Ref: Apakah ini bukan ”human trafficking” yang disponsor rezim NKRI? http://www.gatra.com/fokus-berita/20535-tki-on-sale-bukan-sekedar-soal-bisnis.html
'TKI on Sale' Bukan Sekedar Soal Bisnis a.. Rabu, 07 November 2012 11:06 Rombongan TKI kembali ke Tanah Air (ANTARA/Feri) Jakarta, GATRAnews - Martabat bangsa Indonesia sedang dipertaruhkan di dunia. Salah satunya terkait dengan soal ketenagakerjaan. Berbagai gonjang ganjing buruh versus pengusaha di negeri ini, seringkali justru membuat citra Indonesia terpuruk. Demo buruh yang dibalas dengan ancaman mogok operasi oleh para pengusaha, semakin membuat iklim bisnis di negeri ini tidak kondusif. Ketidak pastian hukum dalam bekerja dan berusaha, mengancam kemajuan industri. Ujung-ujungnya, investor ogah menanamkan duitnya di Indonesia. Sementara pengangguran semakin meningkat, banyak pekerja Indonesia yang hengkang ke negeri jiran. Sialnya, di negara tetangga itu, mereka diperlakukan bak barang dagangan. Dijual di mall-mall dengan tawaran 'diskon' bagi pembelinya. Teori sebab akibat itu sudah terbukti. Belum tuntas kasus 'TKI on Sale' di Malaysia, kini di Singapura beredar isu 'penjualan' tenaga kerja asal pulau Jawa. Adalah Eva Kusuma Sundari, anggota Komisi III DPR, yang menginformasikan bahwa di Bukit Timah Plaza Singapura berdiri papan-papan reklame tentang penjualan pembantu rumah tangga (PRT) asal Jawa. Menurut Eva, informasi itu ia peroleh dari warga negara Indonesia yang berada di negeri singa merlion itu. “Tidak saja info PRT yang diiklankan itu menempel Curriculum Vitae masing-masing Tenaga Kerja Wanita di kaca, tapi para TKW itu juga diberi seragam dan diminta duduk berjajar layaknya barang dagangan yang dipajang untuk dipilih para pembeli,” kata Eva dalam rilis yang diterima GATRAnews, Selasa (6/11/2012). Iklan berjudul ‘Javamaids’ itu juga memuat sistem pembelian para TKW asal Jawa itu, di mana mereka tidak diberi gaji selama enam bulan pertama bekerja. “Ini menyedihkan. Pemerintah Uni Emirat Arab saja melarang potongan gaji seperti itu. Celakanya, cara menjual TKW Jawa dengan potongan gaji itu justru dilakukan oleh banyak agensi di berbagai mal seantero Singapura,” ujar Eva. Mantan anggota Panitia Khusus Revisi Undang-Undang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia ke Luar Negeri (PTKILN) itu berpendapat, cara penjualan PRT Jawa di mal-mal Singapura itu bahkan jauh lebih keterlaluan dibanding iklan ‘TKI On Sale’ di Malaysia. “Cara penjualan di Singapura nyaris mendekati penjualan budak di zaman pertengahan. Bedanya, di sini ada unsur sukarela dari TKW dan ada kelalaian negara pengirim dan penerima,” kata Eva. Meski informasi itu dibantah oleh Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Moh Jumhur Hidayat, toh kabar yang kadung beredar itu membuat warga Indonesia gerah. Sebab, harga diri bangsa ini sedang dilecehkan di negeri tetangga. Untuk meredam suasana tak nyaman itu, Jumhur mengaku sudah melakukan klarifikasi ke berbagai pihak di Singapura. Salah satunya kepada Duta Besar RI di Singapura, Andri Hadi. Menurut Jumhur, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Singapura telah memanggil perusahaan pemasang iklan ‘Javamaids’ itu pada Senin (5/11/2012), untuk dimintai penjelasan. “Pencantuman ‘Javamaids’ bukan diartikan TKI Jawa, melainkan sebuah nama perusahaan perekrut tenaga kerja sektor domestik yang ada di Singapura,” jelas Jumhur mengutip penjelasan Andri Hadi, dalam keterangan tertulis yang diterima GATRAnews. Menurutnya, KBRI Singapura juga mendapat penegasan dari pihak Javamaids bahwa iklan perekrutan itu tidak ditujukan bagi TKI. Iklan itu, kata pihak Javamaid, diterbitkan lantaran biaya rekrutmen TKI dirasakan agak terlalu tinggi bagi para keluarga Singapura. Jumhur menjelaskan, Javamaids telah menyatakan mencabut seluruh iklan yang mengakibatkan ketidaknyamanan berbagai pihak di Indonesia itu. Selanjutnya, KBRI Singapura meminta pemilik perusahaan mengubah nama Javamaids agar lebih beretika. Apalagi, akibat nama Javamaids itu kini menimbulkan salah pengertian secara luas di banyak kalangan, utamanya dari iklan perekrutan pembantu rumah tangga yang berkonotasi TKI Jawa itu. "Apabila Javamaids tidak memenuhi harapan mengubah namanya, maka KBRI akan mencabut izinnya dalam merekrut TKI," ujar Jumhur. Dalam iklan yang dilaporkan ke sejumlah pihak di Indonesia itu, nama Javamaids memang ditafsirkan sebagai promosi jual beli TKI asal Jawa, termasuk dikesankan memajang gambar TKI. Toh alasan yang dibuat-buat itu gampang dibaca. Mereka (para pemasang iklan) sepertinya ingin cuci tangan lantaran di Indonesia mulai meributkan hal itu. Alasan iklan itu ditujukan untuk merekrut tenaga kerja selain TKI, sangat tidak masuk akal. Dari nama lembaga perekrut dan penyalur saja sudah jelas: Javamaids. Tentu mereka hanya menyalurkan tenaga kerja dari Jawa. Direktur Eksekutif Migrant Care, Anis Hidayah, menduga bahwa iklan 'TKI on Sale' di Malaysia dan Singapura adalah bagian dari aksi sindikat yang bergerak merekrut tenaga-tenaga kerja dari Indonesia. Hal yang mendasari itu, kata Anis, saat ini ada 14 ribu visa kerja yang dikeluarkan pihak Malaysia kepada tenaga kerja asal Indonesia. Itu belum termasuk visa kerja di Singapura. "Ini terorganisir, terkoneksi dengan pihak Indonesia. Memangnya puluhan ribu TKI itu siluman, bisa masuk ke negara lain begitu saja," ujar Anis. Ia menjelaskan, setelah moratorium pengiriman TKI ke Malaysia dicabut, memang baru sekitar 64 TKI yang dikirim ke sana. Demikian pula TKI yang ke Singapura semakin diawasi dengan ketat. Karena kebutuhan tenaga kerja yang besar, pihak Malaysia dan Singapura kemudian mengeluarkan visa untuk para tenaga kerja Indonesia. "Artinya, ada pihak-pihak yang bergerak yang menjalankan bisnis rekrutmen TKI. Secara ilegal, tentu saja," tegasnya. Anis menduga, pemerintah RI pasti tahu mengenai persoalan ini. Namun lagi-lagi, kata Anis, pemerintah tidak serius menyikapi masalah ini. "Siapa yang bergerak mendatangkan puluhan ribu TKI itu? Ini kan data dan fakta. Pemerintah pasti tahu. Ini namanya kan perdagangan manusia," jelasnya. Buktinya, kata Anis, sangat jelas. Yakni iklan-iklan yang beredar di mall-mall negeri jiran itu. Menyoal iklan tersebut, Anis berharap perwakilan Indonesia di Malaysia serius menelusuri siapa pembuat iklan menggegerkan itu, berikut agen penyalurnya. Aksi 'jual beli' TKI di negeri Jiran memang tidak sekedar berimplikasi bisnis. "Ini sudah menyangkut harga diri bangsa ini yang tengah dilecehkan," ujar Eva. Karena itu, segenap komponen bangsa ini harus bersatu melawan upaya-upaya menjatuhkan citra Indonesia di mata dunia. (HP) [Non-text portions of this message have been removed]
