http://www.arrahmah.com/news/2013/02/12/syiah-itu-dipelihara-amerika.html#.US5yNlebJlk

Syiah itu dipelihara Amerika
Oleh Saif Al Battar Selasa, 17 Rabiul Akhir 1434 H / 12 Februari 2013 16:43 

 
Oleh: AM. Waskito

(Arrahmah.com) - Dalam sebuah diskusi, saya merasa bengong ketika disana 
disimpulkan, bahwa Syiah yang beroperasi di negeri-negeri Sunni (seperti 
Indonesia), sebenarnya dipelihara oleh Amerika. Disana dikatakan: “Ahmadiyah 
dipelihara oleh Inggris, sedangkan Syiah dipelihara oleh Amerika.” Saya merasa, 
ini kejutan atau pencerahan yang sangat berbeda. Namun ketika merunut kepada 
data-data, fakta, serta kejadian-kejadian; saya baru bisa percaya kalau Syiah 
Imamiyah (Rafidhah) memang dipelihara Amerika.

MUI (Pusat) atau Pemerintah RI selama ini sangat susah untuk menetapkan Syiah 
dan Ahmadiyyah sebagai aliran sesat, sehingga keduanya harus dilarang 
beroperasi; karena adanya tekanan dari Amerika, Inggris, Australia, Kanada, dan 
negara-negara besar lainnya. Mereka bahu-membahu untuk memelihara faktor 
destruktif di tengah-tengah kehidupan kaum Muslimin Indonesia. Makanya, ketika 
ada sebuah ormas Islam sangat antipati kepada Ahmadiyah dan Liberal, tetapi 
bersikap “main mata” kepada Syiah, hal itu dipahami bahwa ormas tersebut tidak 
mau memikul beban terlalu berat, dalam menghadapi tekanan Inggris, Amerika, 
Kanada, Australia, dan kawan-kawan. Padahal sudah standar Ahlus Sunnah dimana 
saja, yaitu: Anti Sekularisme, anti Syiah, anti Ahmadiyah, anti Liberal, anti 
Kristenisasi, dan anti Zionisme. Ini sudah pakem khas Ahlus Sunnah!

Banyak data-data bisa disampaikan, bahwa Syiah Rafidhah memang dipelihara oleh 
kepentingan imperialis Amerika (atau secara umum imperialis Barat). Soal di 
atas permukaan ada retorika-retorika anti Amerika dari kalangan Syiah, itu 
hanya kamuflase saja, untuk menutupi fakta sebenarnya. Biasa kan ada sandiwara 
“bertema konflik” untuk menutupi “hakikat kemesraan” yang tidak terlihat.

Mari kita coba lihat data-datanya.

  1.. Khomeini itu sejak muda (remaja) tinggal di Perancis. Disebutnya, tinggal 
di pengasingan. Baru menjelang Revolusi Syiah tahun 1979, dia pulang kampung. 
Tinggal di Perancis sejak muda sampai jenggotnya agak memutih, dapatkah 
dikatakan bahwa Khomeini bersih dari invasi pemikiran dan politik yang 
dipaksakan Barat kepadanya? Sangat tidak mungkin.

  Rata-rata semua tokoh politik dari Asia yang pernah diasuh di negara Barat, 
rata-rata kalau pulang ke negeri masing-masing akan membawa agenda politik dari 
“majikan-nya”.

  2.. Sebelum Iran dikelola oleh Khomeini dan kawan-kawan, penguasa politik 
disana ialah Reza Pahlevi. Sebenarnya orang ini Syiah juga dan menjadi boneka 
Amerika. Tetapi Pahlevi lebih kental dunia politiknya, sedangkan Khomeini 
terkenal dengan IDEOLOGI Syiah-nya. Ketika Barat mencabut peran Pahlevi dan 
menggantikannya dengan Khomeini; hal itu terjadi karena mereka ingin mengubah 
strategi, dari pendekatan politik menjadi pendekatan ideologi; dengan 
menjadikan akidah Syiah Imamiyah Itsna Asyari sebagai basisnya.

  Akidah ini jauh lebih berbahaya ketimbang manuver-manuver politik Reza 
Pahlevi. Sebab pada hakikatnya, akidah Imamiyah Itsna Asyari (atau Syiah 
Rafidhah) adalah kekufuran yang nyata. [Kalau ada ketua ormas Islam tertentu 
yang ragu dengan kekufuran akidah Syiah ini, saya ajak beliau untuk berdebat 
terbuka, bi idznillahil 'Azhim].

  3.. Banyak sandiwara dilakukan untuk menutupi missi sebenarnya, bahwa 
Khomeini sebenarnya adalah boneka Amerika, tak ubahnya seperti Reza Pahlevi. 

  Pertama, Amerika tidak segera menginvasi Iran di bawah kepemimpinan Khomeini, 
seperti mereka menginvasi negara-negara yang penguasanya digulingkan tanpa 
restu Amerika. 

  Kedua, disana digambarkan bahwa ada sekian puluh helikopter marinir Amerika 
saling bertabrakan satu sama lain ketika hendak menyerang Iran. Bukti-bukti 
seputar serangan helikopter yang gagal ini tidak banyak diperoleh, selain dari 
info-info media. Benarkah heli-heli itu bertabrakan, atau sengaja di-setting 
agar bertabrakan? Atau jangan-jangan semua itu hanya opini media saja, tanpa 
bukti yang jelas? Bandingkan cara Amerika itu dengan invasi mereka ke Irak, 
Afghanistan, Columbia, Vietnam, bahkan infiltrasi ke Indonesia (pada peristiwa 
PKI 65). 

  Ketiga, sepertinya ada “solusi damai” antara Amerika dengan keluarga Reza 
Pahlevi, sehingga setelah itu tidak ada “dendam politik” keluarga Pahlevi 
kepada Khomeini. Padahal layaknya tokoh-tokoh politik Persia, tabiat dendam 
sangatlah dominan.

  Keempat, secara massif Khomeini melakukan kampanye, bahwa Amerika adalah 
SETAN BESAR. Kampanye ini mendapat respon besar di dunia Islam. Karena ia 
memang sebuah strategi untuk mendapatkan SIMPATI kalangan Dunia Islam, yang 
mayoritas Ahlus Sunnah dan anti Amerika. 

  Kelima, tidak lama setelah Revolusi Iran, negara itu terlibat dalam konflik 
besar Iran Versus Irak di bawah Sadam Husein. Ending dari konflik Iran-Irak 
ini, malah Irak dimusuhi oleh Amerika dan Sekutu, serta negara-negara Timur 
Tengah; setelah Irak menginvasi Kuwait pada tahun 1990.

  4.. Sejak lama Iran selalu dikaitkan dengan isu anti Amerika dan anti Israel. 
Bahkan ia masuk dalam kategori “axis of evils” (negara-negara poros kejahatan). 
Tetapi ia sendiri tidak pernah sedikit pun terlibat dalam perang melawan 
Amerika, atau perang melawan Israel (musuh bangsa Arab di Timur Tengah). Jadi 
sebagian besar perang disini sifatnya hanya “kampanye verbal” saja. Tidak heran 
jika Iran kerap dijuluki sebagai NATO (no actions talk only). Begitu juga, 
Hamas semakin terjebak dalam posisi sulit ketika organisasi itu menjalin 
kerjasama dengan Teheran. Iran adalah negara yang paling menikmati hasil 
kampanye anti Amerika dan Israel; tetapi pada saat yang sama, dia tidak pernah 
terlibat perang sedikit pun melawab Amerika dan Israel.

  5.. Tidak diragukan lagi, bahwa Syiah Iran turut membantu invasi Amerika ke 
Afghanistan dan Irak. Katanya, dua invasi ini tidak akan pernah berhasil, tanpa 
bantuan Syiah Iran. Dulu di zaman Pemerintahan Burhanuddin Rabbani (Mujahidin), 
Syiah telah menelikung pemerintahan itu melalui Jendral Rasyid Dustum di bagian 
Utara. Begitu juga Pemerintahan Irak saat ini, pasca invasi Amerika ke Irak, 
presidennya Jalal Talabani dan PM-nya Nuri Al Maliki, keduanya adalah bagian 
dari penganut Syiah. Lihatlah, Amerika lebih ridha Irak di bawah pemimpin Syiah 
daripada negara itu di bawah Saddam Husein yang merupakan bagian masyarakat 
Sunni.

  6.. Kita tentu masih ingat skandal Iran-Contra pada waktu-waktu lalu. Singkat 
kata, Iran dikesankan sangat bermusuh-musuhan dengan Amerika. Tetapi lewat 
skandal itu terbukti, Iran bekerjasama mesra dengan Amerika. Iran memasok 
minyak ke Amerika, lalu hasil keuntungan jual-beli minyak “ilegal” ini oleh 
Amerika disalurkan untuk membiayai gerakan Kontra di Kolumbia. Iran sendiri 
merasa diuntungkan, sebab mendapat penghasilan untuk membiayai kebutuhan mereka 
(khususnya untuk biaya konflik dengan Irak). Sandiwara besar abad 20 ini 
akhirnya terkuak, baik Iran maupun Amerika menanggung malu. Lalu dengan 
entengnya Amerika mengorbankan Kolonel Oliver Stone sebagai tokoh yang 
bertanggung-jawab atas skandal memalukan itu.

  7.. Fakta besar yang tidak diragukan lagi, bahwa Iran memiliki reaktor nuklir 
yang dikembangkan untuk kebutuhan energi dan militer. Hal ini sudah tidak 
diragukan lagi. Berulang kali Amerika, Inggris, dan Sekutu mengancam akan 
menyerang Iran. Tetapi hal itu tidak pernah terjadi, bahkan tidak akan terjadi; 
karena mereka sebenarnya satu kepentingan. Bandingkan, ketika Amerika mengancam 
negara-negara Muslim Sunni, seperti Irak dan Afghanistan; sekali diancam, 
langsung dihajar, meskipun akibatnya ekonomi Amerika mesti ambruk.

  8.. Di Indonesia, posisi Syiah selalu dibela oleh tokoh-tokoh Liberalis, 
seperti Azyumardi Azra, Syafi’i Ma’arif, Dawam Rahardjo, Said Aqil Siradj, 
bahkan Amien Rais. Belakangan, Mahfud MD ikut-ikutan membela Syiah dan berlagak 
memojokkan kaum Sunni di Madura. Anda pasti paham mengapa tokoh-tokoh Liberal 
ini selalu melindungi Syiah? Ya, karena memang job description-nya, mereka 
harus membela Syiah.

  9.. Media cetak yang sangat giat membela Syiah sejak zaman Orde Baru adalah 
majalah Tempo. Media ini punya peran besar dalam mempromosikan citra positif 
Syiah di mata kaum Muslimin Indonesia; media ini benar-benar telah banyak 
menyesatkan opini rakyat Indonesia, seputar Syiah. Media ini sejak lama 
dikomandoi Goenawan Mohamad, salah seorang jurnalis yang sejak lama disinyalir 
sebagai kaki tangan Amerika di Indonesia.

  10.. Abdurrahman Wahid termasuk salah satu tokoh pro Zionis yang banyak 
mendukung dan membela Syiah. Dia berdalih, “Membela minoritas.” Tetapi pada 
saat yang sama, dia justru sangat anti denganminoritas aktivis Islam, yang 
selalu menjadi bulan-bulanan politik Orde Baru dan Orde Reformasi. Katanya 
membela minoritas, tetapi kok malah acuh tak acuh dengan kezhaliman rezim 
terhadap para aktivis Islam yang sebenarnya minoritas itu? Wahid sama sekali 
tidak pernah membela keluarga korban Tanjung Priok, Talangsari Lampung, DOM 
Aceh, korban konflik Ambon, korban konflik Poso, korban pembantaian Sampit 
(Sambas), tahanan politik Muslim, bahkan tidak pernah membela tokoh-tokoh 
Petisi 50 yang notabene kalangan umum.

  Di zaman Orde Baru, Wahid menjadi bagian dari anggota MPR Fraksi Golkar, dan 
sangat mendukung kekejaman rezim terhadap para aktivis Islam. Nah, itulah sosok 
“dajjal kecil” yang sering dielu-elukan sebagai “pembela minoritas”. Di zaman 
Orde Baru, posisi Syiah selalu dalam pengawasan ketat; tetapi di era Wahid, 
atau tepatnya tahun 2001, berdirilah IJABI, ormas Syiah pertama di Indonesia. 
Ormas ini juga direstui si orang itu, sehingga di mata penganut Syiah, nama 
Wahid begitu harum.

  11.. Berulang kali kita saksikan bagaimana Said Aqil Siradj membela Syiah, 
melindungi Syiah, sembari tangan dan mulutnya terus-menerus menyerang kaum 
Wahabi. Tapi lucunya, Said Aqil ini tidak berani berhadap-hadapan dengan 
pengurus PWNU Jawa Timur, atau MUI Jawa Timur, atau MUI Madura yang jelas-jelas 
telah memfatwakan kesesatan Syiah. Pernah pengurus PWNU Jawa Timur datang ke 
kantor PBNU di Jakarta, untuk menyerahkan fatwa Syiah sesat yang telah mereka 
sepakati. Waktu itu mereka sudah siap audiens dengan pengurus PBNU, termasuk Si 
Sail Aqil.

  Sampai pertemuan selesai, Si Said tidak menemui para pengurus PWNU Jatim. 
Alasannya, “Lagi macet di jalan.” Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiun. Said, 
Said…orang sepertimu kok beralasan “jalanan macet”? Beberapa waktu lalu Said 
ini datang ke Amerika, berkunjung ke Bank Dunia. Disana dia diberikan komitmen 
dukungan dana unlimitted, untuk memerangi terorisme (yang nanti ujung-ujungnya 
tuduhan itu dia arahkan ke Wahabi; semoga Allah Ta’ala membinasakan manusia 
yang satu ini dan para loyalisnya karena kekejian fitnah mereka; amin Allahumma 
amin).

  Kalau kembali ke momen pemilihan Ketua PBNU di Makassar, pada tahun 2010. 
Seminggu sebelum pemilihan ketua, dua kandidat calon ketua PBNU dipanggil ke 
Cikeas untuk bertemu Pak Beye. Entahlah, apa yang dikatakan Beye dalam 
pertemuan itu. Pokoknya setelah itu Shalahuddin Wahid terlihat tidak semangat 
memperebutkan kursi Ketua PBNU. Dan akhirnya, Said Aqil Siradj ini yang 
terpilih sebagai Ketua PBNU. Dulu di masa kepemimpinan Wahid sebagai Presiden 
RI, Si Said ini amat sangat loyal; sehingga berkali-kali dia menyerang Amien 
Rais dengan perkataan kasar. Salah satunya, kurang lebih, “Itu warga NU di 
bawah, sedang mengasah golok.”

  12.. Di Indonesia berkali-kali terjadi kerusuhan bermotif isu agama. Salah 
satunya dalam isu Syiah, seperti peristiwa Sampang, Bangil (Pasuruhan), 
penusukan ustadz NU di Jember, dan lainnya. Tetapi SBY rata-rata tidak pernah 
bersuara tentang kerusuhan ini. Jika ada komentar, ia selalu memojokkan 
kalangan Sunni dan menguntungkan posisi Syiah; seperti dalam komentar terakhir 
dia soal kasus Sampang kemarin. Pertanyaannya, sebagai kepala negara, mengapa 
SBY tidak berusaha melindungi akidah mayoritas kaum Muslimin di Indonesia yang 
bermadzhab Ahlus Sunnah? Kok dia justru lebih peduli dengan kelompok minoritas 
Syiah? Ya, kita tahulah, siapa SBY…

  13.. Ketika merebak isu “war on terror” di dunia, Indonesia gegap gempita 
menyambut isu tersebut. Salah satu akibatnya, kesempatan beasiswa belajar di 
Saudi diawasi sangat ketat. Sejak proses seleksi, pemberangkatan, hingga kuota 
beasiswa itu, diawasi sedemikian rupa. Banyak pelajar yang sedianya ingin 
belajar agama, merasa kesulitan. Termasuk dalam urusan kerja, bisnis, dagang, 
dan lainnya. Tetapi sebaliknya, kerjasama beasiswa, kunjungan tokoh, serta 
dakwah dengan Iran justru semakin marak. Ribuan pelajar Indonesia saat ini lagi 
nyantri di Iran; nanti kalau pulang mereka akan mendakwahkan agama perbudakan 
manusia atas manusia yang lain (pada hakikatnya, setiap pribadi Syiah adalah 
budak dari imam-imam Syiah di Persia).

  14.. Sampai detik ini, Amerika tidak pernah menjadikan para aktivis Syiah 
sebagai sasaran “war on terror” sebagaimana mereka menjadikan kaum Wahabi 
sebagai sasaran itu. Padahal kalau melihat “kampanye verbal” dari para dai-dai 
Syiah, mereka TAMPAK sangat anti Amerika dan Zionis. Kalangan Wahabi yang 
hati-hati saat bicara tentang Amerika, tidak segan-segan diteroriskan; 
sedangkan aktivis Syiah yang sehari-hari dzikirnya menyerang Amerika dan Zionis 
(tentu saja, dengan menyerang para Shahabat dan isteri-isteri Nabi Radhiyallahu 
‘Anhum), tidak pernah diapa-apakan. Coba lihat, dalam kasus Sampang kemarin, 
aktivis Syiah membuat ranjau dari bom ikan dan paku-paku; tetapi Densus 88 
tidak pernah menyatroni rumah Tajul Muluk dan kawan-kawan.

  15.. Ketika sebagian aktivis Muslim melakukan latihan militer, untuk 
persiapan jihad ke Palestina, pasca terjadi Tragedi Ghaza 2008-2009 lalu; 
mereka segera ditangkapi dan diposisikan sebagai teroris. Tetapi terhadap 
aktivis Syiah yang melakukan latihan-latihan militer, tidak ada satu pun yang 
ditangkapi aparat. Bahkan ada yang bilang, mereka dilatih oleh instruktur baret 
merah. Jadi ini seperti lelucon yang terus diulang-ulang. Betapa sensitif 
aparat keamanan kepada para pemuda Sunni, ketika mereka ingin berjuang ke 
Palestina; tetapi tidak sensi sama sekali kepada aktivis-aktivis Syiah yang 
terus menyusun kekuatan milisi.

Singkat kata, eksistensi Syiah di Indonesia sangat sulit untuk ditertibkan 
(apalagi dibubarkan), karena ia memang dilindungi oleh kekuatan Barat, 
khususnya Amerika. Sebagaimana Barat membutuhkan paham Liberal untuk merusak 
ajaran Islam, mereka juga merasa sangat diuntungkan dengan eksistensi paham 
Syiah.

Siapapun yang memeluk akidah Syiah Rafidhah secara sadar dan mengerti; dapat 
dipastikan dia akan keluar dari Islam. Mengapa? Karena dalam akidah itu mereka 
meyakini Al Qur’an tidak murni lagi; hak Kekhalifahan Ali sebagai azas agama 
melebihi Tauhidullah; batalnya Syariat Islam, diganti syariat perkataan pribadi 
imam-imam Syiah (yang tidak bisa dibuktikan otentisitasnya); mereka 
mencaci-maki, menghina, menyerang pribadi isteri-isteri Nabi dan para Shahabat 
Radhiyallahu ‘Anhum; mereka mengkafirkan Abu Bakar dan Umar, menganggap 
keduanya sebagai thaghut dan kekal di neraka; mereka mengkafirkan Ahlus Sunnah, 
dan menghalalkan harta, darah, dan kehormatannya; mereka menghalalkan nikah 
Mut’ah yang telah diharamkan oleh Nabi dan para Shahabat; dan lain-lain 
keyakinan sesat.

Inti keyakinan Syiah Rafidhah, adalah kedurhakaan kepada Syariat Islam, 
mempertuhankan imam-imam, menjadikan dendam politik sebagai akidah tertinggi, 
mengkafirkan kaum Muslimin, menodai kehormatan para Shahabat yang dicintai oleh 
Al Musthafa Shallallah ‘Alaihi Wasallam; serta semua itu dibungkus di balik 
kamuflase “mencintai Ahlul Bait Nabi”. Masya Allah, laa haula wa laa quwwata 
illa billah. Ini adalah keyakinan kufur, sehingga siapa yang meyakini semua ini 
secara sadar; dia otomatis kufur. Tidak berbeda sama sekali antara seorang 
Muslim yang masuk Kristen, Hindu, Budha, dengan orang yang masuk Syiah Rafidhah 
(Imamiyah) ini.

Ada sebuah pernyataan aneh dari seorang tokoh ormas Islam tertentu. (Lihat 
artikel ini: Inilah Sikap Tokoh Ormas Islam Terkait Tragedi Sampang). Komentar 
yang bisa saya sampaikan: “Pak, Pak…lewat pernyataan seperti ini, kita seperti 
tidak pernah belajar agama saja. Bukankah konflik Sunni-Syiah sudah terjadi 
sejak ribuan tahun lalu, sejak dakwah Abdullah bin Saba’ dimulai? Sementara isu 
Zionisme itu kan baru kemarin-kemarin? Masak sih, setiap ada isu konflik 
Sunni-Syiah, selalu dilarikan ke isu Zionisme? Apakah itu maksudnya, supaya 
Ahlus Sunnah di Indonesia diam-diam saja menghadapi semua provokasi dan 
kesesatan ajaran Syiah, karena mereka berlindung di balik isu kontra Zionisme? 
Selagi orang-orang sesat itu terus mencaci-maki kehormatan isteri-isteri Nabi 
dan para Shahabat, jangan pernah bermimpi ada perdamaian antara Sunni dan Syiah.

Pak Habib, perlu dijelaskan sedikit kepada Anda. Di mata kaum Syiah, 
mencaci-maki isteri Nabi dan para Shahabat adalah SOKO GURU akidah mereka. Demi 
Allah, akidah Syiah dibangun di atas azas ini; sehingga kalau kita 
berteriak-teriak selama ribuan tahun meminta Syiah untuk menghentikan 
caci-makinya itu, niscaya ia tidak akan terlaksana. Karena inti eksistensi 
Syiah ada disana. Sementara bagi kaum  Muslimin (Ahlus Sunnah), mencintai Ahlul 
Bait Nabi, mencintai isteri-isteri beliau, mencintai para Shahabat beliau; hal 
itu juga merupakan AZAS AKIDAH Ahlus Sunnah, setelah AZAS TAUHID dan AZAS 
SUNNAH. Menafikan azas ini bisa berakibat kekafiran bagi pelakunya; sebab Allah 
Ta’ala telah menjadikan isteri-isteri Nabi dan para Shahabat Nabi ridha 
kepada-Nya, dan Allah pun ridha kepada mereka (Surat At Taubah: 100).

Lihatlah Surat An Nuur! Surat ini andaikan kita boleh ikut menamainya, ia akan 
diberi nama “Surat Aisyah“. Mengapa? Karena sejak ayat 1 sampai ayat 26, isi 
surat ini ialah pembelaan dari langit, dari Arasy tertinggi, terhadap kesucian 
‘Aisyah binti Abi BakrinRadhiyallahu ‘Anhuma dari tuduhan keji yang dialamatkan 
kepadanya. Tidak ada di antara ummat Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam, yang 
mendapat pembelaan sangat banyak dalam Al Qur’an, selain Ummul Mukminin 
Radhiyallahu ‘Anha tersebut. Lalu atas semua ini, Syiah Rafidhah menjadikan 
sosok Aisyah Radhiyallahu ‘Anha sebagai sasaran caci-maki, laknat, dan 
kebencian.

Lalu di zaman modern ini, tiba-tiba muncul sosok “pahlawan” yang ingin 
mendamaikan Sunni dan Rafidhah. Masya Allah, seberapa kuat tangan, fisik, dan 
suara dia, untuk mendamaikan PERTEMPURAN AKIDAH yang abadi ini? Allah Ta’ala 
meridhai isteri Nabi dan para Shahabat; sementara Syiah Rafidhah mencaci-maki, 
menghina, dan melaknati mereka. Jelas kaum Ahlus Sunnah berdiri di bawah 
bendera Hizbullah (Keridhaan Allah); sedangkan Syiah Rafidhah berdiri di bawah 
keridhaan dan hidayah iblis laknatullah ‘alaih. Dan Hizbullah itulah yang pasti 
menang!

Wahai Ahlus Sunnah…Anda harus sadar sesadar-sadarnya, bahwa tidak ada yang 
sanggup mengalahkan Anda, melemahkan Anda, atau meruntuhkan Anda. Karena Anda 
berdiri di atas Al Haq. Anda berdiri di atas Syariat Islam yang suci, 
Kitabullah dan Sunnah yang mulia, Akidah Tauhid yang kokoh; serta Anda berdiri 
di atas Keridhaan Allah Ar Rahman, insya Allah wa bi idznihi. Tidak ada yang 
sanggup mengalahkan Anda, siapapun diri mereka; apakah Amerika, Inggris, NATO, 
nuklir Iran, jamaah Syiah Rafidhah seluruh dunia, dan seterusnya. Karena kita 
(Ahlus Sunnah) ditolong oleh Ar Rahmaan, lantaran selalu berpegang kepada 
Kesucian Syariat Islam, serta memuliakan Ahlul Bait Nabi semurni-murninya, 
tanpa mengkultuskan dan menodai hak-hak Uluhiyah dan Rubbubiyyah Allah Ta’ala.

Pegang selalu kemurnian akidah Ahlus Sunnah, dan jangan dilepaskan karena 
alasan apapun. Sekalipun kita mati, biarlah mati di bawah naungan bendera 
SUNNAH NABI Shallallah ‘Alaihi Wasallam. Jangan pernah lepaskan akidah ini, 
wahai Ahlus Sunnah. Karena akidah inilah yang akan menjadikan Islam tetap eksis 
di muka bumi; karena akidah inilah yang akan menjadikan Syariat Islam yang suci 
tetap terpelihara; karena akidah inilah yang akan menyatukan kita dengan 
barisan Sayyidul Mursalin, isteri-isteri Nabi, para Khulafaur Rasyidin, para 
Shahabat, serta imam-imam Ahlus Sunnah sepanjang masa, hingga hari ini.

Jangan pernah dilepaskan, wahai Saudaraku. Bahkan bercita-citalah kalian untuk 
mati dalam rangka membela BENDERA RASULULLAH sampai titik darah terakhir! 
Adapun terhadap omongan eli-elit politik sesat, serta bajingan-bajingan moral, 
abaikan saja. Semua itu tak akan memberi madharat sedikit pun kepada Allah yang 
Maha Suci. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Penulis adalah pengarang buku “Bersikap Adil Kepada Wahabi”

(saif al battar/arrahmah.com)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke