http://www.analisadaily.com/news/read/2012/12/29/96874/ri_masih_hadapi_ancaman_krisis_eropa_tahun_depan/#.UN4LuHcjqVs
RI Masih Hadapi Ancaman Krisis Eropa Tahun Depan
Yogyakarta, (Analisa). Perekonomian Indonesia diperkirakan masih
menghadapi ancaman krisis Eropa yang masih membayangi perekonomian dunia pada
tahun depan. Namun Indonesia masih bisa bertahan.
"Kasus krisis Eropa kita masih bisa bertahan terhadap ancaman tersebut,"
ungkap Kepala peneliti Tim Macroeconomic Dashboard Prof Dr Sri Adiningsih dalam
acara Indonesian Economic Review and Outlook di Fakultas Ekonomika dan Bisnis
(FEB) UGM, Yogyakarta, Jumat (28/12).
Menurut dia, dampak dari ketidakpastian ekonomi Eropa yang semakin meluas
akan berakibat pada ekonomi China dan India. Dua negara tersebut pada krisis
keuangan global 2008 masih bisa bertahan. Namun pada tahun ini mulai menurun
laju pertumbuhannya.
"Jadi kita tidak bisa berharap akan cepat pulih, karena itu butuh waktu
lama. Mengingat kompleksitas masalahnya," kata staf pengajar FEB UGM itu.
Sri menegaskan, pasar keuangan adalah jalur utama pengaruh ketidakpastian
ekonomi global. Pasar keuangan ini merupakan salah satu sumber kerentanan
ekonomi Indonesia karena besarnya dana portofolio yang masuk ke Indonesia pada
tahun ini. Hal ini diperkirakan masih akan menjadi sumber kerentanan ekonomi di
2013 nanti.
"Perdagangan internasional yang melemah pada tahun 2012 masih akan
berlanjut di tahun 2013 sehingga ekonomi Indonesia di tahun 2013 masih akan
bertumpu pada ekonomi domestik seperti konsumsi," kata Sri didampingi pakar
ekonomi lainnya seperti Tony Prasetiantono, Eduardus Tandelilin, dan Gunawan
Sumodiningrat.
Nining panggilan akrabnya itu, memperkirakan laju investasi di Indonesia
pada 2013 akan melemah. Sedangkan sektor non tradable seperti sektor
pengangkutan dan komunikasi, sektor konstruksi, dan sektor keuangan, real
estate ,dan jasa keuangan juga akan mengalami tekanan.
Khusus untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2013, dia memperkirakan
tidak jauh berbeda dengan tahun ini. Pertumbuhan ekonomi berada pada kisaran
6-6,5%.
"Kita berharap otoritas ekonomi bisa menjaga stabilitas ekonomi makro
ataupun pasar keuangan dengan lebih baik pada tahun depan agar iklim investasi
dan usaha tidak memburuk," katanya.(dtc)
[Non-text portions of this message have been removed]