http://www.shnews.co/detile-16396-teknologi-nuklir-rusia-jadi-pilihan-indonesia.html


Teknologi Nuklir Rusia Jadi Pilihan Indonesia? 
Isabella Manurung | Jumat, 15 Maret 2013 - 14:48:05 WIB

: 68 




(dok/AP Photo)

Roastom menekankan personel harus menjadi perhatian khusus. 


JAKARTA - Menyebut kata nuklir saat ini, di tengah skeptisisme dunia mengingat 
beberapa negara menggunakannya untuk tujuan pertahanan diri, mengarahkan publik 
pada tujuan damai, adalah hal yang tidak mudah dan murah. Namun, sebagai negara 
pemasok nuklir terbesar di dunia, Rusia belum berhenti meyakinkan publik, 
termasuk Indonesia, bahwa nuklir yang mereka gunakan dan tawarkan benar untuk 
tujuan damai. 

Melihat Indonesia berpeluang baik mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga 
Nuklir (PLTN), Rusia, di bawah badan atom nasional, Rosatom, yang mengelola 
sekaligus memasarkan teknologi nuklir mereka, mendorong pengembangan nuklir 
namun tetap berpegang pada dasar untuk tujuan damai. 

Dalam jumpa pers seminar yang berjudul "Pengalaman Rusia di Bidang Penggunaan 
Energi Nuklir Damai" di Jakarta, Rabu (13/3), Kepala Departemen Infrastruktur 
Nuklir Rosatom Overseas, YN Busurin, menegaskan komitmen Rusia menggunakan 
nuklir untuk tujuan damai. 

“Di dalam bidang pertahanan, semuanya sesuai dengan skala pemerintah. Kami 
mengurangi persenjataan sampai pada skala intergovernment, utilisasi, hingga 
materialnya. Kami tidak menyambut negara-negara yang memiliki persenjataan 
nuklir, tapi menyambut setiap negara yang ikut nonproliferasi. Ini prinsip 
dasar Rusia,” ujar Busurin. 

Saat ini Rosatom menjadi pemasok energi nuklir serta penyedia teknologi nuklir 
untuk 40 negara di seluruh dunia termasuk Argentina, Australia, China, 
Bangladesh, Belanda, Brasil, India, Jepang, Jerman, Korea Selatan, Prancis, 
Ukraina, Turki, serta Vietnam. 

Yang menarik dari tawaran yang diberikan Rusia yaitu sejumlah solusi 
bertanggung jawab, seperti solusi masyarakat, yang tetap mengedepankan 
kenyamanan masyarakat, solusi energi, industri, berupa instalasi teknologi, 
personel, hingga solusi keuangan. Namun, jika Indonesia berencana menggunakan 
PLTN sebagai energi jangka panjang, Roastom menekankan personel harus menjadi 
perhatian khusus. 

Dengan pengalaman di bidang nuklir lebih dari 60 tahun, Rusia memberikan 
perhatian khusus untuk mencetak ahli nuklir. Hal ini terlihat dari universitas 
nuklir yang telah ada di Negeri Beruang Merah itu sejak tahun 1942. Dengan 
jumlah mahasiswa lebih dari 38.000 orang, 1.000 di antaranya mahasiswa asing, 
Universitas Penelitian Nuklir Nasional di Obninsk, Rusia, terbukti mampu 
mencetak spesialis nuklir handal. 

Di universitas, VV Karezin, Direktur Proyek Pendidikan Rosatom, menjelaskan 
mahasiswa dipersiapkan menjadi seorang spesialis dari jenjang sarjana yaitu 
selama hampir 13 tahun. Empat tahun untuk jenjang S1, 2 tahun untuk S2, dan 6,5 
tahun untuk menjadi speasialis. Jika mahasiswa mulai berkuliah S1 pada umur 15 
atau 16 tahun, maka di usia 30 tahun seorang ahli nuklir telah siap. 

Pengalaman Rusia yang telah terbukti, menurut Kepala Badan Tenaga Nuklir 
Nasional (BATAN), Djarot Wisnubroto, adalah sesuatu yang dapat dipelajari 
Indonesia. Namun, dikatakannya, saat ini pemerintah Indonesia memang belum 
menetapkan kontrak apa pun dengan Rosatom. 

Kerangka kerja sama antara Indonesia-Rusia, menurut Wisnubroto, masih berupa 
MoU yang ditandatangani Presiden SBY dan Vladimir Putin. Wisnubroto memaparkan 
solusi keuangan atau dari keuntungan ekonomi yang ditawarkan Rosatom, yang 
cukup menarik. Rosatom menawarkan sistem Build-Own-Operated (BOO), yaitu 
mengerjakan pembangunan pembangkit listrik hingga pengoperasian. 

“Rosatom menawarkan BOO seperti digunakan Turki. Pemerintah Turki tidak 
mengeluarkan apa pun karena semua dikerjakan Rosatom. Rusia hanya menarik uang 
dari harga listrik, kemudian setelah sekian tahun, diserahkan penuh kepada 
pemerintah Turki. Jika Indonesia keberatan mengeluarkan uang, BOO mungkin dapat 
menjadi alternatif,” katanya. 

Wisnubroto menekankan, jika pemerintah mengembagkan nuklir, tidak akan menjadi 
saingan pembangkit listrik tenaga batu bara atau matahari. "Karena, pemerintah 
pasti punya prioritas daerah yang dapat dibangun pembangkit nuklir, yang mana 
untuk batu bara. Tidak di semua tempat dikembangkan nuklir. Tempat yang baik 
untuk nuklir ada di Bangka, utara jawa, dan seluruh wilayah Kalimantan, dengan 
potensi gempa bumi kecil,” jelasnya. 

Apakah Indonesia di tengah banyaknya tawaran pengembangan energi nuklir oleh 
negara lain, akan menjatuhkan pilihan pada Rusia, semuanya bergantung pada 
keputusan pemerintah nantinya. Ujarnya, keputusan politis dengan melihat 
keuntungan positif bagi Indonesia tetap ada di dalamnya. 

Sumber : Sinar Harapan

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke