http://www.suara-islam.com/read4063-Jangan-Ragu,-Saatnya-Islam-Memimpin.html

Jangan Ragu, Saatnya Islam Memimpin
Shodiq Ramadhan | Minggu, 15 Januari 2012 | 19:50:03 WIB | Hits: 6165 | 

Shodiq Ramadhan
Redaktur Suara Islam Online

Hanya beberapa jam setelah Tabloid Suara Islam (SI) edisi 127 lalu beredar di 
tangan pembaca, SMS Center SI kebanjiran SMS dukungan terhadap tiga calon 
pemimpin umat, Habib Rizieq Syihab, KH Abu Bakar Ba’asyir dan Ustadz Abu 
Jibril. Hingga tulisan ini dibuat, SMS-SMS itu terus mengalir nyaris tiap 
menit. Tak kurang dari 2000 SMS kini telah terkumpul di SMS Center SI. Pengirim 
berasal dari pembaca SI di ujung barat wilayah Indonesia, NAD hingga ke Nusa 
Tenggara dan Sulawesi. Berdasarkan penghitungan sementara, nyaris 99% pengirim 
SMS memilih Habib Rizieq Syihab sebagai calon pemimpin Indonesia mendatang. 

Apa yang saya paparkan di atas berawal dari tulisan di rubrik MUHASABAH yang 
diasuh Sekjen Forum Umat Islam (FUI) KH Muhammad Al-Khaththath. Dalam tulisan 
berjudul “Perlu Wajah Baru Kepemimpinan Indonesia” itu, Ustadz Al-Khaththath 
mengumumkan kepada umat Islam Indonesia agar memberikan dukungan kepada salah 
satu dari tiga nama yang disodorkan, Habib Rizieq, ABB atau Abu Jibril. 

Semua ini adalah sebagai ikhtiar untuk merubah Indonesia menjadi negara yang 
bersyariah dan dipimpin oleh orang yang amanah. Sebab sudah 66 tahun lebih 
setelah merdeka negeri milik umat Islam ini menerapkan sistem buatan Yahudi dan 
dipimpin oleh orang yang abai terhadap Islam dan urusan kaum Muslimin. Karena 
itu tak heranlah bila aliran sesat terus dipelihara dan bahkan miras akan 
dilegalkan. Padahal, seperti dikatakan Imam Al-Mawardi dalam kitab Al-Ahkam 
As-Sulthaniyah, tugas utama seorang pemimpin adalah untuk mengurusi 
urusan-urusan agama. 

Tetapi anehnya, upaya mulia ini masih saja belum dipahami secara utuh oleh 
sebagian kecil umat Islam. Ada yang meragukan bahkan tidak sedikit yang 
pesimistis. Hal ini ditandai dengan dikirimkannya SMS oleh mereka tidak sesuai 
yang diminta. Sebagai contoh, ada yang berkirim SMS: “nama_alamat_Mahfudz MD 
Presiden”, ada pula yang berkirim “Prabowo Presiden, Habib Rizieq wapres”, 
malah ada yang SMS, “nama_alamat_Abu Rusyta’ Presiden”, yang akan membuat orang 
bertanya-tanya siapa dan orang mana Abu Rusyta’ itu?. Bahkan di komentar SI 
Online ada seorang bernama Abu Alif berkomentar, “saya pilih syeikh abu rusytoh 
sebagai kholifah dunia, bukan presiden yang kecil”. Hmmm....

Nada pesimis lainnya, misalnya dikirim oleh orang yang menamakan dirinya Abi 
Syafa yang menulis “Bentuk kepemimpinan seperti presiden tetap saja melanjutkan 
metode dan cara-cara warisan belanda....siapapun individunya ABB, Habib dll 
sekalipun org-org yg taat ngga bisa bawa bangsa ini dengan cara menjadi 
persiden...terkecuali ia menjadi seorang kholifah.”. Di SMS Center SI juga ada 
yang menyatakan terus terang bahwa ia tidak setuju ulama menjadi pemimpin. 
Menurut si pengirim SMS, ulama selama harus tetap menjadi ulama. Syndrom 
sekulerisme tenyata masih melekat di benak sebagian umat. 

Itulah sedikit contoh pesmisme bahkan ‘penolakan’ dari sebagian kecil umat 
Islam dengan ide yang dikeluarklan Sekjen FUI untuk memunculkan wajah baru 
kepemimpinan Indonesia. Walaupun antusiasme dan dukungan terhadap gagasan itu 
jauh lebih besar. Ini terekam dalam SMS-SMS masyarakat yang menggambarkan 
kerinduan mereka dipimpin oleh seorang ulama yang adil dan amanah dan memimpin 
berdasarkan syariah Islam. Banyak sekali di antara mereka yang menyatakan akan 
mendukung habis-habisan dan bahkan ada yang menyatakan tiga dari nama calon 
pemimpin itu sama saja. Artinya siapapun yang terpilih adalah dambaan mereka. 
Saking semangatnya, ada salah satu pembaca SI yang mengirim sejumlah nama tokoh 
Islam dan usulan jabatannya dalam kabinet. 

Bagi mereka yang setuju dan mendukung upaya yang dirintis melalui media SI ini, 
saya katakan kita harus konsisten dan memperjuangkanya semaksimal mungkin agar 
cita-cita itu tercapai. Perjuangan yang sungguh-sungguh dan optimal, insyaAllah 
akan membawa pada keberhasilan. 

Sebaliknya bagi mereka yang pesimis dan mengartikan seolah-olah ini adalah 
upaya dalam ‘kungkungan demokrasi yang kufur’ dan memilih ‘presiden’ bukan 
memilih khalifah, yang menurut mereka bakal sia-sia, harusnya mereka baca 
dengan teliti artikel Sekjen FUI berjudul “Perlu Wajah Baru Kepemimpinan 
Indonesia” itu. 

Sebagai seorang Muslim, aktivis Islam dan apalagi juga mantan ketua umum sebuah 
gerakan Islam yang mengusung perjuangan Khilafah, tentu saja Ustadz 
Al-Khaththath tidak akan ‘menggadaikan’ pemikiran-pemikiran yang selama ini 
diembannya untuk sesuatu yang bersifat pragmatis dan tidak Islami. Saya justru 
menilainya sebagai gagasan yang kreatif dan progresif. Perkara apakah upaya itu 
akan diraih melalui jalan PEMILU (intikhab) atau REVOLUSI (Inqilabiyah), tak 
perlu diperdebatkan. Yang penting umat Islam sepakat untuk perubahan dan 
mempersiapkan kekuatan untuk mencapainya. Hanya akan menjadi pepesan kosong 
bila kita terus berdebat soal pemilu (yang dikatakan bagian dari sistem kufur 
demokrasi), sementara kita tak melakukan upaya nyata penggalangan umat sama 
sekali. 

Perlu diketahui, selain di Suara Islam, gagasan ini telah ditawarkan di 
berbagai forum pengajian dari kalangan Islam tradisional hingga mereka yang 
sering disebut Islam fundamentalis. Para jamaah semuanya menerima dan mendukung 
dengan antusias. Sekali lagi mereka sangat rindu Indonesia yang bersyariah dan 
pemimpin yang adil dan amanah. 

Gagasan ini juga telah disampaikan di depan ribuan umat Islam yang mengikuti 
Aksi Tolak Pencabutan Perda Anti Miras di depan Kemendagri, Kamis (12/1/2012) 
lalu. Semuanya yang hadir sepakat mendukung. Bahkan dalam doa penutup aksi itu, 
Ustadz Al-Khaththath berdoa (dengan bahasa Arab) yang kurang lebih artinya, 
agar menjadikan Habib Rizieq sebagai amir (imam/pemimpin) yang akan menegakkan 
hukum-hukum syara’ dan mengemban da’wah Islam ke seluruh penjuru dunia. Tentu 
saja, bagi mereka yang paham tentang siyasah syar’iyah akan memahami arti dan 
maksud doa itu. Sehingga perdebatan tentang istilah ‘presiden’ atau ‘khalifah’ 
tidak perlu lagi ada. 

Sekali lagi, upaya merubah wajah kepemimpinan Indonesia bukan hanya sekedar 
mengganti orang. Gagasan utama merubah kepemimpinan Indonesia adalah perubahan 
sistem dari sistem buatan kaum Yahudi (Demokrasi, Kapitalisme, juga 
Komunisme/Sosialisme) menjadi sistem Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan 
Sunnah. 

Harusnya cukup jelas apa yang telah ditulis Ustadz Al-Khaththath: “Saya serukan 
kepada para aktivis dan politisi muslim yang cinta Allah, cinta Rasulullah, 
cinta syariat Islam, cinta kepada umat: Sudah waktunya para aktivis muslim 
memulai menyusun langkah untuk menjadikan syariat Allah SWT berdaulat di 
bumi-Nya ini, khususnya di bumi pertiwi ini. Caranya tidak lain adalah mengubah 
wajah kepemimpinan Indonesia, dari wajah sekuler atau Islam separo-separo, 
kepada wajah Islam kaffah. Harus diangkat kepala negara dari kaum muslim garis 
kaffah untuk memimpin NKRI dengan syariah. Orang-orang seperti Habib Rizieq, 
Abu Jibril, bahkan KH. Abu bakar Ba’asyir yang masih di penjara pun layak 
memimpin negeri ini."

Bahkan kalimat itu masih dipertegas lagi dalam penutupnya, “Insya Allah 
dukungan nyata itu bagian upaya menolong agama Allah SWT, menegakkan 
kedaulatan-Nya di Indonesia, dan mengubah wajah kepemimpinan Indonesia menuju 
Indonesia yang lebih bermartabat dengan syariah.” Dengan penjelasan gamblang 
begini, apakah Anda masih ragu juga?. 

Wallahu a’lam bis shawab. 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke