Ref: Ada untungnya menjadi negara gagal dalam waktu dekat, karena dengan begitu 
seperti perusahaan bangkrut, setelah dilikwidasi bisa bikin 
perusahaan-perusahaan baru yang solid dan menguntungkan semua pemegang saham 
termasuk pekerja, jadi bukan hanya direktur-direktur yang menikmati.

http://www.shnews.co/detile-15570-beban-politik-dan-pemerintahan-bagi-sby.html

Beban Politik dan Pemerintahan bagi SBY 
Tajuk Rencana | Rabu, 27 Februari 2013 - 14:30:26 WIB

: 118 




(dok/antara)

Semoga kita tidak mengalami apa yang disebut sebagai negara gagal. 


SETELAH pengunduran diri Anas Urbaningrum sebagai Ketua Umum Partai Demokrat 
serta ditanggalkannya jaket biru kebanggaan partai, belum ada tanggapan 
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Ketua Dewan Pembina, apalagi sebagai 
Ketua Majelis Tinggi partai yang telah mengambil alih tugas dan tanggung jawab 
DPP. 

Media juga seolah tidak peduli dengan tanggapan Presiden SBY atas pengunduran 
diri Anas tersebut. Sebaliknya, media masih sibuk “mengorek” halaman berikut 
yang akan dibuka anas, terutama “serangan balik Anas” sebagaimana tersirat 
dalam pidato pengunduran dirinya Sabtu lalu. 

Para pengamat juga sedang sibuk melayani media, bagaimana prediksi tentang 
sikap Anas ke depan, seolah terlupakan bahwa pengunduran diri Anas adalah 
akibat dari surat perintah penyidikan (sprindik) Komisi Pemberantasan Korupsi 
(KPK) atas nama Anas Urbaningrum. 

Demikian juga para loyalis Anas, seolah-olah KPK dianggap melakukan perbuatan 
zalim tanpa dasar hukum dan bukti sehingga dengan mundurnya Anas perlu diikuti 
dengan mundur juga. 

Malah ada berita terbaru ada kader Demokrat yang pindah partai, suatu hal yang 
tidak mendidik dalam pembersihan dan pemberantasan korupsi serta mengaburkan 
loyalitas kepada penegakan hukum, perwujudan keadilan, atau setia tanpa pamrih 
kepada seseorang. 

Apakah perlawanan atau serangan balik Anas dan atau loyalisnya benar ada atau 
tidak, masih menunggu waktu, termasuk bentuk dan sasarannya, perseorangan, 
partai, atau bisa saja bertujuan mulia untuk memulihkan dan membersihkan bangsa 
ini dari segala keboborokan dan kejahatan. 

Apakah dalam lembaran-lembaran berikutnya, Anas akan membuka borok hukum dan 
borok politik serta demokrasi yang telah terjadi? Atau Anas tidak terlibat di 
dalamnya, akan tetapi karena dia tidak lagi bertanggung jawab atas kestabilan 
dan situasi dan kondisi sudah memungkinkan untuk dibongkar, bisa saja terjadi 
dan hanya Anas yang tahu. 

Namun apa pun yang akan terjadi, ini jelas akan menambah beban politik bagi 
Susilo Bambang Yudhoyono sebagai pendiri dan penggagas partai. Apalagi ia juga 
Ketua Majelis Tinggi yang memimpin pengambilalihan tugas dan tanggung jawab DPP 
Partai Demokrat. 

Alasan utama yang diketahui publik tentang pengambilalihan DPP adalah untuk 
mengatasi turunnya elektabilitas partai yang diduga akibat terkaitnya nama Anas 
Urbaningrum dalam kasus pembangunan sekolah dan pusat pelatihan terpadu 
olahraga Hambalang. 

Untuk mengerjakan tugas ketua umum, Majelis Tinggi menugaskan dua Wakil Ketua 
Umum, Sekjen, dan Direktur Eksekutif. Penunjukan keempat figur tersebut 
memperlihatkan bahwa tidak akan ada kemampuan untuk bertindak tanpa “petunjuk” 
dari sang ketua. Dengan demikian dapat dibayangkan beban politik akan semakin 
menumpuk pada SBY, terlebih menjelang penyusunan calon legislatif yang harus 
dengan hati-hati-dengan munculnya istilah loyalis Anas. 

Diakui atau tidak, tenaga, waktu, serta perhatian presiden akan semakin terbagi 
kepada negara dan pemerintahan, serta sebagai penggagas, pendiri, dan Ketua 
Majelis Tinggi Partai Demokrat yang sudah hampir babak belur dimulai dari kasus 
yang menimpa mantan Bendahara Umumnya Nazaruddin, Angelina Sondakh, anggota 
Dewan Pembina Hartai Murdaya, dan Andi Alfian Malarangeng, disusul Ketua 
Umumnya Anas Urbaningrum. 

Ini akan menjadi beban pemerintah, termasuk untuk sebagian anggota koalisi 
terutama setelah ditangkap dan ditahannya Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq 
dalam kasus suap impor sapi. 

Kalau beberapa bulan lalu ada yang menuding bangsa ini bagaikan autopilot , 
barangkali akan lebih parah lagi ke depan. Semoga kita tidak mengalami apa yang 
disebut sebagai negara gagal. 

Demikian juga kita akan menyaksikan apakah Partai Demokrat sebagai partai 
santun, bersih, dan cerdas; Partai Keadilan Sejahtera sebagai partai dakwah dan 
bersih akan menjadi partai gagal mewujudkan visi dan misinya. Ini akan 
ditentukan oleh mereka yang mengemban tanggung jawab untuk maksud dan tujuan, 
serta visi dan misi masing-masing. 

Kepada para petinggi bangsa sebagai negarawan-negarawan sejati, kita berharap 
mereka mendahulukan kepentingan bangsa dan negara, serta masyarakat ketimbang 
kepentingan kelompok dan pribadi, apalagi tindakan balas dendam dan bumi 
hangus. Masalah korupsi diserahkan ke pengadilan dan partai diselesaikan secara 
internal sehingga tidak mengganggu roda pemerintahan. 

Sumber : Sinar Harapan

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke