http://suaraberitaku.com/page7.php?post=22


RAMANG, LEGENDA SEPAK BOLA

Bernama lengkap Andi Ramang yang dilahirkan pada tanggal 24 April 1928 1928 di 
Makassar, Sulawesi Selatan. Ia merupakan seorang legenda sepakbola Indonesia 
pada tahun 1950an, dan merupakan pemain sepakbola kebanggaan rakyat Makassar 
Sulawesi Selatan dan PSM (Persatuan Sepakbola Makassar) sehingga PSM biasa 
dijuluki sebagai "Pasukan Ramang". Menurut catatan Wiki, ia dikenal dikenal 
sebagai salah satu anggota trio maut PSM Makassar. Bersama Suwardi dan 
Noorsalam menjadi jangkar yang kokoh bagi tim berjulukan Juku Eja (ikan Merah) 
ini. Ramang memang sudah mulai menendang-nendang buah jeruk, gulungan kain dan 
bola anyaman rotan dalam permainan sepak raga sejak berusia 10 tahun.

Ayahnya, Nyo'lo, ajudan Raja Gowa Djondjong Karaenta Lemamparang, sudah lama 
dikenal sebagai jagoan sepakraga. Ia mulai memperkuat PSM Makassar pada tahun 
1947, waktu itu masih bernama Makassar Voetbal Bond (MVB). Bersama dengan 
Suwardi dan Noorsalam, Ramang menjadi trio paling menakutkan di Indonesia. Ia 
dikenal memiliki kecepatan lari dan tendangan yang keras. Karir Ramang makin 
mencolok tatkala dirinya bergabung ke timnas sepakbola Indonesia. Pada tahun 
1952 ia menggantikan Sunardi, kakak Suardi Arlan mengikuti latihan di Jakarta. 
Ini menyeretnya menjadi pemain utama PSSI. Didampingi Suardi Arlan di kanan dan 
Nursalam di kiri, ia bagai kuda kepang di tengah gelanggang. Permainannya 
sebagai penyerang tengah sangat mengagumkan. Maka setahun kemudian ia keliling 
di beberapa negeri asing. Namanya meroket menjadi pemain favorit penonton dan 
disegani pemain lawan. Sambil melakoni profesinya sebagai pemain sepak bola, 
Ramang juga menjadi seorang kenek truk dan tukang becak. Namun dalam sebuah 
wawancara di Majalah Tempo (7/10/1978), Ramang mengatakan bahwa ia terpaksa 
meninggalkan profesinya sebagai penarik becak karena sibuk bermain bola. Hal 
itu membuat kondisi keluarganya yang tinggal menumpang di sebuah rumah temannya 
menjadi sangat memprihatinkan.

"Namun apapun yang terjadi, coba kalau isteri saya tidak teguh iman, mungkin 
sinting," kata macan bola itu. Ramang memang tak bisa lepas dari lapangan sepak 
bola. Baginya, meninggalkan lapangan sepak bola sama saja menaruh ikan di 
daratan. "Hanya bisa menggelepar-gelepar lalu mati," katanya. Setahun setelah 
kemenangan klubnya 9-0 dalam kompetisi PSM, Ramang sudah keliling Indonesia 
bermain bola. Tapi ketika ia kembali ke Makassar seorang datang melamarnya 
bekerja sebagai opas di Dinas Pekerjaan Umum (DPU). Gajinya? Tak pernah naik 
tetap saja Rp 3.500. Untungnya hanya satu: ia masih tetap bisa main bola. Pada 
tahun 1952 ia menggantikan Sunardi, kakak Suardi Arlan mengikuti latihan di 
Jakarta. Ini menyeretnya menjadi pemain utama PSSI. Didampingi Suardi Arlan di 
kanan dan Nursalam di kiri, ia bagai kuda kepang di tengah gelanggang. 
Permainannya sebagai penyerang tengah sangat mengagumkan. Maka setahun kemudian 
ia keliling di beberapa negeri asing. Namanya meroket menjadi pemain favorit 
penonton dan disegani pemain lawan. Pada lawatannya tahun 1954 ke berbagai 
negeri Asia (Filipina, Hongkong, Muangthai, Malaysia) PSSI hampir menyapu 
seluruh kesebelasan yang dijumpai dengan gol menyolok. Dari 25 gol (dan PSSI 
hanya kemasukan 6 gol) 19 di antaranya lahir dari kaki Ramang.

Berkat prestasi Ramang, Indonesia masuk dalam hitungan kekuatan bola di Asia. 
Satu demi satu kesebelasan Eropa mencoba kekuatan PSSI. Mulai dari Yugoslavia 
yang gawangnya dijaga Beara (salah satu kiper terbaik dunia waktu itu), klub 
Stade de Reims dengan si kaki emas Raymond Kopa, kesebelasan Rusia dengan kiper 
top dunia Lev Jashin, klub Locomotive dengan penembak maut Bubukin, sampai 
Grasshopers dengan Roger Vollentein. "Tapi itu bukan prestasi saya saja, 
melainkan kerjasama dengan kawan-kawan," ujar Ramang merendah, sembari menyebut 
nama temannya satu per satu: Maulwi Saelan, Rasjid, Chaeruddin, Ramlan, Sidhi, 
Tan Liong Houw, Aang Witarsa, Thio Him Tjiang, Danu, Phoa Sian Liong dan 
Djamiat. Mendengar kehebatan Ramang di lapangan sepak bola, tak heran jika pada 
tahun 50-an, banyak bayi lelaki yang lahir kemudian diberi nama Ramang oleh 
orangtuanya. Ramang wafat pada 26 September 1987.

Ramang dikenal sebagai penyerang haus gol. Ramang memang penembak lihai, dari 
sasaran mana pun, dalam keadaan sesulit bagaimana pun, menendang dari segala 
posisi sambil berlari kencang. Satu keunggulan yang masih diidamkan oleh setiap 
pemain bola kita hingga saat ini, terutama tembakan salto. Keahlian itu 
tampaknya karunia alam untuk pribadi Ramang seorang sebagai bekas pemain 
sepakraga yang ulung. Gol melalui tendangan salto yang indah dan mengejutkan 
seringkali dipertunjukkan oleh Ramang. Satu di antaranya saat PSSI mengalahkan 
RRC dengan 2-0 di Jakarta. Kedua gol itu lahir dari kaki Ramang, satu di 
antaranya tembakan salto. Itu pertandingan menjelang Kejuaraan Dunia di Swedia, 
1958. Pertandingan kedua dilanjutkan di Peking, Indonesia kalah dengan 3-4, 
sedang yang ketiga di Rangoon (juga melawan RRC) dengan 0-0.

Sayang sekali lawan selanjutnya ialah Israel (yang tak punya hubungan 
diplomatik dengan Indonesia) maka PSSI terpaksa tidak berangkat. Mendengar 
kehebatan Ramang di lapangan sepak bola, tak heran jika pada tahun 50-an, 
banyak bayi lelaki yang lahir kemudian diberi nama Ramang oleh orangtuanya. 
Jika Ramang ditanya mengenai pertandingan paling berkesan, di sejumlah media, 
ia menyebut ketika PSSI menahan Uni Soviet 0-0 di Olimpiade Melbourne 1956. 
"Ketika itu saya hampir mencetak gol. Tapi kaus saya ditarik dari belakang," 
kata Ramang. Kejayaan Ramang ternyata singkat saja, tahun 1960, sesudah namanya 
sempat melangit ia dijatuhi skorsing. Ramang dituduh makan suap. Tahun 1962 ia 
dipanggil kembali, tapi pamornya sudah berkurang. Pada tahun 1968, dalam usia 
40 tahun, Ramang bermain untuk terakhir kalinya membela kesebelasan PSM di 
Medan, yang berakhir dengan kekalahan. Meskipun setelah itu kariernya di sepak 
bola tidaklah betul-betul mati. Saat ia sedang menggelepar-gelepar seperti ikan 
di daratan, ia mendapatkan panggilan Bupati Blitar untuk menjadi pelatih di 
sana.

Karier kepelatihan Ramang juga tercatat di PSM dan Persipal Palu. Sewaktu 
menjadi pelatih di Persipal, ia bahkan pernah dihadiahi satu hektar kebun 
cengkeh oleh masyarakat Donggala, Palu, karena prestasinya membawa Persipal 
menjadi satu tim yang disegani di Indonesia. Penghargaan seperti ini tak pernah 
ia dapatkan di PSM Makassar. Tetapi menjadi pelatih sepak bola ternyata tidak 
mudah bagi seorang tamatan Sekolah Rakyat seperti Ramang. Ia kemudian harus 
disingkirkan pelan-pelan hanya karena ia tidak memiliki sertifikat kepelatihan. 
Dalam melatih, Ramang hanya mengajarkan pengalamannya ditambah dengan teori 
yang pernah ia dapatkan dari mantan pelatih PSSI, Tony Pogacknic, yang ia 
sangat hormati.

Ramang pernah menyebut bahwa pemain sepak bola sepertinya tidak lebih berharga 
dari kuda pacuan. "Kuda pacuan dipelihara sebelum dan sesudah bertanding, 
menang atau kalah. Tapi pemain bola hanya dipelihara kalau ada panggilan. 
Sesudah itu tak ada apa-apa lagi," katanya dengan kecewa. Namun Ramang sudah 
berketetapan hati menutup kisah masa lampaunya itu. "Buat apa mengenang 
masa-masa seperti itu sementara orang lebih menghargai kuda pacuan?" katanya. 
Kekecewaan itu tampaknya begitu berat merundungnya, hingga ia seringkali 
sengaja sembunyi hanya untuk mengelak wawancara dengan seorang wartawan. Meski 
banyak dorongan dan tawaran buat menulis biografinya, ia selalu menggelengkan 
kepala. Dulu katanya, memang pernah ada seseorang yang menerbitkan riwayat 
hidupnya. Tapi ia sendiri sudah lupa judul buku dan nama penulisnya.

Suatu malam pada tahun 1981, sehabis melatih anak-anak PSM, Ramang pulang 
dengan pakaian basah dan membuatnya sakit. Enam tahun ia menderita sakit di 
paru-parunya tanpa bisa berobat ke Rumah sakit karena kekurangan biaya. Pada 
tanggal 26 September 1987, di usia 59 tahun, mantan pemain sepak bola 
legendaris itu meninggal dunia di rumahnya yang sangat sederhana yang ia huni 
bersama anak, menantu dan cucunya yang semuanya berjumlah 19 orang. Ramang 
dimakamkan di TPU Panaikang. Untuk mengenang jasanya, sebuah patung di lapangan 
Karebosi dibuat untuknya. Selain itu hingga sekarang salah satu julukan PSM 
Makassar adalah Pasukan Ramang. Ironis memang mengetahui kisah hidup mantan 
bintang sepak bola itu. Apalagi Ramang kini hanya diapresiasi dengan sebuah 
patung yang dibuat seadanya, yang berdiri di pintu utara Lapangan Karebosi.

"Toa mi Ramang" istilah yang biasa dipakai oleh anak muda makassar
Ramang kecil Kadir kecil.. Menggiring bola di jalanan Ruli kecil Riki kecil.. 
Lika liku jebolkan gawang (Iwan Fals)



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke