Ref: Tidak dapat diragukan bahwa alasan utama belum diprioritaskan penegakan 
HAM, karena penegakan HAM  dianggap merugikan kepentingan rezim berkuasa dan 
kaum elitnya. 

http://www.mediaindonesia.com/read/2012/12/04/367697/284/1/Pemerintah-belum-Prioritas-Penegakan-HAM


Pemerintah belum Prioritas Penegakan HAM 
Penulis : Rudy Polycarpus
Selasa, 04 Desember 2012 22:15 WIB     a.. JAKARTA--MICOM: Pemerintah dinilai 
belum memprioritaskan penegakan hak asasi manusia (HAM) di Indonesia. Hal itu 
tecermin dari indeks penyelesaian kasus pelanggaran HAM yang tak meningkat 
secara signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. 

Menurut catatan Setara Institute, indeks penyelesaian kasus HAM masa lalu hanya 
1,44. Angka moderat yang bisa menggambarkan penegakan HAM yang layak adalah 
4-5. "Pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono sejak awal tidak memprioritaskan pada 
politik HAM. Padahal pascareformasi, pemerintah memiliki dua pekerjaan besar 
yakni korupsi dan pelanggaran HAM berat," kata Ketua Setara Institute Hendardi 
di Jakarta, Selasa (4/12). 

Meski begitu, ia melanjutkan, perkembangan institusi HAM lebih memiliki 
kemajuan berarti, seperti keberadaan peradilan HAM ad hoc ataupun produk 
undang-undang yang lebih mengakomodasi isu HAM. 

Hendardi menyayangkan legitimasi publik yang kuat terhadap pemerintahan SBY 
tidak diikuti dengan arah penegakkan HAM yang jelas. Satu kegagalan 
pemerintahan SBY adalah menuntaskan kasus pembunuhan aktivis HAM Munir. Padahal 
menurutnya, penyelesaian kasus HAM di masa lalu merupakan hal penting untuk 
menghapus catatan buruk sejarah. 

Dalam indeks kinerja penegakan HAM yang diluncurkan Setara Institute, Indonesia 
mengalami kemajuan. Namun sayang belum menyentuh angka ideal. Kata Hendardi, 
ada delapan indikator yang menjadi tolak ukur kinerja pemerintah di bidang HAM. 
Yakni, penyelesaian pelanggaran HAM masa lalu, kebebasan berekspresi, beragama 
atau berkeyakinan, rasa aman warga, perlindungan warga negara, pengahapusan 
hukuman mati, penghapusan diskriminasi, serta hak atas ekonomi, sosial dan 
budaya. 

Indeks tersebut melibatkan 100 orang ahli yang terdiri dari penggiat HAM, 
akademisi, tokoh masyarakat dan unsur pemerintah. Dari skala 0-7, tidak ada 
yang menyentuh angka kelayakan 4-5. "Misalnya dalam hal kebebasan beragama atau 
berkeyakinan skornya hanya 2,45," kata Hendardi. (PL

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke