Inilah Skenario Cikeas Amankan Andi Cs Versi Si TrioMacan2000

Kisah penangkapan Sesmenpora Wafid Muharam, Mindo Rosalina Manullang 
alias Rosa, dan Mohammad El Idris oleh petugas KPK di kantor Kemenpora 
pada 21 April 2011 itu membuktikan keterlibatan sejumlah petinggi negara
 dalam perkara korupsi. Penangkapan ketiganya merupakan pengembangan 
dari kasus korupsi Wisma Atlet, Palembang.

NAMUN, dalam perkembangannya, Wisma Atlet punya keterkaitan dengan kasus 
korupsi Wisma Hambalang, Bogor. Menpora Andi Malarangeng dan adiknya Choel 
Malarangeng pun ikut terseret menyusul kaburnya M. Nazaruddin ke luar negeri.
Berdasarkan kicauan @TrioMacan2000, ternyata ketika 
sore hari saat terjadi penangkapan terhadap Wafid Muharam, Rosa, dan El 
Idris, Menpora Andi Malarangeng langsung menggelar rapat dadakan malam 
harinya. Rapat diadakan di lantai 8 Gedung Kemenpora, dihadiri para 
pejabat eselon I dan kordinator media massa yang direkrut dari luar 
Kemenpora. Choel Malarangeng juga kabarnya hadir dalam rapat itu.

Agenda utama rapat itu adalah penggiringan opini dengan bantuan media 
massa dalam rangka pengamanan Andi dan Choel. Adapun hasil rapat itu 
adalah, pertama, jika ada isu korupsi yang mengarah ke Andi dan Choel, 
media diminta tidak memberitakan. Kedua, semua informasi terkait pelaku 
korupsi, media dipesan untuk mengarahkan tuduhan kepada Nazaruddin dan 
Anas Urbaningrum. Ketiga, media massa berskala nasional mendapat imbalan
 sebesar Rp 20 miliar. Keempat, media massa bertaraf regional dijanjikan
 kue iklan dari Kemenpora.

Masih menurut Si Macan yang 
fenomenal itu, informasi mengenai strategi pengamanan Menpora Andi dan 
rencana fokus fitnah Anas Urbaningrum tersebut, ternyata sampai ke 
telinga Anas. “Namun sayangnya Anas tidak mempercayai info yang 
disampaikan ke dia dan anggap remeh fitnah yang dilancarkan Andi dan 
Choel Malaranggeng itu.”

Anas baru mempercayai informasi itu 
ketika kasus tertangkapnya Wafid Muharram Cs menjadi isu nasional yang 
sangat besar. Saat itu, koordinator media yang disewa Andi dan Choel 
sukses melobi media-media besar agar tidak menyebut keterlibatan Andi. 
Sebaliknya, semua media kompak memojokkan Nazaruddin dan Anas.

“Kita tahu bahwa Nazar buron ke Singapore satu hari sebelum dia 
diumumkan dicekal oleh KPK/Kemenhukham. Nazar pergi ke Singapore dengan 
alasan berobat. Sebelumnya dia sempat bertemu 4 mata dengan Marzuki Ali,
 Ketua DPR.”

Si Macan mengemukakan, sehari sebelumnya Nazarudin
 juga sempat bertemu SBY di Cikeas dan melakukan rapat bersama elit 
Partai Demokrat. Rapat tersebut adalah atas permintaan Nazaruddin yang 
ngotot meminta bertemu SBY. Nazaruddin ngotot bertemu SBY secara 
langsung karena menolak menandatangani pengunduran dirinya sebagai 
Bendahara Umum Demokrat.

Sebenarnya, saat itu Nazaruddin sedang
 bersembunyi di Bali. Pasalnya, sejak kasus korupsi wisma atlet 
terbongkar, serangan bertubi-tubi terus diarahkan ke Demokrat. Salah 
satunya memecat Nazaruddin sebagai kasir partai. SBY lalu meminta Anas 
menemui Nazaruddin di Bali agar bersedia menandatangani surat 
pengunduran dirinya.

“Lalu terjadilah pertemuan SBY, Nazar, dan
 elit PD di Cikeas yang kemudian kita ketahui sebagai rapat yang sangat 
memalukan SBY. Saat rapat dengan SBY di Cikeas itu, SBY minta Nazar 
mengundurkan diri sebagai Bendum PD dan DPR RI. Nazar menolak. Dia tidak
 mau mundur.”

“Nazar hanya mau mundur sementara sebagai anggota
 DPR saja. Tapi tidak mau mundur sebagai Bendum PD. SBY marah besar, 
nazar balik marahi SBY. Nazar balik marahi SBY dan beberkan keterlibatan
 Andi Malaranggeng cs, Ani SBY, dan Ibas dalam korupsi-korupsi yangg 
dilakukannya.”

“SBY sebagai presiden tentu saja meradang dengar
 ocehan Nazar. Apalagi Nazar mengancam akan membongkar semua korupsi 
elit PD dan Cikeas. Sambil menunjuk-nunjukkan tangannya ke SBY, Nazar 
mengancam akan seret semua elit PD dan keluarga Cikeas ke penjara/KPK. 
Lalu tiba2 ...Dyarrrr !! SBY menggebrak meja, berdiri, mukanya merah 
padam menahan amarah. Lalu...SBY berbalik badan dan masuk kamar.”

Besoknya, Nazaruddin kabur ke Singapura, sambil menunggu ‘pertolongan’ 
SBY menyelesaikan masalahnya di KPK. Ternyata, SBY gagal mengintervensi 
KPK, hingga Nazaruddin akhirnya ditetapkan sebagai tersangka. “Sejak 
itu, mulailah Nazar mengoceh..nama Angie, Anas, Andi, Ibas dan Ani SBY 
dia sebut-sebut.”

“Penyebutan nama-nama tadi sebagai koruptor 
wisma atlet (saat itu Bambalang belum disentuh Nazar/KPK) disampaikan 
via wawancara dengan stasiun TV. Karena Nazar sebutkan nama-nama 
tersebut via wawancara langsung, tim kordinator yang dihired Menpora 
tidak bisa kontrol pemuatan berita-berita di media. Lalu, atas usul Andi
 Malaranggeng dan direstui Cikeas, berangkatlah Choel Malaranggeng ke 
Singapore untuk temui Nazar.”

Sebelum ditemui Choel, sudah 
banyak elit Demokrat yang mengunjungi Nazaruddin ke Singapura. 
Alasannya, membesuk Nazaruddin yang saat itu beralasan sedang 
memeriksakan kesehatannya.

“Padahal, sebagian besar elit PD 
yang temui Nazar di Singapore adalah untuk mengemis kepada Nazar agar 
nama mereka jangan diseret-seret oleh Nazar. Sebagian lagi ke Singapore 
temui Nazar untuk membantu pelarian uang dan asset Nazar yang triliunan 
jumlahnya di Indonesia. Sekurang-kurangnya Rp800 milyar uang nazar 
berhasil dilarikan ke Singapore sebelum diblokir atau disita KPK. 
Sebagian lagi temui Nazar di Singapore untuk membujuk Nazar dan bawa 
pesan-pesan SBY. Nazar menolak. Dia tidak mau berunding dengan 
utusan-utusan itu.”

Namun, apa motif kepergian Choel ke 
Singapura tidak mendapat porsi besar dalam pemberitaan media massa. Di 
negeri Singa itu, Choel membujuk Nazaruddin agar tidak lagi menyebut 
keterlibatan Andi, Ani SBY, dan Ibas dalam perkara korupsi. Imbalannya, 
Choel atas perintah Cikeas, menjanjikan perlindungan kepada Nazaruddin 
termasuk vonis hukum ringan dan pengamanan aset miliknya.

“Nazar juga diminta memfokuskan serangan ke sosok Anas, Angie dan Mirwan
 cs. Nazar setuju tapi dia minta "jaminan" dari SBY. Choel kontak 
Cikeas. Jaminan SBY terhadap Nazar sesuai dengan kesepakatan Choel-Nazar
 disetujui. Tapi Nazar harus wawancara sekali lagi. Nazar harus 
wawancara sekali lagi dengan stasiun TV secara live. Wawancara terakhir 
ini tidak boleh menyebutkan nama Andi, Ibas, dan Nni SBY. Setelah 
persiapan Nazar untuk keluar dari Singapore selesai dilakukan, barulah 
Nazar muncul di TV utk wawancara langsung.”

Menurut Si Macan, 
usai melaksanakan tugasnya, Nazaruddin akhirnya keluar dari Singapura 
ditemani pengawal dan konsultan keuangannya. Selanjutnya, SBY pura-pura 
menggelar konferensi pers yang meminta Kapolri segera menangkap 
Nazaruddin.

“Semua perintah SBY itu adalah sandiwara belaka. 
SBY sudah tahu Nazar tidak berada di Singapore lagi. Hanya untuk menipu 
rakyat supaya puas. Selama pelarian Nazar ke Malaysia, Vietnam, 
Kolombia, dan seterusnya itu, Chole dan tim SBY mengatur bagaimana Nazar
 dapat "diamankan" sesuai kesepakatan. Sementara itu Nazar diminta untuk
 sesekali tetap wawancara langsung dengan stasiun TV untuk terus 
melakukan fitnah dengan menyebut-nyebut keterlibatan Anas.”

Babak baru pun dimulai. Usai mengamankan KPK dan para hakim di 
Pengadilan Tipikor, Nazaruddin akhirnya berhasil ‘ditangkap’ di 
Kolombia. Meski demikian, penangkapan itu belum bisa menjamin Nazaruddin
 bisa disetir seratus persen. Untuk itu, sebagai jaminan agar Nazaruddin
 patuh, Cikeas mengatur agar penangkapan istri Nazaruddin, Sri Neneng 
Wahyuni dan anaknya, ‘gagal’ ditangkap bersama Nazaruddin.

“Istri dan anak-anak Nazar dibiarkan lolos di Kolumbia dan kemudian 
dipindahkan ke Malaysia dengan "pengawalan" aparat. Sebagai "sandera". 
Nazar tidak berkutik. Dia terpaksa jalankan kesepakatan bersama Choel di
 Singapore itu. Dia mulai koar-koar lemparkan tuduhan terus menerus ke 
Anas. Selain Anas, nama Angie dan Mirwan terus menerus juga 
diseret-seret Nazar. Kita tahu kemudian Angie dinyatakan KPK sebagai 
tersangka wisma atlet.”

Si Macan melanjutkan kicauannya dengan 
menyebut KPK di bawah pimpinan ketua baru Abraham Samad, tunduk pada 
perintah Istana. Salah satunya, menyeret Angelina Sondakh sebagai 
tersangka. Padahal, saat itu belum cukup alat bukti untuk menjerat 
anggota Komisi X DPR itu.

“Itulah blunder atau kesalahan Samad 
yang pertama. Tetapkan Angie sebagai tersangka korupsi wisma atlet 
padahal tak ada alat bukti. Penyidik2 KPK meradang. Merasa diintervensi 
oleh istana dan Samad. Kemarahan ini memuncak ketika Miranda Gultom juga
 dinyatakan sebagai TSK. Akhirnya terjadilah peristiwa yang memalukan 
itu. Ruang kerja Samad diseruduk oleh penyidik-penyidik KPK yang 
berontak terhadap politisasi Samad. Publik geger. Komite etik KPK turun 
tangan. Tapi Samad selamat. Status tersangka Angie di wisma atlet yang 
langgar prosedur dikoreksi. Perlahan-lahan dan secara sembunyi-sembunyi,
 KPK kemudian mengubah status Angie dari tersangka wisma atlet menjadi 
tersangka korupsi Diknas.”

Di saat yang sama, Nazaruddin terus 
diarahkan untuk menyerang Anas Urbaningrum Cs. Ia tak berkutik karena 
anak dan istrinya djadikan sandera setelah disandera Cikeas.

“Nazar sering curhat masalah ini kepada seorang mantan menteri yang juga
 jadi tahanan di LP Cipinang. Dia juga ceritakan skenario Cikeas. 
Kemudian, sebagaimana yang kita ketahui bersama, Nazar sang Raja 
Koruptor Indonesia hanya di vonis 4 tahun oleh hakim Tipikor. Kita juga 
tahu, 30 kasus korupsi Nazar yang lain dan 1 kasus pencucian uangnya 
sebesar Rp300 M bersama Sandiuno di Garuda "diamankan" KPK. Nazar patuhi
 kesepakatam dengan Choel yang jadi utusan SBY di Singapore. SBY juga 
penuhi janjinya lindungi dan atur vonis nazar.”

Sukses 
memojokkan Anas, petualangan Nazaruddin pun masuk ke babak selanjutnya. 
Istrinya, Neneng Sri Wahyuni, ‘dipulangkan’ ke Indonesia, dan pura-pura 
ditangkap di rumahnya di kawasan Jakarta Selatan.

“Kini Neneng 
sudah disidang. Pura-pura diancam 20 tahun. Nanti Jaksa KPK 
paling-paling hanya tuntut Neneng selama 5-6 tahun dan vonisnya hanya 
sekitar 3-4 tahun. Nanti bebas barengan dengan suaminya, Nazar. Paling 
lama 2 tahun lagi Nazar bebas, setelah dikurangi remisi-remisi yang 
memang dijanjikan untuknya. Ada Amir Syamsudin, kacung Cikeas sebagai 
Menkumham.”

Meski begitu, lanjut Si Macan, skenario pengamanan 
Menpora Andi ternyata tidak bisa mulus. Itu karena audit BPK terhadap 
Hambalang yang sejak awal sudah dikondisikan agar tidak memasukkan nama 
Menpora, berantakan di ujung jalan.

“Upaya Ruki (anggota BPK) 
untuk amankan Andi Malaranggeng sesuai arahan Cikeas bocor. Nama Menpora
 Andi akhirnya dimasukkan lagi dalam LHP BPK Hambalang. Nama Menpora 
Andi M akhirnya tetap dimasukkan meski BPK tetap mau lindungi Andi 
dengan tingkat keterlibatan yang hanya dalam hal "pembiaran". Tak kurang
 Menkeu Agus Marto meradang dengan rekayasa LHP BPK yang lindungi Andi 
M. Agus ngomel ke mana-mana. Agus merasa dikorbankan. Agus pantas sakit 
hati pada SBY. Dia yang hanya lalai karena ditipu nota dinas dirjen 
anggaran dan Sesmenpora, kok dinyatakan kriminal. Sedangkan Menpora Andi
 M yang nyata-nyata korup puluhan milyar dan Choel yang terima suap Rp77
 milyar di Hambalang, hanya dinyatakan pembiaran.”

Sementara 
itu, Presiden SBY menegaskan dirinya tidak akan melakukan intervensi 
terhadap sejumlah kasus korupsi yang menyeret kader Demokrat. SBY 
mengaku menghormati proses hukum yang berlaku.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke