http://www.mediaindonesia.com/read/2012/10/10/355230/289/101/Eks_Terpidana_Bom_Bali_Kumpul_di_Solo_
Eks Terpidana Bom Bali Kumpul di Solo Jumat, 12 Oktober 2012 18:33 WIB a.. SOLO--MICOM: Puluhan eks terpidana kasus bom Bali, Hotel Marriot, dan Poso yang tergabung dalam Forum Mujahid berkumpul melakukan dialog di Mesjid Al wusto, Mangkunegaran, Solo, Jawa Tengah, Jumat (12/10). Forum Mujahid yang beranggotakan sekitar 40 orang itu menyatakan tetap melakukan aktivitas berdakwah dan jihad serta melakukan amar makruf. Namun mereka menyadari hal itu merupakan ancaman bagi Amerika. Juru bicara Forum Mujahid Yuli Sakban, 32, eks terpidana kasus kerusuhan Poso, Sulawesi Tengah, mengatakan para eks terlibat kasus Poso, bom Bali, dan Hotel Marriot berkumpul di Solo untuk berdialog sebagai refleksi peristiwa-peristiwa yang pernah mereka alami. "Jumlah anggotanya sekitar 40 orang mereka berasal dari Solo dan daerah sekitar tergabung dalam Forum Mujahid," katanya. Menurutnya, pertemuan di Solo tersebut tidak ada hubungannya dengan peringatan tragedi bom Bali I 12 Oktober 2002. Bagi kelompoknya, tidak ada kata peringatan. "Kegiatan jihad itu wajib, dan sebagai ibadah. Jihad itu merupakan puncaknya agama," katanya. Sementara itu, Joko Tri Harmanto, eks terpidana kasus bom Bali I, para eks terpidana tersebut melakukan dialog sebagai evaluasi tentang kegiatan mereka agar lebih baik. (Ant/OL- ++++++ http://www.mediaindonesia.com/read/2012/10/10/355227/289/101/Radikalisme_Disebar_Lewat_Internet_dan_Garis_Keturunan Radikalisme Disebar Lewat Internet dan Garis Keturunan Jumat, 12 Oktober 2012 18:25 WIB a.. SEMARANG--MICOM: Masyarakat diminta mewaspadai upaya penyebaran paham radikalisme yang menggunakan jejaring sosial di internet. "Mereka menyebarkan paham-paham radikal terutama melalui internet atau buku-buku," kata Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyaad Mbai usai pelantikan pengurus Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah di Semarang, Jumat (12/10). FKPT yang dibentuk di daerah, termasuk Jateng, merupakan forum koordinasi yang beranggotakan berbagai elemen masyarakat, dan salah satunya hasil kerja sama BNPT dengan pucuk pimpinan Muslimat Nahdlatul Ulama (NU). Menurut Ansyaad, langkah untuk menanggulangi penyebaran paham radikal melalui internet itu tidak bisa dilakukan dengan cara kekerasan, melainkan harus dengan langkah persuasif yang juga menggunakan media internet. "Kita harus masuk di wilayah itu, sama-sama di media itu. Kita berkompetisi di situ untuk menangkis. Namun, cara yang dilakukan bukan dengan kekerasan, tetapi cara persuasif," katanya. Penyebaran paham radikal, kata dia, juga bisa dilakukan lewat garis keturunan atau hubungan keluarga dengan menanamkan rasa kebencian dan permusuhan kepada apa saja yang mereka definisikan sebagai musuh. Karena itu, ia mengemukakan pentingnya pemberdayaan seluruh komponen masyarakat, antara lain ulama, organisasi kemasyarakatan, dan kepemudaan untuk menangkal dan menanggulangi penyebaran paham radikal. Merefleksi peringatan 10 tahun tragedi Bom Bali I tepat pada 12 Oktober 2012, Ansyaad mengatakan, "Selama ideologi radikal tidak bisa dihentikan, selama itu pula kemungkinan masih terjadi aksi terorisme". Gubernur Jateng Bibit Waluyo menambahkan, terorisme membuat hidup menjadi tidak nyaman karena selalu dibayangi dengan keresahan, perasaan waswas, dan ancaman, sehingga seluruh komponen masyarakat harus berperan aktif menanggulangi terorisme. "Kita harus segera bergerak dan berbuat dalam upaya penanggulangan terorisme, mulai dari rumah ke rumah, keluarga antarkeluarga, kemudian melalui organisasi antarkelompok masyarakat," kata Bibit. (Ant/OL-04 [Non-text portions of this message have been removed]
