Terima kasih bung Yusak atas tanggapannya. Bangsa kita belum terbiasa dengan budaya mengucapkan terima kasih seperti juga budaya membalas tanggapan orang lain atau bahkan surat. Bangsa kita belum terbiasa berkomunikasi panjang dan biasanya kalau suratnya atau tanggapannya sudah terjawab lantas komunikasi terputus begitu saja. Kita memang masih belajar beradab merskipun suka mengaku punya peradaban tinggi. Bangsa kita memang ramah tamah tapi dengan ramah tamah saja masih jauh daripada sempurna atau berbudaya tinggi. Bangsa kita kurang diplomatis dan itu bisa dimaklumi. Untuk bisa berdiplomasi diperlukan sarat intelektualitas tertentu. Saya kira temperamen orang-orang Amerika Latin banyak persamaannya dengan kita: mudah spontan tapi kurang diplomatis. Salam, asahan.
----- Original Message ----- From: yusak kantawijaya To: Sent: Wednesday, March 06, 2013 5:34 PM Subject: Bls: Hadiah dari seorang nobelist Terimakasih pak Asahan untuk postingan-nya. Saya beberapa kali mengalami pengalaman yang sama, yaitu memberikan complimentary dari novel saya kepada kenalan dan kemudian tidak ada kabarnya sama sekali. Mungkin sulit,ya, untuk mereka dapat menghargai sesuatu yang mereka terima dengan cuma-cuma. Sekali lagi, terimakasih,pak Asahan untuk postingan-nya. Salam kenal, Yusak Kantadjaya. https://www.smashwords.com/profile/view/YusakKantadjaya ------------------------------------------------------------------------------ Dari: ASAHAN <[email protected]> Dikirim: Sabtu, 13 Oktober 2012 22:34 Judul: Hadiah dari seorang nobelist Hadiah dari seorang Nobelist Pablo Neruda (1904-1973) penyair asal Chili dan peraih hadiah Nobel Sastra(1971) menceritakan kekecewaannya pada seorang pengarang novel asal Peru, Mario Vargas Llosa, peraih Nobel(2010). Neruda yang baru saja menerima 5 exemplar terahir dari kumpulan sajaknya dari penerbit, langsung mengirimkan ke lima bukunya itu kepada lima penyair muda Chili yang mengaguminya dan tentu saja Neruda menuliskan sesuatu pada setiap buku untuk penerimanya. Namun tak seorangpun dari lima penyair Chili itu yang memberi kabar pada Neruda bahwa buku sudah mereka terima, tidak satu kalimatpun yang menyatakan buku suduh sampai ke tangan mereka. Hilang terbang tanpa kabar berita. Dan Neruda tidak mempunyai sebuahpun dari bukunya yang baru terbit itu. Kita tahu Pablo Neruda adalah seorang penyair dunia dimana sangat sukar menemukan negeri yang tidak menterjemahkan sayair-syairnya ke bahasa masing-masing. Neruda adalah nabi puisi Amerika Latin, nabi puisi dunia. Dia begitu terkenal bukan saja oleh karya-karya puisinya yang luar biasa luas dan menjengkau semua kehidupan tapi juga terkenal penampilannya yang sederhana, suka makan dan memperhatikan materi remeh temeh dalam kehidupan. Pablo Neruda adalah seorang anggota Partai Komunis dan hingga ahir hidupnya dia tetap setia pada keyakinannya meskipun menurut Mario Vargas Llosa, di hari tuanya ia menjadi lebih kritis terhadap hal-hal yang terjadi di Soviet Uni namun tetap mengagumi Stalin walaupun di hari tuanya dia ingin berdamai dengan semua yang dulu pernah jadi musuhnya. Neruda adalah seorang pengeritik luar biasa tajamnya terhadap musuh-musuh ideologinya tapi juga memberikan cinta yang luar biasa besarnya terhadap semua korban penindasan dan kekerasan. Sama seperti juga Gabriel Garcia Marquez(1927) seorang pengarang Columbia peraih Nobel 1982 pada masa tuanya mendambakan kecintaan dari semua pembacanya, dari seluruh ummat manusia: "Saya menulis adalah untuk meraih cinta mereka dan tetap menulis untuk mendapatkaan cinta yang lebih besar lagi dari mereka". Kembali pada kisah Neruda yang mengirimkan 5 buah bukunya kepada 5 penyair muda Chili yang tanpa berita. Sebagai penulis kecil dan tidak berarti dan jauh dariripada terkenal sayapun suka menghadiahkan buku-buku saya yang baru diterbitkan kepada beberapa kenalan, teman karib hingga pada peneliti sastra yang berkaliber nasional dan dunia yang kebetulan bertemu disalah satu pertemuan. Hasilnya sama dengan dengan yang dialami Pablo Neruda: bila bertemu dengan seseorang yang pernah saya hadiahi saya belum pernah mendengar reaksi mereka sepatahpun. Kalau umpamnya ada yang bilang: "Bung, bukunya belum saya baca". Jawaban itu saja saya sudah setengah mati senangnya. Atau umpamnya yang saya kirimi via pos dengan jawaban singkat: "Buku sudah terima". Saya akan merasa lega luar biasa. Kadang kadang terlintas pikiran pada diri saya: Tabu menghadiahkan buku pada siapapun" agar dua belah pihak tidak ada beban. Saya maklum bagi penerima hadiah, juga adalah beban. Dan beban terberat bagi mereka adalah kalau saya bertanya: "Bagaimana, apa buku saya sudah dibaca?". Beruntunglah, pertaanyaan demikian sudah menjadi tabu besar bagi saya karena itu adalah terror bagi yang ditanya. Memang etika aalah peraturan yang tidak tertulis. Tapi bila etika itu dilanggar atau diabaikan, itu sama beratnya dengan hukuman seorang yang nyolong ayam diganjar 6 tahun penjara (di Indonesia). ASAHAN. http://synergyprofit.com
