Ref: Rata-rata para petinggi NKRI dan calon- calon kedudukan pentinggi 
berlelabel Rayat, tetapi apa yang mereka lakukan adalah anti rakyat. Salah satu 
contohnya PD, menteri-menterinya dan petinggi partai tak berbeda dengan tukang 
catut kelas wahid, maka oleh karena tersangkut kasus-kasus korupsi. 
Partai-partai politik lain pun tak banyak bedanya.

http://www.analisadaily.com/news/read/2013/02/22/109515/mencari_pemimpin_yang_berlabel_rakyat/#.USdtxFebJll

      Mencari Pemimpin yang Berlabel Rakyat? 
      Oleh: Marthin Fransisco Manihuruk. 

      Fenomena klasik yang sederhana namun rumit yang terus menerus melanda 
Indonesia adalah mencari sesosok pemimpin yang sesuai dengan garis kondisi 
masyarakat. Artinya adalah bahwa munculnya seorang pemimpin itu hendaknya dapat 
menerima aspirasi masyarakat dan menyelesaikan masalah-masalah dalam 
masyarakat. Semenjak Orde Baru, setelah jatuhnya Soeharto, sampai dengan 
pemerintahan sekarang yang dipimpin SBY, masih belum menjawab alasan dari 
fenomena Klasik tersebut. Benar mereka telah berusaha untuk menjawab fenomena 
tersebut, akan tetapi masih jauh panggang dari api. Permasalahan praktik 
Korupsi, Kolusi dan Nepotisme dan kongkalikong-kongkalikong politik licik yang 
bersinergi dan bersimbiosis acap kali ditunjukkan sebagai sebuah gaya (style) 
para pemimpin pada saat ini. Pada akhirnya pun, pertunjukan politik yang 
ditunjukkan mereka akhirnya mendapatkan tanggapan pedas dari masyarakat. 
Beberapa masyarakat menganggap bahwa panggung politik yang diperagakan itu 
adalah sesuatu pertunjukan yang "memuakkan", ada juga yang menganggap bahwa itu 
adalah "lelucon yang tidak lucu".
      Disini harus dipahami bahwa masyarakat bukanlah budak-budak para pemimpin 
negeri ini yang harus dipaksa untuk memperlihatkan sandiwara politik busuk para 
politisi. Namun yang harus dipahami adalah bahwa pemimpin adalah pelayan 
masyarakat yang sedang diberi tanggung jawab besar untuk menjalankan amanah 
rakyat. Artinya kedaulatan rakyat berada pada posisi yang paling teratas. Dan 
apabila kedaulatan rakyat ini dilanggar, dan menyebabkan gagalnya tujuan negara 
yang terkandung dalam UUD 1945, maka diharapkan para politisi bertanggung jawab 
penuh atas hal ini dan tidak diperkenankan untuk lempar sana-sini. Bukan kah 
pertaruhan dan pertarungan memperebutkan kekuasaan yang dilakoni mereka 
menyebabkan semua hal ini terjadi?.

      Sudah lama memang fenomena ini tidak ada sama sekali terjadi perubahan 
yang besar ataupun mendasar. Fenomena ini pun diteruskan secara turun menurun, 
yang mana politisi-politisi baru meniru gaya politisi-politisi lama. Sebab 
musabab dari fenomena ini jelas terlihat gaya politisi jaman sekarang yang sama 
sekali tidak meyakinkan dan memang tidak meyakinkan. Perlu diketahui bahwa 
rakyat mengharapkan jaminan kepastian, bukan jaminan ketidakpastian.

      Fenomena Blusukan

      Di tengah-tengah keriwuhan dan kegelisahan masyarakat, tampillah sosok 
Jokowi yang fenomenal dengan gaya blusukannya. "Blusukan", seperti itulah 
Jokowi mengambil hati para masyarakat yang kemudian secara fenomenal 
memenangkan Pemilukada DKI Jakarta. Dengan hanya bermodalkan turun langsung ke 
masyarakat, baik di pasar tradisional maupun di jalanan, bercengkerama, 
berbincang-bincang plus menikmati jajanan buatan pasar tradisional, Jokowi 
seolah sukses menjawab fenomena klasik di negeri ini, yaitu mencari pemimpin 
yang sesuai dengan garis kondisi masyarakat. Turun langsungnya Jokowi ke 
masyarakat, hampir sama artinya dengan selesainya masalah dalam masyarakat, 
walaupun masalah yang sebenarnya dalam masyarakat itu belum ditangani sama 
sekali. Artinya bahwa sudah lama masyarakat merindukan sosok pemimpin yang 
dapat merangkul dan mendengarkan keluhan masayarakat. Luar biasa bukan?.

      Lantas kemudian, fenomena blusukan ini pun berlanjut dan ditiru mulai 
dari kalangan-kalangan pusaran birokrat pusat, mulai dari Presiden sampai 
Menteri, sampai kepada calon-calon kepala daerah. Iklan-iklan di televisi pun 
akhirnya kebanyakan menampilkan sosok tokoh seorang calon pemimpin sedang 
berada di tengah-tengah masyarakat. 

      Benar memang, rupanya kemenangan Jokowi dengan style blusukannya yang 
memenangkannya di Pemilukada DKI, seolah telah membius para calon pemimpin 
lainnya untuk meraih posisi kepemimpinan dengan bermaksud meniru style yang 
sama juga.

      Sebut saja calon kepala daerah Sumut yang jelas-jelas meniru style 
blusukan Jokowi tersebut. Entah mengapa calon kepala daerah Sumut kali ini 
berbeda dengan calon kepala daerah pada pemilu sebelumnya. Kali ini, kelima 
pasangan calon gubsu ini, tengah bertarung memenangkan hati rakyat. 
Slogan-slogan, poster-poster yang terpampang, selalu ada unsur "membantu 
rakyat". Kemudian gaya kampanye nya pun sudah berubah. Ada yang turun ke pasar 
berbincang dengan masyarakat, ada yang mencoba makanan penjual di pasar, dan 
ada pula yang berubah layaknya seorang pedagang pasar yang ikut menjual barang 
dagangan di pasar. Jelas sekali fenomena ini sangat jarang terjadi. Bak Komet 
Halley yang datang setiap 76 tahun sekali, mungkin hal ini persis hampir sama.

      Pemimpin yang Berlabel Rakyat

      Apapun cara yang dibuat oleh para calon pemimpin kepala daerah, baik 
dengan style blusukan, kampanye dengan spanduk besar-besar, pencitraan diri, 
retorika-retorika usang, dan lainnya, semuanya itu hanya tertuju pada satu 
titik yaitu, menjadi seorang pemimpin yang mempunyai kekuasaan. Inilah yang 
dinamakan dinamika politik yang mana kekuasaan itu diperoleh baik dengan cara 
konstitusional maupun inkonstitusional. 

      Ketika politik dan kekuasaan sudah menguasai, maka ada 2 hal yang menjadi 
masalah, yaitu, masalah calon pemimpin yang berusaha untuk menjadi seorang 
pemimpin dan masalah rakyat yang mencari pemimpin. 

      Sering salah bahwa parpol yang seharusnya mengakomodir kepentingan 
rakyat, berubah mengakomodir kepentingan partai politiknya. Ini artinya bahwa 
masalah yang diutamakan adalah masalah calon pemimpin yang berusaha untuk 
menjadi pemimpin. Sehingga, masalah rakyat yang sedang mencari pemimpin yang 
sesuai dengan mereka pun terabaikan. Dari sini, partai pun berubah menjadi 
penjahat-penjahat politik yang siap menggerogoti masyarakat.

      Untungnya, semua parpol tidaklah demikian. Masih ada parpol dan anggota 
parpol yang masih berpikir modern dan berusaha untuk mengakomodir kepentingan 
rakyat. Walaupun demikian, parpol tetaplah diharapkan masyarakat untuk 
menghasilkan pemimpin yang berlabel rakyat. Artinya adalah bahwa pemimpin itu 
adalah memang penjelmaan dari rakyat dan sesuai dengan visi masyarakat. 
Mampukah parpol mewujudkannya?. Kita tunggu saja. *** 

      Penulis adalah Pemerhati Sosial. 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke