http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/01/09/6/121460/Lapindo-Cari-Pinjaman-Rp632-Miliar-untuk-Bayar-Ganti-Rugi

NASIONAL
Lapindo Cari Pinjaman Rp632 Miliar untuk Bayar Ganti Rugi
Rabu, 09 Januari 2013 | 21:05 WIB
 
ANTARA/Eric Ireng/fz


Metrotvnews.com, Sidoarjo: PT Minarak Lapindo Jaya (MLJ) kembali mengajukan 
proposal pengajuan dana pinjaman pada bank pemerintah senilai Rp632 miliar 
untuk melunasi kekurangan pembayaran ganti rugi warga korban lumpur.

Hanya saja proposal pengajuan pinjaman tersebut diserahkan kepada Ketua Dewan 
Pengarah Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) yang juga Menteri 
Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto. Maksud PT MLJ menyerahkan proposal kepada Djoko 
Kirmanto agar mendapatkan fasilitasi kemudahan mendapatkan pinjaman dana ke 
bank pemerintah.

"Kalau ditanya kenapa harus mencari dana pinjaman? Karena terus terang kami 
sudah tidak ada duit. Maka cara termudah adalah mencari dana pinjaman ke bank 
pemerintah," kata Direktur PT MLJ Andi Darussalam Tabusala di Sidoarjo, Rabu 
(9/1).

Menurut Andi, pihaknya sudah pernah mengajukan dana pinjaman ke Bank Rakyat 
Indonesia (BRI) senilai Rp1,2 triliun pada tahun 2009 lalu. Saat itu PT MLJ 
meminjam jangka waktu lima tahun namun hanya perlu waktu dua tahun, pinjaman 
itu sudah bisa dilunasi. Kali ini PT MLJ kembali berharap bisa mendapatkan 
pinjaman untuk jangka waktu lima tahun.

Andi menegaskan, pihaknya tidak akan menutup-nutupi kondisi keuangan yang 
memang lagi sulit ini. Namun Lapindo tidak akan menyerah untuk akan tetap 
melunasi ganti rugi korban lumpur. Andi mengklaim selama ini Lapindo sudah 
mengeluarkan dana Rp3,2 triliun untuk persoalan lumpur. 

Menurutnya sangat tidak masuk akal apabila kekurangan pembayaran ganti rugi 
hanya senilai Rp786 miliar tidak dilakukan. Maka dia berharap bank pemerintah 
mau membantu mengucurkan dana Rp632 miliara. Sementara kekurangannya Rp154 
miliar akan diupayakan sendiri oleh Lapindo.

Sebelumnya Lapindo pernah mengajukan proposal meminjam dana ke Bank Jatim. 
Namun proposal pengajuan pinjaman ini tidak disetujui pihak Bank Jatim. 
Gubernur Jawa Timur Soekarwo berkali-kali juga menegaskan tidak akan memberikan 
pinjaman dana ke Lapindo.

Andi menegaskan, Lapindo tidak bakal lari dari tanggung jawab melunasi 
pembayaran ganti rugi warga korban lumpur. Namun dia mengakui pembayaran itu 
molor dari target semula karena kondisi keuangan yang sulit.

Andi Darussalam juga mengakui pada bulan Desember 2012 lalu hanya bisa 
menyediakan dana Rp80 miliar. Dana ini jauh dari yang dijanjikan saat pertemuan 
Nirwan Bakrie dengan warga dan Pansus Lumpur sebelumnya yaitu Rp200 miliar 
hingga Rp250 miliar.

Pada Desember 2012 lalu Lapindo berencana menggunakan dana itu untuk melunasi 
1.757 berkas warga korban lumpur. Namun karena dana yang tersedia hanya Rp80 
miliar maka baru bisa merealisasi melunasi ganti rugi untuk 409 berkas saja. 
Sementara sisanya dua ribu berkas masih menunggu dana pinjaman dari 
bank.(HS/OL-3)



++++

http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2012/12/18/6/118085/Sudah-Sebulan-Korban-Lapindo-Menginap-di-Kantor-Minarak

Sudah Sebulan Korban Lapindo Menginap di Kantor Minarak
Selasa, 18 Desember 2012 | 15:43 WIB


Metrotvnews.com, Sidoarjo: Sudah lebih dari satu bulan, korban semburan lumpur 
Lapindo yang masuk areal peta terdampak bertahan menginap di kantor PT Minarak 
Lapindo Jaya (MLJ) di kawasan Juanda, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Mereka 
tetap bertahan lantaran belum ada jawaban dari PT MLJ terkait ganti rugi.

Ada 12 warga yang hingga saat ini masih menjalankan aksi dengan cara menginap 
di sana. Mereka rata-rata sudah berusia lanjut dan mengaku akan terus bertahan 
hingga tuntutannya dipenuhi.

Tuntutan warga adalah agar uang ganti rugi mereka yang masih sebesar 80 persen 
dibayar secara tunai. Mereka menolak jika ganti rugi dibayar dengan sistem 
cicilan seperti saat ini.

Sebab pembayaran uang ganti rugi secara cash, sudah diatur dalam Perpres Nomor 
14 tahun 2007. Namun perpres tersebut ternyata dilanggar Lapindo dan bahkan 
target pelunasan ganti rugi juga molor jauh dari target semula.

"Sebenarnya kami ini kan menuntut hak. Kami ini menagih apa yang menjadi hak 
kami," kata koordinator aksi Wiwik Wahjutini (62), saat ditemui Selasa (18/12).

Menurut Wiwik, belum ada petinggi MLJ yang mau menemui mereka. Bahkan juga 
tidak ada perhatian pemerintah sama sekali dengan atas aksi keprihatinan ini. 
Hanya ada aparat yang sering memantau mereka namun juga tidak memberikan 
bantuan apapun.

Padahal warga yang melakukan aksi ini hampir semuanya sudah berusia lanjut. Di 
antara mereka terkadang sakit namun kembali melanjutkan aksi saat sudah sehat 
kembali. Mereka melakukan aksi sejak 14 November lalu.(MI/TII)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke