http://www.equator-news.com/utama/20121015/prostitusi-pelajar-coreng-kota-pontianak

Senin, 15 Oktober 2012 
Prostitusi Pelajar Coreng Kota Pontianak 
Pontianak – Maraknya prostitusi yang melibatkan anak bawah umur dan pelajar 
mengagetkan semua pihak. Baru-baru ini terungkap praktik menjajakan seks yang 
dilakukan siswi SMPN Kota Pontianak saat jam sekolah. Tentunya sangat mencoreng 
wajah pendidikan dan Kota Pontianak.

“Ini harus dianggap sebagai masalah serius. Kita tidak bisa hanya menyerahkan 
kepada pihak sekolah saja. Harus melibatkan semua pihak, termasuk dinas 
pendidikan. Yang paling penting adalah keluarga,” ungkap DR Aswandi, pengamat 
pendidikan dari Universitas Tanjungpura kepada Rakyat Kalbar, Sabtu (13/10).

Para siswi SMP menjual diri karena dimanjakan dan dipengaruhi kehidupan duniawi 
atau hegemoni. Masalah ini tidak sederhana, bahkan sangat serius dan 
penyelesaiannya tidak gampang. Tidak bisa dilihat dari luarnya saja karena 
akarnya sangat komprehensif. “Jadi untuk menyelesaikannya perlu keterlibatan 
semua pihak,” tegas Aswandi yang juga Dekan FKIP Untan ini.

Disarankan, mulai dari orang tua, guru di sekolah, dan masyarakat di sekitar 
harus bertanggung jawab. Semua harus peduli, karena ini menyangkut moral.

“Kita berharap ada tindakan bagi yang belum dicegah. Kalau sudah telanjur 
terjerumus bagaimana menyembuhkannya. Hal seperti ini bukan hanya terjadi di 
Kalbar, melainkan hampir di seluruh dunia,” ujarnya.

Jika dikaitkan dengan pendidikan karakter, menunjukkan karakter pelajar masih 
jelek. “Artinya moral dan akhlak generasi muda kita rusak. Jadi pendidikan 
karakter dan akhlak itu perlu digalakkan dan diaktualisasikan,” ungkap Aswandi.

Pengaruh ekonomi juga ada, tetapi banyak orang yang miskin tetapi tidak 
melacurkan diri. Ketahanan mental dan pendidikan yang tidak menanamkan akhlak 
mulia juga sangat berpengaruh. Kalau ini tidak disikapi akan menurunkan 
martabat bangsa.

Psikolog dari STAIN Pontianak Dra Hj Fauziah MPd mengaku sangat miris dengan 
kejadian yang dilakukan oleh para siswi SMPN Kota Pontianak dan remaja saat 
ini. “Kita dapat bayangkan mau jadi apa generasi ke depan jika kondisinya 
seperti ini. Padahal generasi muda adalah harapan bangsa,” ungkap Fauziah 
kepada Rakyat Kalbar, kemarin.

Menurutnya, ada sebuah hadis yang artinya, wanita adalah tiang negara. Apabila 
wanita itu baik, maka negara akan baik, dan apabila wanita itu rusak maka 
negara akan rusak pula.

“Karena itu pendidikan akhlak dan moral harus ditingkatkan di sekolah. 
Penanaman nilai-nilai agama oleh orang tua dan guru mutlak diperlukan. Supaya 
anak tidak terjerumus dengan hal-hal yang negatif,” katanya.

Seorang guru harus mampu menjadi konselor bagi anak didiknya. Begitu juga 
dengan orang tua, harus mampu menjadi konselor bagi anak-anaknya. Sehingga 
proses pencegahan bisa dilakukan sejak dini.

“Bagi sekolah dianjurkan untuk membuat Pusat Informasi Konseling Remaja yang 
bisa diajukan ke BKKBN. Di sanalah para remaja akan mendapatkan informasi 
tentang pendidikan reproduksi, sekalian bimbingan oleh guru BK maupun tenaga 
konselor yang sudah disiapkan. Kita juga sedang merancang nilai-nilai keislaman 
sebagai alat untuk terapi gangguan jiwa pada remaja,” papar Fauziah.

Jadi jangan sampai anak-anak yang mendapatkan masalah, larinya ke hal-hal 
negatif. Tetapi bagaimana diarahkan solusi melalui nilai-nilai agama. Hal itu 
jauh lebih baik.

“Bagi remaja kita yang sudah telanjur menjadi korban, harus dibimbing dan 
diberikan semangat hidup. Kemudian yang belum, upaya pencegahan harus 
dilakukan. Jangan sampai fenomena ini terus meluas di kalangan generasi muda 
kita,” ujarnya.

Semua elemen harus dilibatkan. Mulai dari pemerintah, orang tua, sekolah, 
sehingga hal ini menjadi tanggung jawab bersama. Angka kriminalitas yang tinggi 
di Kota Pontianak bahkan dilakukan oleh anak bawah umur, apakah masih layak 
dikatakan sebagai kota layak anak?

“Tergantung perhatian pemerintah dalam menyikapinya. Terutama dengan membuat 
tulisan atau slogan besar di setiap sudut kota, jalan-jalan utama untuk 
menyayangi, melindungi, dan membimbing anak. Secara perlahan menjadi peringatan 
pekerjaan rumah orang tua untuk melakukannya,” papar Fauziah. (kie)



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke