http://lampost.co/berita/indonesia-jadi-kiblat-toleransi-beragama
2013-01-03 12:09:00

Indonesia Jadi Kiblat Toleransi Beragama
JAKARTA (Lampost.co): Menteri Agama Suryadharma Ali menegaskan, dalam mengelola 
kerukunan antarumat beragama dan kemajemukan bangsa, sesungguhnya Indonesia 
diakui sebagai "kiblat" toleransi dan kerukunan beragama di dunia.

Penegasan tersebut disampaikan Suryadharma Ali dalam sambutannya pada 
peringatan Amal Bakti ke-67 di Halaman Kantor Kementerian Agama Jakarta, Kamis 
(3-1). Hadir pada kesempatan itu seluruh eselon I, II dan III pada upacara 
tersebut, termasuk seluruh karyawan baik yang berkantor di Gedung MH. Thamrin 
dan Lapangan Banteng.

Bertindak selaku komandan upacara Prof. Dr. H. Nur Kholis Setiawan MA, Kepala 
Pusat Litbang Kehidupan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kemenag. Ikut 
menyemarakan upacara itu Korps Musik TNI-AD dan Pasukan Pengibar Bendera 
(Paskibra) dari gabungan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) se-DKI Jakarta.

Bersamaan dengan upacara itu pula diserahkan Satya Lancana Karya Satya kepada 
karyawan yang telah mengabdi selama 10 tahun, 20 tahun dan 30 tahun. 
Kementerian Agama berdiri pada 3 Januari 1946 dengan menteri pertama almarhum 
Haji Mohammad Rasjidi. Setiap memperingati hari amal bakti (HAB), jajaran 
karyawan kementerian tersebut diingatkan sejarah dan perjuangannya. Agama tak 
bisa dipisahkan dari kehidupan negara dan kementerian tersebut
berdiri untuk memelihara dan menjamin kepentingan agama serta 
pemeluk-pemeluknya.

Terkait dengan kehidupan bertoleransi, Suryadharma Ali menyatakan, 
masyarakat-bangsa Indonesia yang demokratis, egaliter sangat menghormati hak 
asasi manusia (HAM). Tetapi masih diperlukan kesadaran untuk menjunjung etika 
kerukunan, seperti sikap tenggang rasa antarkomunitas pemeluk agama, tidak 
menjadikan umat yang telah memeluk suatu agama tertentu sebagai sasaran 
penyebaran agama lain. Juga menghormati kesucian tempat ibadah, kitab suci, dan 
simbol keagamaan dari tindak penodaan dan sebagainya. 

Ia mengingatkan, tugas Kementerian Agama adalah terwujudnya masyarakat 
Indonesia yang taat beragama, rukun, cerdas, mandiri dan sejahtera lahir batin. 
Ada lima yang menjadi program strategis, yaitu peningkatan kualitas kehidupan 
beragama, peningkatan kualitas kerukunan umat beragama, peningkatan kualitas 
pendidikan agama dan pendidikan keagamaan, peningkatan pelayanan ibadah haji, 
serta tata kelola pemerintahan yang baik (good governance).

Untuk itu ia mengingatkan bahwa tolok-ukur keberhasilan program tersebut tak 
seluruhnya dapat dituangkan dalam grafik dan angka-angka yang bersifat 
kualitatif. Peningkatan kualitas kehidupan beragama, kerukunan umat beragama, 
serta pendidikan agama dan keagamaan mencakup dimensi pembangunan manusia dan 
perubahan masyarakat, yang tentu pula membutuhkan proses dan waktu untuk 
menikmati hasilnya, ia menjelaskan.

Menag Suryadharma Ali juga menyinggung penyelenggaraan ibadah haji yang 
dinilainya lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Tetapi pemerintah harus terus 
berupaya meningkatkan kualitas pelayanan ibadah haji. Pembaruan kebijakan 
penyelenggaraan ibadah haji bertujuan untuk meningkatkan pelayanan jemaah haji, 
baik di tanah air maupun di Arab Saudi dan mewujudkan akuntabilitas pengelolaan 
dana haji.

Dan menyangkut pencapaian kinerja dalam aspek tata kelola, khususnya dalam 
pengelolaan anggaran dan laporan keuangan, ia mengatakan, Kementerian Agama 
telah meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) Dengan Paragraf Penjelasan 
(DPP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Prestasi tersebut harus 
dipertahankan dan ditingkatkan di tahun mendatang. (ANT/L-4)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke