Golden Traders Indonesia Syariah, Investasi 
Emas "Diduga Bodong" Bersertifikat Halal

GTIS juga memberi 10 persen 
keuntungannya kepada MUI.

VIVAnews - Investasi emas Golden 
Traders Indonesia Syariah (GTIS) ternyata sudah bersertifikat halal. 
Sertifikat itu diberikan Majelis Ulama Indonesia pada 24 Agustus 2011.

Seperti dilaporkan lembaga penyiaran publik TVRI, dalam sertifikat itu 
diberikan Ketua MUI Ma’ruf Amin kepada Presiden Direktur GTIS Taufiq Michael 
Ong dan disaksikan Ketua DPR Marzuki Alie.

"Ini investasi emas syariah yang pertama dan satu-satunya di Indonesia," kata 
Ong saat pemberian sertifikat itu.

Pada kesempatan itu, GTIS juga memberi 10 persen keuntungannya kepada 
MUI yang ditujukan untuk kaum duafa. Sebagian tokoh MUI juga masuk 
sebagai Dewan Penasihat perusahaan itu.

Halaman ini berisi infografik dengan animasi flash, anda bisa melihatnya di PC 
dengan browser yang sudah terinstal flash player

DZ, nasabah investasi itu juga mengatakan, agennya memberi tahu bahwa 
10 persen saham GTIS dimiliki MUI, sisanya dimiliki sebagian orang, 
termasuk Ong yang merupakan warga negara Malaysia. "Saya juga bingung 
kenapa MUI punya saham," katanya.

Selain sahamnya dimiliki MUI,
 DZ juga mengatakan bahwa agennya memberi tahu investasi ini telah 
bersertifikat halal. "Makanya saya percaya," katanya.

DZ 
merupakan nasabah yang menginvestasikan Rp35 juta dengan imbalan Rp1,9 
juta per bulan. Namun, sudah beberapa bulan ini tak dapat imbalannya. 
Bahkan tak tahu nasib uang yang ditanam setelah Ong dikabarkan lari ke 
Malaysia.

Penelusuran VIVAnews, dari iklan-iklan di sejumlah 
website komunitas dan blog, GTIS juga menawarkan satu-satunya investasi 
emas bersertifikat halal. Tentu saja, juga menawarkan keamanan 
berinvestasi.

Ketika dikonfirmasi, Ma'ruf tidak mau menjelaskan
 posisinya sebagai Dewan Penasihat di GTIS. "Saya sedang di Makkah," 
katanya langsung mematikan telepon genggamnya.

Sedangkan 
Marzuki Alie mengatakan dia hanya mengislamkan Ong. Tidak ada kaitannya 
dengan perusahaan itu. "Mana ada di perusahaan Dewan Pembina. Memang 
organisasi?" katanya kepada wartawan di kampus UI, Depok.

MUI Akui Terima Keuntungan Golden Traders 

TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Bidang Perekonomian Majelis Ulama Indonesia 
(MUI), KH Amidhan, mengakui MUI menerima keuntungan saham sebesar 10 
persen dari PT Golden Traders Indonesia Syariah (GTIS). Keuntungan 
tersebut diterima Yayasan Dana Dakwah Pembangunan milik MUI.

Menurut Amidhan, keuntungan tersebut diterima karena pengurus MUI duduk 
sebagai dewan penasihat di GTIS. “MUI hanya menjadi dewan pengawas 
syariah di GTIS,” ujarnya, kemarin. Dewan pengawas dari MUI, kata dia, 
adalah Sekretaris Jenderal Ichwan Sam dan Ketua Bidang Fatwa KH Ma’ruf 
Amin.

Amidhan menuturkan, emas yang dikelola GTIS hanya 1,2 ton
 atau bernilai sekitar Rp 600 miliar. Dengan demikian, kabar bahwa dana 
nasabah Rp 10 triliun raib adalah tidak benar. Nilai emas ratusan miliar
 rupiah, kata dia, masih aman karena sudah diblokir oleh Bank BCA dan 
Bank Mandiri.

Menurut Amidhan, Presiden Direktur GTIS Michael 
Ong dan Direktur Edward sejak pekan lalu menghilang dari Jakarta. 
Manajemen langsung mengamankan rekening perusahaan dan rekening pribadi 
dua direktur asal Malaysia itu. Namun, dia mengakui kedua direktur itu 
telah membobol Rp 4 miliar dari rekening pribadi dan Rp 10 miliar dari 
rekening perusahan untuk dibagikan ke sembilan orang. Menurut Amidhan, 
nama penerima dana masih dalam penyelidikan.

Deputi Komisioner 
Edukasi dan Perlindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan, Sri Wahyuni 
Widodo, mengatakan pihaknya tak bisa mencabut izin GTIS. Upaya yang bisa
 dilakukan adalah memberikan rekomendasi pencabutan izin usaha. “Kepada 
lembaga yang mengeluarkan izinnya,” ujarnya kemarin.

Kepala 
Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditas Syahrul R. Sempunajaya 
menyatakan polisi berwenang melakukan penyelidikan. “Karena ini ranah 
pidana,” ujarnya.

Nasabah GTIS di Mal Taman Anggrek, Jakarta, 
Hendry, menyatakan menunggu hasil rapat umum pemegang saham Senin depan 
untuk penyelesaian uang miliknya. Ia mengatakan berinvestasi sebesar Rp 1
 miliar di GTIS.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke