http://www.ambonekspres.com/index.php?option=read&cat=42&id=41189

SENIN, 18 Februari 2013 | 


Waria Istimewa


Siang itu agak mendung, kesempatan istimewa datang. Saya dan teman-teman 
berkunjung ke Pesantren Waria Senin Kamis “Al-Fatah” di Kampung Notoyudan 
Yogyakarta. Kami diterima pimpinannya, mbak Maryani. Maryani ditemani mbak Oky, 
mbak Ruly dan beberapa lainnya. 

Maryani menggunakan abaya dan berjilbab. Ia berumur 50-an tahun. Maryani sudah 
melalui berbagai profesi yang selama ini kebanyakan kita stigmakan pada mereka. 
Tanpa malu, Maryani mengaku pernah malang melintang di dunia “pelacuran waria” 
malam. Namun kemudian ia insyaf dan melepas diri dari kehidupan malam. Tahun 
2008, ia bersama (Alm) KH. Drs. Hamrolie Harun, MSc membuka pesantren ini. 

Tidak seperti layaknya pesantren kebanyakan, di pesantren waria hanya dua hari 
kegiatan pesantren dalam sepekan. “Mulai sore, kami sudah baca shalawat 
nariyah, dilanjutkan dengan shalat magrib, lalu baca surah al-fatihah beratus 
kali, shalat isya, kegiatan zikir dan ceramah berjalan terus hingga shalat 
hajat. Kami juga shalat tahajjud, shalat subuh dan terakhir shalat dhuha, baru 
kami kembali ke rumah dan tempat kerja masing2”. Kata Maryani. 

“Waria bukan pilihan kami. Kami juga ingin normal”. Kata itu tegas keluar dalam 
diskusi kami. Andai disuruh untuk memilih, semua manusia menginginkan terlahir 
dengan segala kelebihan dan normal. Nah di kelompok waria juga ada pertentangan 
yang cukup besar untuk menerima keadaan mereka. Demikian kalimat-kalimat itu 
meluncur dalam dialog kami. 

“Kami juga punya iman”. Kunci Mariyani. Sesuai namanya, Pesantren senin kamis, 
maka pesantren ini hanya berkegiatan di malam senin dan malam kamis.

PIKIRAN MIRING
Untuk sementara, saya melepas stigma lama yang telah membentuk pikiran, saya 
masuki warna baru tanpa menyinggung soal pandangan agama saya, sah tidaknya 
shalatnya, mereka pake mukena atau sarung dan songkok. Tanpa mendudukkan waria 
sebagai kelompok marginal, saya mencoba membaca mereka sebagai manusia yang 
diciptakan. 

Menurut penuturan mbak Ruly (yang mengaku lebih perempuan) jumlah waria 
nusantara sekitar 5 juta orang. Umumnya waria bekerja di salon, baik sebagai 
pemilik maupun karyawan. 
Sebagian menjadi manusia malam dengan berbagai predikat miring dari masyarakat. 
Kehidupan waria tidak diterima masyarakat umum. Hal ini kemudian lebih 
diperparah dengan kualitas pendidikan waria yang umumnya rendah.

Catatan menarik Ruly, bahwa komunitas mereka lemah untuk memperjuangkan hak. 
Dua hal yang saling mengkait antara stigma miring masyarakat dan kualitas hidup 
waria membuat persoalan waria makin runyam. Persoalan besar mereka adalah 
pengakuan. Pengakuan keluarga atas keberadaan mereka, termasuk kesulitan 
pengakuan jenis kelamin ketika mengurus administrasi kependudukan. Tidak heran 
bila kemudian banyak waria tidak memiliki KTP (kartu tanda penduduk). 

Setidaknya, penuturan Ruly dan Mariyani, membuka gambaran saya, selama ini 
mereka demikian asing dalam kehidupan keseharian saya. Tampilan seronok, 
centil, menor, ternyata juga bagian dari kamuflase menutupi sejumlah masalah 
yang membelit. Mereka berusaha untuk terbebas, melalui cara mereka sendiri. 
Karena tidak banyak simpati yang diterima. 

Agak berbeda dengan apa yang kita dapati di Kabupaten Pangkep dan Wadjo dll 
(Sul sel). Penganut kepercayaan Bugis Kuno pra Islam menghormati Bissu. Bissu 
adalah seniman yang juga “pendeta”. Umumnya mereka adalah pria yang bergaya 
feminis (calabai) dan dalam kehidupan keseharian selalu tampil sebagai wanita. 
Walaupun bissu digolongkan sebagai waria, mereka bukan waria biasa. 

Untuk menjadi bissu, seorang waria harus ditasbihkan (irebba) terlebih dulu. 
Mereka memiliki kesaktian dan peran dalam upacara-upacara ritual. Mereka juga 
memiliki kedudukan dalam masyarakat sebagai penjaga pusaka keramat (arajang) di 
istana yang dipercayai dihuni oleh roh-roh nenek moyang. Kini, jumlah bissu di 
Sulawesi Selatan sekitar 100 orang yang tersebar di Kabupaten Bone 40 bissu, 
Soppeng 8 bissu, Wajo 12 bissu dan Pangkep ada 22 bissu. 

BERLABUH PADA AGAMA
Saya jadi terenyuh ketika Mariyani dan Ruly menuturkan kegigihan mereka bersama 
Kiyai Hamrolie berjuang mengangkat kehidupan kaum waria. Sesuatu yang selama 
ini saya acuh. 

Pendekatan agama yang mereka gunakan menjadi luar biasa. Para anggota yang 
awalnya susah diajak bergabung di pesantren, perlahan mulai terbiasa dengan 
acara pesantren senin kamis. Kiyai Hamrolie sama sekali tidak risih ketika 
mereka mengaku masih menjajakan diri sebagai waria malam yang kemudian ikut 
pengajian, shalat, zikir dll. Bagi Mariyani, Ruly dan Kiyai Hamrolie, kehadiran 
mereka saja sebagai satu anugrah. 

Saya menangkap point penting yang menarik yang bisa mendukung keberadaan 
pesantren waria Al-Fatah di Jogja. Pertama, karena ada sosok Mariyani; kedua, 
sosok Kiyai Hamrolie, ketiga, karena lokasi Yogyakarta yang welcome pada semua 
kalangan; Keempat, juga karena pendekatan issue pesantren sehingga mudah 
diterima masyarakat.

Terlepas dari keempat hal pendukung keberadaan pesantren waria di atas, saya 
jadi teringat kaum waria yang biasa mangkal di seputaran pasar Mardika atau di 
pasar lama. Di antara mereka, siapa yang mampu memerankan tokoh Mariyani, siapa 
pula Ruly. 

Terakhir, sebelum tinggalkan pesantren waria Al-Fatah itu, saya sempat 
mengingat salah satu hadist riwayat Abu Hurairah radhiallahu 'anhu bahawa 
Rasulullah bersabda, “Ketika seekor anjing mengelilingi sebuah sumur dan hampir 
mati kerena haus, seorang pelacur dari Bani Israil melihatnya, lalu dia 
menanggalkan sepatu dan memberi minum anjing tersebut. Maka Allah mengampuni 
dia kerana perbuatannya itu”. 

Ah…. , rekreasi spiritual yang mengagumkan siang itu. Hanya Allah Yang Maha 
mengetahui termasuk golongan mana Mariyani, Ruly dan teman-teman pesantrennya. 
(*)

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke