Ref: Apa komentar Anda yang berdam di Jakarta terhadap tulisan ini?

http://kolomkita.detik.com/baca/artikel/26/3540/tinggal_di_jakarta



      CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA

       
      Tinggal di Jakarta
      Ria Hardianti - Amerika Serikat

      Saya terkadang suka takjub sendiri jika sedang mengunjungi Jakarta, 
Indonesia? Mengapa? Karena biaya hidup di Jakarta sangat mahal. Malah lebih 
mahal jika dibandingkan biaya hidup di Kansas.
     







Sebagai contoh, jika makan di salah satu mall terkenal di Jakarta, untuk empat 
orang, bisa menguras kantung sekitar Rp.400,000. Sedangkan, jika makan di salah 
satu mall terkenal di Kansas, biayanya tidak lebih dari Rp. 250,000.

Untuk transportasi, jika naik taxi di Jakarta dari Sudirman menuju Bintaro, 
argo akan menunjuk kepada harga Rp.2220,000. Sedangkan jika naik taxi dari 
Jamaica, Queens ke China Town, argo taxi di New York akan menunjuk ke pada 
harga Rp.170,000. Belum lagi, harga sebuah baju merek Mango, di Jakarta bisa 
dihargai Rp.500,000. Sementara di JC Penney, baju mango hanya dibandrol seharga 
Rp.200,000.

Tingginya biaya hidup di Jakarta membuat saya tidak habis berpikir, bagaimana 
caranya penduduk di Jakarta bisa survive? Walaupun dengan gaji 5 juta pun, 
belum tentu bisa hidup mapan. Unbelievable. Darimana ya bisa bertahan hidup 
seperti itu?

Setelah sekian lama berbincang dan mengamati cara survive orang Jakarta, saya 
bisa mengambil kesimpulan pribadi yaitu:

Credit Card
Mudahnya proses persetujuan aplikasi credit card mengacu kepada gaya hidup 
besar pasak daripada tiang. Proses aplikasi credit card di Jakarta hanya dengan 
menggunakan nomor KTP dan surat keterangan gaji. Ada juga konon, beberapa 
instansi bank mengambil foto lokasi rumah calon pengguna credit card.

Di sejumlah kantor swasta, bagian personalia bekerja sama dengan 
karyawan/karyawatinya untuk membuat surat keterangan gaji abal-abal, yaitu 
menaikkan gaji karyawan/karyawati tersebut.
Si pengguna credit card secara berlebihan menggunakan credit cardnya untuk 
menikmati kehidupan mewah diatas. Ketika tagihan datang, si pengguna hanya 
membayar dengan jumlah minimum. Bahkan beberapa orang yang saya tanyakan, 
memiliki 5 – 6 buah credit card, dan melakukan aksi balance transfer antar 
credit card, atau terkenal dengan istilah gali tutup lubang.

Pinjam Uang
Gaya hidup yang mewah ditunjang dengan atraksi pinjam uang ke orang tua atau 
kerabat yang kaya. Kultur orang di Indonesia, orang tua masih mau menafkahi dan 
meminjamkan uang kepada anaknya, dan mengiklhaskan anaknya jika mereka tidak 
sanggup mengembalikannya.



Ada salah satu keluarga yang cukup mapan di Indonesia, anaknya, sebut saja 
namanya B, dari kecil hingga dewasa dimanja dengan uang dan fasilitas. 
Akibatnya si anak menjadi malas bekerja, sampai dia menikah, istri dan ketiga 
anaknya hidup dari menadahkan tangan.

Si B, setiap bulan rajin menyetor muka ke orang tuanya, untuk meminta uang. 
Bahkan, ketika ayahnya wafat pun, B masih tega meminta uang kepada ibunya, 
walapun harta warisan sudah diberikan ke B.

Istrinya yang juga tidak berkerja, rajin pula meminta uang kepada keluarga 
adiknya yang kebetulan mapan. Mereka sekarang berusia 58 tahun dan istrinya 53 
tahun. Seumur hidupnya, tidak pernah bekerja. Namun bisa menikmati jalan-jalan 
ke luar negeri, membeli rumah dan mobil, anak-anaknya pun bisa menikmati 
pendidikan gratis. Kesemuanya itu diperoleh dari hasil meminta-minta ke orang 
tua dan kerabatnya.

Saya sempat terkejut, ketika pergi bersama keluarga B karena mereka memiliki 
kartu kredit Citibank. Saya sempat bertanya, darimana mereka bisa memperoleh 
kartu kredit tanpa bekerja? Mereka menjawab, bahwa adiknya yang istri pengusaha 
membantu mereka mengeluarkan surat keterangan bekerja dan gaji palsu, seolah 
olah mereka bekerja di perusahaan suaminya.
Dan, dengan modal credit card tadi, mereka belanja kebutuhan sandang dan pangan 
hingga batas limit karttu kredit.

Membayarnya? Jika tidak membayar dengan jumlah minimum hasil todong kanan kiri, 
mereka tidak membayarnya sama sekali. Dan, kemudian mengajukan aplikasi kartu 
kredit ke bank lainnya.



Satu rumah 10 keluarga
Di Indonesia, saya sering juga menjumpai, satu rumah diisi lebih dari 2 – 3 
keluarga. Banyak muda mudi yang menikah, tapi masih tetap tinggal bersama orang 
tua atau mertuanya. Bahkan hingga pasangan itu memiliki anak, mereka tetap 
tinggal bersama orang tua mereka. Banyak pula wanita atau pria dewasa yang 
sudah bekerja tetapi belum menikah, tetap tinggal bersama orang tuanya.

Di Amerika, jarang sekali ada keluarga yang masih mau menampung anaknya setelah 
lulus SMA. Biasanya anak-anak mereka, setelah lulus SMA, kemudian pindah 
mengontrak kamar atau apartemen bersama teman-temannya. Mereka hanya pulang 
ketika liburan thanksgiving, natal, atau Independence Day.

Lalu, apakah mereka akan urunan membayar biaya tagihan listrik, air, gas, dan 
makan sehari hari jika tinggal bersama orang tuanya? Tergantung kondisi 
keuangan orang tuanya. Jika orang tuanya berada, mereka tetap dibiayai, tanpa 
dipungut biaya sepeser pun. Dan mereka pun memiliki keleluasan untuk menikmati 
gaya hidup mewah dan mahalnya Jakarta. Jika orang tuanya dalam kondisi 
biasa-biasa saja, umumnya mereka ikut urun bantu untuk membayar biaya di atas. 



Korupsi
Ini cara hidup yang sudah sangat biasa di Indonesia. Mulai dari tingkat 
kelurahan hingga tingkat pejabat teras pemerintahan. Mulai dari perusahaan 
swasta nasional hingga perusahaan swasta asing.

Sebagai ilustrasi, ada seorang kenalan yang bekerja sebagai purchasing manager 
di sebuah hotel terkenal di Jakarta. Beliau mendapatkan tips dari seluruh 
supplier yang menyuplai kebutuhan hotel. Mulai dari supplier bahan pangan 
hingga supplier kontruksi bangunan.

Gajinya sudah cukup besar, kurang lebih 15 juta. Tetapi uang tipnya berkisar 
antara 50 hingga 100 juta sebulannya. Kebetulan jabatan saya di Amerika kurang 
lebih sama dengan beliau. Dengan entengnya beliau bertanya kepada saya, “Wah, 
uang tipsmu pasti lebih banyak dari aku yah. Sudah dibayar dollar, dapatnya 
dollar pula”.

Saya kaget dan menjelaskan bahwa di Amerika, tidak pernah sepeser pun saya 
mendapatkan uang tips. Apabila perusahaan tempat saya bekerja mengetahui, sudah 
pasti saya akan dipecat. Paling hebat, saya hanya dikasih permen coklat atau 
cookies pada saat natal dan tahun baru. Itupun, harus saya bagi dengan seluruh 
anggota tim di departemen tempat saya bekerja.

Contoh lain, salah seorang kerabat yang bekerja di pemerintahan, gajinya tidak 
lebih dari sepuluh juta per bulan. Tetapi memiliki rumah lebih dari 12 buah, 
dan keluarganya selalu berkunjung ke luar negeri 2 – 3 kali dalam setahun. 
Karena beliau bekerja sebagai pimpinan proyek. Beliau pun mendapat tips dan 
bonus dari supplier dan kontraktor yang beliau pekerjakan. Besarnya, lebih dari 
1 milyar perbulannya.

Jadi, dari ketiga survey pribadi yang saya lakukan, saya merasa bahwa 
pendapatan saya di Amerika tidak akan pernah bisa menunjang gaya hidup saya di 
Jakarta. Karena itu saya memutuskan hanya akan berkunjung ke kota kelahiran 
saya apabila saya sudah benar-benar menabung selama tiga tahun. Kalau tidak, 
selamat gigit jari jempol, karena kekurangan uang ketika berada di sana.



Saya juga jadi teringat sindirian salah seorang kerabat saya, “ Kamu itu bule 
kere . Gayamu saja yang sudah jadi warga Negara Amerika, paspor biru, dan gaji 
dollar, tapi tiap pulang ke Indonesia tidak pernah bisa memanjakan keluargamu 
atau membantu ekonomi saudara- saudaramu”

…Saya hanya terdiam dan terpekur…

Tabik


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke