http://www.equator-news.com/patroli/20130224/tki-asal-ntb-terdampar-di-sintang
Minggu, 24 Februari 2013 TKI Asal NTB Terdampar di Sintang Suhardin TKI di penampungan Polres Sintang Delapan TKI asal Nusa Tenggara Barat terdampar di Sintang. Mereka diamankan di Mapolres Sintang, Jumat (22/2). Sintang – Delapan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Nusa Tenggara Barat (NTB) terdampar di Sintang. Mereka diamankan di Mapolres Sintang, Jumat (22/2). Kasat Binmas Polres Sintang AKP Suharto mengatakan delapan TKI itu bernama Jamaludin, Fendi, Kasman, Erik, Andika, Irfan, Abdul Muhklis, dan Cika. “Keseluruhannya aman. Mereka sementara istirahat di Mapolres Sintang,” kata Suharto. Mereka nantinya akan diserahkan ke Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Sintang. “Sudah kami koordinasikan dengan Dinsosnakertrans dan katanya para TKI tersebut akan dicarikan pekerjaan,” ucapnya. Diceritakan Suharto, pengamanan para TKI berawal dari laporan masyarakat Desa Sungai Kelik, Ketungau Hulu yang menyebutkan ada rombongan melarikan diri melalui jalur tikus. Polsek Ketungau Hulu langsung menindaklanjuti laporan dan mengamankan kedelapan TKI tersebut. “Awalnya mereka sudah ditampung dan diinapkan di Polsek Ketungau Hulu. Baru setelah itu mereka (TKI, red) langsung dibawa ke Sintang oleh anggota kami dari polsek,” ungkap Suharto. Sementara Jamaludin, salah satu dari delapan TKI yang telantar, mengaku bersama rekannya sengaja melarikan diri dari tempatnya bekerja lantaran tidak mendapatkan bayaran sesuai dengan yang dijanjikan. “Pada awalnya kami dijanjikan oleh perusahaan akan digaji 1.000 Ringgit per bulan. Namun ketika kami sudah mulai kerja kami hanya dibayar 500 Ringgit,” kata Jamal. Ia mengaku pulang ke Indonesia dengan berjalan kaki menyusuri jalan tikus. “Kami berjalan sekitar lima jam, Bang, setelah itu baru kami menemukan perkampungan,” ucapnya. Setelah menemukan perkampungan tepatnya di Desa Sungai Kelik, Kecamatan Ketungau Hulu, Jamaludin dan rekannya tersebut beristirahat di salah satu rumah warga. “Kami sempat istirahat di salah satu rumah warga dan kami ingin langsung mencari pekerjaan, tetapi masyarakat bilang di desa tersebut tidak ada lowongan pekerjaan,” ucapnya. Jamaludin beserta tujuh rekannya melanjutkan perjalanan hingga pada akhirnya ia bertemu dengan anggota Polsek Ketungau Hulu. Jamaludin sendiri mengaku sudah bekerja sebagai TKI di Malaysia selama dua tahun. Ia bekerja pada sektor perkebunan kelapa sawit. Selama dua tahun tersebut dirinya mendapatkan gaji yang tidak layak. Sementara rekan Jamal yang lain, Andika Pratama, juga mengatakan hal yang sama. Ia mengaku sudah menjadi TKI selama dua tahun. Pada awalnya ia diajak rekannya atas nama Adi untuk bekerja di Malaysia. “Di NTB tepatnya di Kabupaten Bima tidak ada lapangan pekerjaan, makanya kami pergi ke Malaysia,” ujarnya. Mirisnya, setelah bekerja dirinya justru tidak mendapatkan pekerjaan yang layak. Ditemui terpisah, Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Sintang Florensius Kaha mengaku sudah mendapatkan informasi tersebut dari Polres Sintang. “Kami sudah menindaklanjuti. Mereka (TKI, red) pada awalnya kami tawarkan untuk kami pulangkan ke tempat asalnya. Namun mereka para TKI memilih untuk bekerja di Sintang,” kata Kaha. Atas permintaan para TKI tersebut, Kaha lantas menghubungi salah satu perusahaan di Kecamatan Kelam. “Satu perusahaan sudah kami hubungi, dan mereka siap untuk menampung,” ujar Kaha. (din) [Non-text portions of this message have been removed]
