Ref: Mereka bukan saja kurang ikhlas membangun untuk rakyat bawah, tetapi sama 
sekali tidak ikhlas, karena mana bisa bandit koruptor yang berkuasa mau 
memperhatikan kesejahteraan rakyat lapisan bawah. Kalau  mereka ikhlas berarti 
rejeki untuk mereka catut, nyolong, korupsi etc berkurang atau samasekali 
hilang untuk dikantongi.


http://www.balipost.co.id/mediadetail.php?module=detailberita&kid=2&id=68792

27 Agustus 2012 | BP 

Diskusi HUT ''Bali Post'' di Singaraja (1)-

Kurang Ikhlas Membangun untuk Rakyat Bawah


Pemprov Bali kurang punya keikhlasan membangun untuk kalangan masyarakat bawah, 
terutama masyarakat yang ada di daerah terpencil dan jauh dari pusat ibu kota 
Bali. Sehingga tak seluruh rakyat Bali menikmati hasil pembangunan secara 
merata. Hal itu terungkap dalam diskusi terbatas serangkaian HUT ke-64 Bali 
Post di Hotel Bali Taman, Lovina, Singaraja, Sabtu (25/8) lalu.


----


Guru Besar Undiksha, Prof. Dr. I Wayan Santyasa, M.Si. mengatakan, Pemprov 
tidak kritis dalam menyebarkan pembangunan ke kabupaten-kabupaten di Bali. 
Awalnya pembangunan dilakukan dengan semangat. Namun kemudian pembangunan tak 
berlanjut agar sampai pada kepentingan masyarakat di daerah terpencil yang 
berada di bawah garis kemiskinan. ''Sehingga kesannya kurang ikhlas membangun 
untuk kalangan bawah,'' katanya.

Ia mencontohkan pembangunan kampus IHDN di Bangli. Awalnya pemerintah semangat 
membangun kampus IHDN itu di Bangli dengan alasan memeratakan pembangunan ke 
kabupaten-kabupaten. Namun kampus IHDN di Denpasar masih tetap ada. Mahasiswa 
dan pengajarnya masih banyak aktivitasnya di Denpasar.

Padahal, kata dia, jika memang ingin memeratakan pembangunan seharusnya 
pemerintah juga membangun fasilitas lain di sekitar kampus IHDN di Bangli. 
Misalnya membangun pusat pertokoan, perumahan, dan lain-lain. Dengan begitu 
mahasiswa dan pengajarnya akan mau pindah ke Bangli. Apalagi, kata Santyasa, 
hidup di Bangli sebenarnya lebih enak daripada hidup di Denpasar. ''Di Bangli 
sejuk, tetapi masyarakat tak mau pindah ke situ. Karena pembangunan di daerah 
itu kurang dilakukan dengan ikhlas,'' katanya.

Hal yang sama juga terjadi di Buleleng. Saat ini, kata Santyasa, di Buleleng 
akan dibangun bandar udara (bandara) bertaraf internasional. Sebagai salah 
seorang anggota tim advokasi pembangunan bandara di Buleleng, ia mengatakan 
pembangunan bandara itu diperjuangkan untuk dibangun di perbatasan Buleleng dan 
Karangasem, tetapi tetap di daerah Kabupaten Buleleng. Lokasi ini dipilih agar 
pembangunan dan penyebaran dampak perekonomian lebih merata dan lebih memihak 
kepada masyarakat kurang mampu.

Di daerah Buleleng Timur itu sangat dekat dengan Tianyar, Kubu, dan daerah lain 
yang masih berada di bawah garis kemiskinan. Sehingga dampaknya lebih banyak 
dan lebih terasa pemerataannya.

Sekali lagi, kata Santyasa, terkait rencana pembangunan bandara ini diperlukan 
keikhlasan dari pemerintah. Tangan pemerintah harus terus diulurkan. 
''Membangun di Bali mesti melihat kalangan bawah. Mengangkat derajat hidup 
manusia Bali,'' katanya.

Pengamat pendidikan dan masalah sosial Drs. Gede Suyasa, M.Pd. juga bicara soal 
pembangunan yang saling terkait dan berkelanjutan. Salah satu persoalan yang 
dihadapi Kabupaten Buleleng adalah akses infrastrutur. Di Buleleng semuanya 
masih merupakan jalan lama. Tak ada jalan baru. Menurutnya, kalau bandara 
dibangun tanpa diimbangi dengan pembangunan jalan maka bandara bisa jadi 
terisolisir. ''Jadi harus ada kesiapan. Jalan dibangun, SDM disiapkan, agar 
kita tak jadi penonton,'' katanya.

Menurut Suyasa, persoalan di Bali sekarang ini adalah persoalan kemiskinan. 
Menurutnya, Bali punya pariwisata dan akses internasional. Tetapi kemiskinan 
tak pernah berakhir. Karena Bali tak punya data base yang kuat tentang orang 
miskin. ''Datanya setiap saat berubah-ubah. Ada bantuan, orang miskin 
membeludak,'' katanya.

Untuk menjawab ini, kata Suyasa, maka harus ada data base dengan kriteria yang 
jelas. Siapa pun yang miskin sudah harus punya identitas kemiskinan. Misalnya 
di Buleleng ada 47 ribu rumah tangga miskin (RTM). ''Setiap tahun mau 
menuntaskan berapa, tinggal lihat data base,'' katanya.

Untuk menuntaskan kemiskinan, Suyasa setuju harus ada pemerataan pembangunan. 
Bicara soal pemerataan pembangunan untuk kesejahteraan masyarakat, di Buleleng 
punya pelabuahn alam dengan biaya yang rendah.

Menurutnya, Pelabuhan Benoa itu pelabuhan proyek. Dibuat karena diproyekkan. 
Tetapi di Buleleng, di beberapa titik, kapal langsung bisa berlabuh. Untuk itu, 
perairan di Buleleng bisa dimanfaatkan untuk membagi jalur laut antara utara 
dan selatan.

Namun di sisi lain, SDM juga harus siap. Karena di sisi yang lain di Buleleng 
juga banyak terjadi kasus siswa putus sekolah atau tak melanjutkan ke jenjang 
pendidikan yang lebih tinggi. Sebanyak 32 persen siswa yang tamat SMP tak bisa 
melanjutkan ke SMA. Apalagi dari SMA ke perguruan tinggi.

Soal pemerataan pembangunan, Dr. I Gede Budasi, M.Ed. juga bicara soal 
pembangunan transportasi kelautan di Buleleng yang tak mendapat perhatian dari 
Pemprov Bali. Menurut Budasi, pembangunan tak merata akibat konsentrasi pusat 
pemerintahan ada di Bali Selatan yang diikuti pemusatan hal lain, seperti 
bandara, pelabuhan laut dan lembaga-lembaga pendidikan.

Di Bali Utara tak bisa berkembang, kata dia, karena salah satu penyebabnya 
karena di Buleleng tak dibangun entri-entri poin yang sebenarnya sudah dimiliki 
oleh Buleleng. Misalnya di Buleleng terdapat pelabuhan-pelabuhan kecil yang 
membentang dari barat ke timur. Tetapi pelabuhan itu tak pernah ditata. Pola 
pikir Pemprov Bali dan Pemkab Buleleng tidak nyambung. Pemprov tak pernah 
memikirkan pengembangan transportasi laut, terutama untuk pengembangan 
pariwiasata. Padahal jalur laut bisa dibangun dari Denpasar, Nusa Penida, 
Padangbai, terus ke Buleleng, ke Jembrana. (kmb15)

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke