http://www.shnews.co/detile-11518-komnas-ham-minta-tnipolri-tahan-diri.html

Komnas HAM Minta TNI-Polri Tahan Diri 
Ninuk Cucu Suwanti | Kamis, 29 November 2012 - 15:10:38 WIB



Kekerasan di Papua meningkat.


JAKARTA – Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) meminta jajaran TNI 
dan Polri menahan diri untuk menyikapi situasi Papua terkait dengan kekerasan 
yang terus meningkat di Papua menjelang peringatan kemerdekaan Papua 1 
Desember. 

“Malam ini, saya dan ketua Komnas HAM akan turun ke Papua untuk memastikan agar 
eskalasi kekerasan tidak meningkat lagi,” ungkap anggota Komnas HAM Natalis 
Pigay saat dihubungi SH, Kamis (29/11). 

Natalis dan Ketua Komnas HAM Otto Nur Abdullah akan bertemu dengan tokoh 
masyarakat, aktivis, dan juga sejumlah tokoh agama untuk memastikan peringatan 
1 Desember diekspresikan dengan cara damai. 

Mereka juga akan bertemu dengan Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Christian 
Zebua dan Kapolda Papua Irjen Tito Karnavian untuk memastikan jajaran tentara 
dan polisi tidak bereaksi keras terhadap penyampaian aspirasi masyarakat. 

Seperti diketahui, eskalasi kekerasan meningkat menjelang peringatan 1 
Desember. Rombongan Kapolda Papua Irjen Tito Karnavian, Rabu (28/11) sore 
sekitar pukul 17.00 WIT diadang gerombolan bersenjata saat melintas wilayah 
Indawa atau perbatasan Distrik Makki di Kabupaten Jayawijaya dan Distrik Tiom 
Kabupaten Lany Jaya, Papua. Sempat terjadi kontak senjata. Kapolda Irjen Tito 
Karnavian dilaporkan selamat. 

Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Mabes Polri Brigjen Boy Rafli 
Amar membenarkan peristiwa itu ketika dihubungi SH di Jakarta, Kamis (29/11) 
siang ini. Ia mengatakan pengadangan gerombolan bersenjata terjadi Rabu sekitar 
pukul 17.00 WIT. Bahkan, sempat terjadi kontak senjata selama dua jam. 

Boy menjelaskan, sekitar pukul 17.00 WIT rombongan kapolda melihat kelompok 
mencurigakan yang terlihat membawa senjata api. Tim yang dipimpin Tito kemudian 
mengejar kelompok tersebut. 

"Namun begitu dikejar, secara tiba-tiba dari kelompok sipil bersenjata 
mengeluarkan tembakan sehingga dari rombongan kapolda membalas serangan 
tersebut dan merangsek ke arah hutan dan lembah," jelasnya. 

Namun, menurut Boy, tim kapolda berhasil memukul mundur kelompok bersenjata 
yang berjumlah sekitar 40 orang tersebut. Selanjutnya, penyerangan dihentikan 
untuk menghindari korban dari rombongan kapolda dan kembali perjalanan menuju 
Distrik Tiom Kabupaten Lany Jaya. "Tidak ada korban dalam peristiwa tersebut," 
imbuh Boy. 

Sebelumnya, terjadi penyerangan kantor Polsek Pirime, Kabupaten Lany Jaya, 
Papua, yang menyebabkan Kapolsek Pirime Inspektur Dua (Ipda) Rolfi Takubesi, 
Brigadir Jefri Rumkorem, dan Brigadir Satu (Briptu) Daniel Makuker tewas. Juga 
terjadi pembunuhan terhadap pendeta Federika Metalmeti di Bovendigul. 

Pendeta perempuan yang tengah hamil tersebut ditemukan tewas di Jalan 
Trans-Papua, tepatnya di dekat Pos Pol Kalimak Distrik Mandobo, Kabupaten Boven 
Digul, Papua, Rabu (21/11), sekitar pukul 04.00 WIT. Korban diduga tewas akibat 
tembakan. Kapolri Jenderal Timur Pradopo menolak berkomentar saat ditanya 
apakah sejumlah insiden itu terkait dengan kegiatan menjelang 1 Desember. 

Khawatirkan Bintang Kejora 

Sementara itu, dari Jayapura dilaporkan Kepala Kepolisian Resor Kota Jayapura 
AKPB Alfred Papare mengingatkan agar warga setempat tidak melakukan aksi unjuk 
rasa dan mengibarkan bendera Bintang Kejora pada 1 Desember 2012. 

"Kami mengimbau dan mengingatkan agar kepada segenap lapisan masyarakat dan 
siapa pun itu yang ada di kota ini agar tidak berbuat hal yang melanggar hukum. 
Tidak boleh ada pengibaran BK, termasuk aksi unjuk rasa," katanya seperti 
diberitakan Antara, Kamis. 

Ia menegaskan aparat kepolisian tidak segan-segan mengambil tindakan tegas jika 
imbauan itu diabaikan. "Apabila dilaksanakan oleh masyarakat atau kelompok 
tertentu, baik itu kibar BK atau aksi unjuk rasa, kami tetap akan mengambil 
tindakan hukum," katanya. 

Namun Natalis mengingatkan aksi pengibaran Bintang Kejora merupakan aksi 
spontan yang berlangsung tiap tahun. Ia akan meminta pihak polisi dan TNI untuk 
tidak bereaksi berlebihan terhadap aksi masyarakat yang dilangsungkan secara 
damai. 

Sejumlah kelompok organisasi yang ada di Jayapura, seperti Komite Nasional 
Papua Barat (KNPB), Solidaritas Hukuman/HAM Demokrasi Rakyat Sipil Papua 
(SHDRP), West Papau National Authority (WPNA), Dewan Adat Papua (DAP), dan 
Penjaga Tanah Papua (PETAPA) menyatakan akan merayakan ibadah syukur pada 1 
Desember nanti di Makam Theys, Sentani, Kabupaten Jayapura. 

Mereka berjanji tidak akan mengibarkan bendera Bintang Kejora pada 1 Desember 
nanti. "Yang kami lakukan pada 1 Desember nanti adalah hanya ibadah syukur di 
makam Theys di Sentani, Kabupaten Jayapura," kata juru bicara KNPB Wim Wedlama. 

Mantan Dubes RI untu Papua Nugini, Jopari, mengatakan pendekatan keamanan sama 
sekali bukan solusi untuk menyelesaikan masalah Papua. “Di Papua, kita 
berhadapan dengan manusia. Hati mereka yang harus disentuh. Tapi sayangnya, 
pendekatan ini masih tidak dilakukan,” ungkapnya. (Vidi Batlolone/Fransisca Ria 
Susanti) 

Sumber : Sinar Harapan

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke