PBNU: Pemerintahan SBY Sepanjang 2012 Memprihatinkan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pengurus Besar Nahdlatul 
Ulama (PBNU) menilai pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono 
(SBY) berlangsung memprihatinkan sepanjang 2012, dan harus dibenahi pada 2013 
dengan program yang lebih berpihak kepada rakyat.

Demikian 
disampaikan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dalam 'Refleksi 2012 dan 
Outlook 2013' di Kantor PBNU, Jakarta, Rabu (9/1/2013). 


Sejumlah 
indikator dari bidang politik dan pemerintahan, hukum, ekonomi, 
keamanan, serta sosial budaya, menjadi dasar penyampaian kritik.

"Dalam bidang sosial budaya misalnya, praktik intoleransi masih sangat banyak 
ditemukan sepanjang 2012. Padahal, sudah disepakati negara ini bukan 
negara agama, tapi nyatanya kita masih mudah termakan propaganda memecah belah 
berdasarkan sentimen keagamaan," ujar Kiai Said.

Di bidang 
hukum, Kiai Said menyoroti penegakan yang masih tebang pilih, dan jauh 
dari rasa keadilan. Ia mencontohkan, pemberian grasi justru terjadi pada 
terpidana produsen dan pengedar narkoba kelas kakap.

Menurut Kiai Said, di bidang ekonomi, klaim angka pertumbuhan ekonomi hanya 
bersifat makro. Sedangkan secara mikro jutaan rakyat masih hidup di bawah garis 
kemiskinan. 


Kebijakan impor yang tidak tepat dan cenderung merugikan pelaku usaha dalam 
negeri, juga tak luput dari kritikan.

"Fasilitas KUR selalu digembar-gemborkan pemerintah. Fakta di lapangan, mereka 
yang menerima secara ekonomi sudah mapan. Masyarakat miskin yang berhak 
menerima, dalam praktiknya selalu kesulitan karena adanya aturan yang 
sangat mengekang," tutur Said. Kiai yang mendapat gelar doktor 
lulusan Universitas Ummul Qura, Mekkah, meminta SBY mengakhiri masa 
pemerintahannya dengan baik. "Istilahnya, jika ingin khusnul khotimah, ingin 
dikenang baik, mari 
tunjukkan, tambahkan kepedulian kepada rakyat kecil," sarannya.

Wakil Ketua Umum PBNU As'ad Said Ali di acara yang sama, juga mengamini 
penilaian pemerintahan sepanjang 2012 berlangsung memprihatinkan. Faktor 
penerapan demokrasi yang tidak tepat dinilai sebagai salah satu 
penyebabnya.

"Negara kita yang seharusnya menerapkan demokrasi 
konstitusional, sekarang justru menerapkan demokrasi liberal yang 
diadopsi dari luar," papar As'ad.

Kondisi tersebut, lanjut As'ad, 
mengakibatkan banyak aturan perundang-undangan yang dihasilkan sejak era 
reformasi, tidak berpihak kepada rakyat. 

"Ini penyebab kedua 
buruknya perjalanan pemerintahan sepanjang tahun kemarin. Untuk 
memperbaikinya, aturan yang sudah ada harus dirombak sesuai demokrasi 
konstitusional yang seharusnya kita terapkan," urainya

baca Juga:

Siaran Pers ELSAM: Pandangan Mengenai Situasi Hak Asasi Manusia 2013, Hak-hak 
Dasar di bawah Ancaman Ekskalasi Kekerasan ==> 
http://jaringanantikorupsi.blogspot.com/2013/01/medianusantara-siaran-pers-elsam.html

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke