seperti kue tart yang menghadapi cangkul. Dalam 1
ayunan, cangkul akan bisa menebas tart, bahkan hingga membelah piring, meja
bahkan melepaskan kaki meja.

Walau sebelum mendapat kabar dari Kemenpora, saya belum bisa menyusun
proposal resmi, sebagai  konsultan konseptual yang menawarkan solusi, saya
akan terikat perjanjian dalam hak, tanggung jawab serta jaminan atas
konsep-konsep yang akan saya sampaikan.

Dalam setiap satu konsep yang saya sampaikan, saya akan siap menjawab
setiap pertanyaan teknis dan obyektif dari tim uji kelayakan. Demikian pula
setiap rampungnya penerapan satu konsep, saya akan siap menjawab pertanyaan
teknis dari tim akhli yang secara obyektif menguji  efektifitas atas
keberhasilan pelaksanaan satu konsep itu.

Karya intelektual serta besarnya tanggung jawab yang saya tawarkan itu
memiliki value bagi penyelamatan sebuah mega proyek, value bagi ekositem,
serta value atas sejumlah benefit yang akan menyusul.  Tentu akan cukup
menarik dan saya akan berterima kasih seandainya dari proposal itu akan
mendatangkan nilai insentif bagi saya. Namun keputusan itu bisa diambil
atas pertimbangan pemerintah, karena yang sebenarnya menjadi prioritas
utama penawaran konsep ini adalah kontribusi bagi olah raga, para pemuda
dan bangsa Indonesia.

* *

*5.      **Energi Konstruktif dan Destruktif*

Di masa booming ekonomi pada era pembangunan di desa kami sekitar tahun
1995, tanpa rencana persiapan saya merenovasi warung  kami dalam
pengembangan upaya mengatasi kebocoran atap.  Warung yang dirintis ayah
sejak tahun 1960 itu, walau sangat ramai dikunjungi pembeli, namun terasa
semrawut karena sangat penuh barang. Ekspansi ruangan demi ruangan rumah
tidak mampu menandingi kemajuan pertumbuhan warung kami. Barang dagangan
memenuhi segenap kamar pada rumah tinggal bahkan membebani lantai plafond
multiplex yang juga dijadikan gudang.  Orang tua saya mengatakan bahwa
tanpa memindahkan lokasi warung ke tempat penampungan sementara, tidak
mungkin renovasi bisa dilakukan.  Namun karena tidak ada lokasi
penampungan, kami juga tidak mungkin melakukan pemindahan aktifitas
warung.  Walau tanpa restu ortu, sangat repot, berantakan dan tanpa rencana
yang matang saya melakukan renovasi. Singkat cerita, sementara  warung yang
sangat aktif melayani para pembeli yang berdatangan secara nonstop,
renovasipun dilaksanakan (amboi ribetnya…)

Setelah menentukan pondasi menurut modul 4 meteran, tanpa melakukan
penggalian, saya langsung merakit rangka dan mengecor pondasi telapak
dengan ukuran 90x90x 20cm3 di atas lantai yang ada (variasi lantai ubin,
lantai batu dan lantai teraso dengan aneka ketinggian). Untuk mengikat
antar pilar agar tahan  gempa, saya buat ikatan dari sloof beton 15x25cm2
langsung diatas lantai yang ada yang menghubungkan antar pilar dengan
penulangan sering menembus tengah-tengah telapak pondasi. Penyederhanaan
pekerjaan itu saya lakukan ini agar aktifitas warung tidak terlalu
terganggu sementara renovasi berlangsung. Karena tidak merencanakan jumlah
lantai serta peruntukan bagi lantai atas (yang  kemudian saya putuskan
untuk gudang barang dagangan dan lapangan serta penampungan air antisipasi
kebakaran pasar), saya hanya menggunakan 8 buah besi beton diameter 16mili
dan 12 mili dengan besar pilar sebesar 25x25 cm2. Belakangan, setelah
menanyakan jumlah dan peruntukan lantai (lantai dasar, lantai gudang atas
dan lantai atap) kakak sepupu menyarankan saya untuk memperbesar pondasi
menjadi 120x120x30cm, serta menambah jumlah besi menjadi 4 buah  22mili dan
8 buah 16 mili dengan ukuran pilar sebesar  33x33cm2.  Pekerjaan merevisi
dan menggabungkan penulangan serta memperbesar ukuran pondasi pada lokasi
sempit  dalam kesibukan  toko yang ramai dikununjungi pelanggan adalah
pekerjaan rumit yang sangat merepotkan. Belum lagi upaya mengikis dan
memperbesar pilar, ternyata tidak semudah membuat pilar yang baru,

Sementara untuk mendukung bekisting plat beton, agar tidak mengganggu lalu
lintas personil dan pelanggan warung, saya melakukan penopangan dari atas
lemari, rak barang  ataupun tembok-tembok yang ada. Setelah lantai gudang
di atas selesai dipasang keramik dan lantai atap dicor, barang  dinaikkan,
tembok-tembok dibongkar, pondasi dan sloof ditimbun puing, dipadatkan
dengan pasir dan air dan ditutup keramik dan dipasang rak baru. Kemudian
saya merakit  lift bikinan sendiri sehingga barang –barang diturunkan (dan
dinaikkan) dengan tenaga elektro motor. Berkat dukungan mandor dan tukang
pinjaman kakak serta bantuan segenap karyawan, kami bisa menyelesaikan
renovasi. Warung  yang selama beberapa bulan super berantakan, kini menjadi
toko yang lebih tertib dan teratur.

Bangunan 2,5 tingkat toko kami bukanlah bangunan tertinggi di desa kami.
Namun renovasi toko tanpa mengurangi aktifitas pelayani pembeli yang ramai
dalam ruangan yang penuh barang seperti yang saya lakukan, mungkin suatu
proyek yang unik karena memiliki tantangan dengan tingkat kerumitan yang
tinggi.

Saat itu saya menolak limiting belief yang menyatakan:” Tidak mungkin toko
yang aktif, ramai serta penuh barang bisa direnovasi”. Saya sering
menganggap limiting belief yang memfokuskan perhatian pada masalah repot
dan kesulitan adalah energy yang bersifat destruktif. Walau menyadari
kesulitan yang akan menantang, saya tetap berfokus bahwa renovasi PASTI
BISA dilaksanakan, APALAGI (walaupun)  sementara  perdagangan dalam keadaan
yang sangat prospektif.

Kebalikannya saya menganggap masukkan:”Perluas telapak pondasi dan perkokoh
pilar agar memiliki daya dukung aman bagi toko dan gudang setinggi 2,5
lantai” adalah energi konstruktif.  Sementara medan serta kesulitan teknis
menantang, fokus saya semakin diperkuat dengan kepercayaan:  “ADA
SOLUSINYA” Walaupun pelaksanaannya lumayan ribet, setelah belasan tahun ini
kami memiliki toko, gudang, rumah (dan taman dan lapangan bermain yang
ringan pada atap) yang kokoh dan cukup tertata.

Walau kisahnya agak lupa, pernah seorang mandor bangunan sangat bangga
dengan sebuah gedung megah di Jakarta. Sering ia cerita kepada teman2nya
bahwa ia adalah orang yang membangun gedung megah itu. Ia memang pernah
bekerja sebagai tukang dalam proyek pembangunan gedung itu. Namun dari
kejadian itu saya pahami bahwa banyak orang ikut merasa bangga seandainya
dilibatkan dengan keberhasilan proyek yang gemilang. Kebalikannya banyak
orang merasa enggan seandainya dirinya dikaitkan apalagi  ikut bertanggung
jawab dengan proyek yang gagal apalagi runtuh.

Sementara diperhadapkan kepada tuduhan serta tekanan dari berbagai pihak,
saat ini Menpora berada dipersimpangan: Melanjutkan atau menghentikan
proyek Hambalang Sport Center.  Menyaksikan terbengkalainya proyek, DPR
melakukan pengamanan dana proyek sebesar Rp500M. Namun pak Heru mengatakan
bahwa dana dari DPR  itu pasti akan kembali dicairkan jika proyek
dilanjutkan kembali. Namun saya berharap agar Kemenpora, seperti yang juga
diharapkan pak Bunyamin, untuk melaksanakan segala tindakan  yang bersifat
konstruktif: 1. Lanjutkan pembangunan proyek. 2. Rehabilitasi stabilitas
lahan dan revisi konstruksi yang kurang tepat. 3. Manfaatkan Hambalang
Sport Center bagi pembinaan dan peningkatan prestasi olah raga generasi
muda, putra dan putri terbaik Indonesia.

Pak Heru juga sempat mengatakan bahwa dana yang tersisa amatlah terbatas.
Namun satu hal yang akan saya upayakan adalah agar dalam pelaksanakan
konsep solusi labilitas lahan ini tidak akan memberatkan anggaran yang
masih ada. Saya prakirakan proyek stabilisasi lahan bisa selesai dalam
waktu 3 bulan. Dalam jeda 2 bulan sambil dilakukan finishing bangunan yang
sudah terstruktur,  akan dilakukan sejumlah pengujian lahan. Seandainya
lahan dianggap cukup mantap, stabil dan layak, proyek pembangunan sudah
dibongkar atapun belum dilakukan akan bisa diulangi/ diteruskan kembali
dengan beberapa penyederhanaan.

Teman2,

Doakan agar usulan saya diterima Menpora. Dari benih yang baik, akan tumbuh
pohon baik, yang akan menghasilkan buah yang baik bagi kita semua. Dari
rencana yang mulia, dilaksanakan secara kosntruktif, akan meningkatkan
kwalitas prestasi putra-putri Indonesia.



Salam sejahtera,

Mulyadi Dharmadi


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Gabung di milis INTI-net, kirim email ke : [email protected]

Kunjungi situs INTI-net    
http://groups.yahoo.com/group/inti-net

Kunjungi Blog INTI-net
http://tionghoanet.blogspot.com/
http://tionghoanets.blogspot.com/

Tulisan ini direlay di beberapa Blog :
http://jakartametronews.blogspot.com/
http://jakartapost.blogspot.com
http://indonesiaupdates.blogspot.com

*Mohon tidak menyinggung perasaan, bebas tapi sopan, tidak memposting iklan*

CLICK Here to Claim your Bonus $10 FREE !
http://profitclicking.com/?r=kQSQqbUGUhYahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/inti-net/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/inti-net/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke