Ref: Para koruptor saling berganti kongkalikong, yang sudah dapat rejeki 
dipersilahkan mundur, yang belum dapat banyak silahkan maju pantang mundur.

http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=322243


 KONGRES LUAR BIASA
Elite Demokrat Bersaing Gantikan Anas 

Arbi Sanit, Pengamat Politik Universitas Indonesia (UI) 

Jumat, 1 Maret 2013



JAKARTA (Suara Karya): Dalam waktu dekat, Partai Demokrat berencana menggelar 
kongres luar biasa (KLB) untuk mencari pengganti Anas Urbaningrum yang 
menyatakan berhenti dari Ketua Umum DPP Partai Demokrat. 

Bursa calon ketua umum pun mulai bermunculan. Sejumlah nama mulai 
digadang-gadang, seperti Edhie Baskoro Yudhoyono alias Ibas (kini sekjen), 
Marzuki Alie (anggota Dewan Pembina), dan Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo 
(kini Kepala Staf TNI AD/KSAD) yang akan pensiun pada 5 Mei mendatang. Marzuki 
vs Pramono diperkirakan bersaing ketat.  

Demikian dikemukakan pengamat politik Universitas Maritim Raja Ali Haji 
Kepulauan Riau, Dr Suradji, dan pengamat politik Universitas Indonesia (UI), 
Arbi Sanit, secara terpisah, di Tanjungpinang, Kepri dan Jakarta kemarin.  

"Dua figur ini punya basis dukungan yang kuat. Marzuki Alie pernah bertarung di 
Kongres Partai Demokrat di Bandung melawan Anas Urbaningrum dan Andi Alifian 
Mallarangeng. Kalau bersedia maju, Jenderal Pramono tentu akan didukung 
'kekuatan besar' SBY," ujar Suradji.  

Arbi Sanit juga menilai, Marzuki Alie satu-satunya yang tidak terlibat kasus 
hukum. "Ke depan, persaingan memang akan sangat ketat dan seru. Di sinilah 
Partai Demokrat kembali diuji kemampuan dalam mengelola konflik sebagai dampak 
persaingan memperebutkan kursi ketum," katanya.  

Dia mengingatkan, perseteruan internal yang "membakar" Partai Demokrat saat ini 
adalah imbas dari rivalitas pascakongres di Bandung. "Inilah yang menjadi PR 
besar Partai Demokrat berikutnya dalam rangka menyongsong Pemilu Legislatif dan 
Pilpres 2014," katanya.  

Sementara itu, gerakan dukung-mendukung calon di internal Partai Demokrat makin 
menguat. Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat Hayono Isman mulai 
terang-terangan menyatakan mendukung Marzuki Alie.  

"Lebih baik memilih Marzuki karena dia memiliki dukungan riil di daerah. Ini 
memudahkan, apalagi Marzuki pernah jadi sekjen dan mampu menggairahkan partai," 
katanya.  Selain itu juga ada usulan Djoko Suyanto (Menko Polhukam) dan Ketua 
DPD I Partai Demokrat Jawa Timur yang juga Gubernur Jatim Soekarwo, adik mantan 
Ketum Demokrat Hadi Utomo, Agus Hermanto, pengurus DPP Partai Demokrat dan 
rekan seangkatan SBY, Cornel Simbolon, dan anggota Dewan Pembina Partai 
Demokrat yang juga Gubernur Sulawesi Utara SH Sarundajang. 

Hayono juga menyebutkan, Marzuki pernah menyatakan kesiapan kepada dirinya. 
Anggota Komisi I DPR itu meyakini Marzuki bisa terpilih jika mencalonkan diri.  
"Pak Marzuki mengatakan kepada saya, Pak Marzuki siap. Dukungan yang besar kan 
juga Marzuki, selain Anas," ujarnya.  Namun, menurut mantan Menteri Pemuda dan 
Olahraga ini, siapa pun yang nanti terpilih sebagai pengganti Anas Urbaningrum 
tidak diperkenankan menjadi bakal calon presiden (capres) Partai Demokrat untuk 
Pilpres 2014 mendatang. "Sudah dimulai oleh Ketua Dewan Pembina SBY (Susilo 
Bambang Yudhoyono-Red), siapa pun yang jadi ketum tidak boleh jadi capres," 
kata Hayono.  Dia mengingatkan, selaiknya Ketum Demokrat lebih fokus mengurusi 
partai, dan tak boleh tergoda untuk maju menjadi capres. "Karena, janji 
reformasi pemberantasan korupsi yang harus dipikul oleh parpol," ujarnya. Lebih 
jauh, Hayono mengatakan, pemilihan Ketum Demokrat bisa dilakukan dengan dua 
mekanisme. Selain melalui kongres, bisa juga dipilih calon ketum yang kalah 
pada kongres sebelumnya.

"Tinggal dipanggil siapa yang secara administratif dapat dipilih sebagai 
ketum," ucapnya.  Marzuki Alie sendiri saat dikonfirmasi wartawan mengaku belum 
memikirkan kemungkinan untuk maju sebagai pengganti Anas Urbaningrum. Saat ini, 
Ketua DPR itu ingin fokus membenahi partai.  "Siapa yang bilang calonkan saya? 
Jadi gini, kita belum tetapkan acara KLB karena kita menata dulu puing-puing 
yang terpecah-pecah ini karena kesalahpahaman," kata Marzuki kepada pers usai 
diskusi mengenai Konflik Etnis, Agama, dan Separatisme, di Kampus Universitas 
Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat, Kamis (28/2).  Marzuki belum berpikir maju 
sebagai calon ketua umum. 

Menurut dia, yang terpenting saat ini adalah membenahi internal Demokrat. "Kita 
tidak lihat dulu, nanti, yang penting sekarang kita masih terpecah-pecah," kata 
Marzuki, yang juga anggota Majelis Tinggi Partai Demokrat ini.  Marzuki 
menyayangkan kasus yang melibatkan Anas menjadi politis. Dia ingin masalah ini 
tak terus dipelesetkan. "Seolah-olah kasus Anas masalah politis, skenario ya, 
ada yang salah paham. Ini masalah hukum yang menimpa Anas, kemudian 
dipelesetkan seolah politik," katanya.  Sementara itu, dukungan terhadap 
Pramono Edhie juga makin menguat. Menurut sumber di internal Partai Demokrat, 
mantan Ketua Umum Partai Demokrat Hadi Utomo ikut menggalang dukungan untuk 
Pramono.  Hadi mulai menggelar pertemuan dengan sejumlah petinggi partai untuk 
mengegolkan Pramono menjadi Ketua Umum Demokrat. "Pertemuan itu di Park Hotel, 
Cawang, kemarin. Pengkondisian Pramono Edhie," kata sumber tersebut, di 
Jakarta, kemarin.  Sejumlah petinggi Partai Demokrat hadir di acara tersebut, 
antara lain Murtada Sinuraya, Subur Sembiring, dan lain-lain. Hadi Utomo 
memimpin langsung pertemuan tersebut.  

Di pihak lain, Istana menegaskan, Presiden SBY tidak pernah mencampuri proses 
hukum siapa pun, termasuk terhadap kasus yang melibatkan mantan Ketum DPP PD 
Anas Urbaningrum. Selama ini semua penyelesaian kasus hukum yang melibatkan 
siapa pun, semuanya diserahkan kepada lembaga penegak hukum yang berwenang, 
dalam hal ini KPK.  "Kalau Bapak Presiden dikatakan ada intervensi dalam kasus 
hukum seseorang, itu sama sekali tidak benar. Tidak pernah Bapak Presiden 
melakukan hal-hal yang sifatnya campur tangan terhadap proses hukum seseorang, 
termasuk pada saudara Anas Urbaningrum," kata Juru Bicara (Jubir) Presiden 
Julian Aldrin Pasha, di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (28/2).  

Julian mengatakan, proses hukum Anas Urbaningrum sepenuhnya adalah proses yang 
ditangani oleh KPK. Julian kembali menegaskan bahwa tidak ada campur tangan 
Presiden sedikit pun dalam proses hukum tersebut.  Karena, lanjut dia, selama 
sembilan tahun memimpin, masyarakat pun tahu bahwa presiden tidak pernah 
melakukan intervensi kepada kepolisian, kejaksaan, maupun KPK.  "Karena beliau 
berpendirian, sebagaimana amanat konstitusi kewenangan pemerintahan yang ada di 
tangan presiden, memang tidak ada ruang untuk masuk di ranah hukum guna 
intervensi lembaga hukum. Saya kira ini perlu diklarifikasi pada KPK, kalau 
memang benar ada kekurangyakinan pada hal ini," ujarnya.  Julian juga menjawab 
pertanyaan soal apakah kinerja Presiden terpengaruh karena menyebut nama 
anaknya, Ibas. "Saya kira kita semua kembalikan pada fakta dan bukti yang ada," 
katanya. (Rully/Antara/M Kardeni/Sugandi) 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke