http://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/13/03/03/mj24ei-socrates-ini-cara-selesaikan-persoalan-di-papua
Socrates: Ini Cara Selesaikan Persoalan di Papua
Minggu, 03 Maret 2013, 06:39 WIB 
Komentar : 0  Antara/Anang Budiono 
 
Sejumlah prajurit TNI memapah rekan mereka yang menjadi korban penembakan dan 
penyergapan kelompok sipil bersenjata setibanya di Bandara Sentani, Kabupaten 
Jayapura, Papua, Ahad (24/2). 
A+ | Reset | A- 
REPUBLIKA.CO.ID, JAYAPURA -- Ketua pengurus badan Persekutuan Gereja-gereja 
Baptis Papua (PGGBP), Pendeta Socrates Sofyan Yoman, mengatakan penyelesaian 
sejumlah persoalan di wilayah itu dapat dilakukan melalui dialog.

"Dialog damai yang bermartabat antara Indonesia dan Papua tanpa syarat dan 
dimediasi oleh pihak ketiga, itu solusinya," kata Socrates Sofyan Yoman usai 
peluncuruan buku "Otonomi Khusus Papua Telah Gagal" di aula STT GKI Padang 
Bulan, Kota Jayapura, Papua, Sabtu (2/3).

Menurut dia, akar persoalan yang sangat mendasar di wilayah Indonesia timur itu 
bukan lebih kepada soal kesejahteraan seperti yang didengungkan selama ini oleh 
elite politik ataupun para pemerhati soal Papua, tetapi lebih kepada masalah 
pelurusan sejarah Papua ke Indonesia.

"Akar pesoalanya bukan kesejahteraan tetapi soal sejarah Papua dengan 
Indonesia, hal inilah yang harus dibahas secara baik lewat dialog," katanya. 

Ia mengatakan sejak 1961 telah banyak program yang berlaku di Papua hingga pada 
masa reformasi pada 1998. Pada tahun 1999 rakyat Papua meminta merdeka, namun 
yang diberikan oleh pemerintah pusat adalah otonomi khusus. Pendeta Socrates 
yang terkenal vokal itu mengatakan Otsus seharusnya bisa memberikan 
keberpihakan, pemberdayaan dan perlindungan, tetapi yang terjadi adalah 
sebaliknya.

Socrates lahir di Situbondo pada 15 Desember 1969 dan merupakan tokoh gereja 
yang vokal soal Papua. Dia dosen di berbagai Sekolah Tinggi Theologia di Kota 
dan Kabupaten Jayapura, yang pernah berbicara dengan staf khusus Sekjen PBB 
pada Oktober 2011. "Pada 6 Maret ini, saya akan luncurkan buku baru lagi dengan 
judul "Saya Bukan Bangsa Budak."


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke