Ref: Apakah kalau presiden marah akan mempengaruhi harga bawang menjadi murah dan lebih murah lagi ataukah kemarahannya adalah hanya emosi pribadi yang tak berpengaruh terhadap kemurahan harga bawang? Oh bawang, bawang merah, bawang putih, kalian berdua membuat presiden menjadi marah.
http://www.shnews.co/detile-16419-gejolak-harga-bawang.html Gejolak Harga Bawang Tajuk Rencana | Sabtu, 16 Maret 2013 - 10:24:29 WIB : 86 Presiden marah dengan kenaikan harga bawang yang membumbung tinggi. Gejolak kenaikan harga bawang putih dan bawang merah di pasaran dalam beberapa hari terakhir makin memprihatinkan. Kenaikan harga bawang merah dari Rp 10.000 per kilogram (kg) jadi Rp 60.000 per kg dan bawang putih dari Rp 25.000 per kg menjadi Rp 90.000 per kg dinilai sangat tidak rasional. Wajar jika muncul dugaan ada permainan kartel atau permainan perusahaan impor bawang putih maupun bawang merah. Indonesia memang salah satu negara agraris besar yang menggantungkan kebutuhan bawang putih dari impor. Khusus bawang putih kondisinya mirip produk terigu, di mana kita mengandalkan impor untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dengan alasan tanaman terigu tidak cocok dikembangkan di Indonesia. Benarkah bawang putih lokal tidak bisa dikembangkan dan ditingkatkan kualitas maupun produksinya? Adakah upaya pemerintah maupun lembaga terkait untuk memperbaiki kualitas produk bawang maupun produk pangan pertanian lainnya? Apa yang menjadi fokus dan yang dikerjakan Kementerian Pertanian selama ini dalam upaya kemandirian pangan dalam negeri? Selama ini harga bawang putih impor jauh lebih murah dibanding bawang lokal, sehingga petani bawang putih di dalam negeri tidak tertarik untuk menanam. Persoalannya terletak pada kualitas produk bawang putih dalam negeri yang kalah bersaing dengan bawang putih impor yang unggul dari kualitas maupun harga. Jadilah Indonesia pengimpor sejati bawang putih. Akan halnya produksi bawang merah lokal, kondisinya sedikit lebih baik. Produk bawang merah dalam negeri masih cukup besar dan kualitasnya masih cukup bagus, sehingga ketergantungan akan bawang merah dari produk impor tidak terlalu besar. Terutama karena adanya kebijakan pembatasan impor untuk bawang merah. Jika impor dibuka besar-besaran pasti tergilas oleh bawang impor. Komoditas bawang, khususnya bawang putih, memang sudah menjadi permainan perusahaan impor. Mafia bawang putih impor sangat kuat sehingga mampu memengaruhi kebijakan pemerintah. Akibatnya Kementerian Pertanian maupun lembaga pendidikan seperti Institut Pertanian Bogor (IPB) atau lembaga pendidikan tinggi lainnya tidak pernah fokus menerapkan kemajuan teknologi untuk memperbaiki kualitas produk bawang putih lokal. Menurut salah seorang mantan rektor IPB, hasil riset tentang pengembangan bawang putih berkualitas sudah banyak dilakukan, namun hasilnya tidak pernah diterapkan pemerintah—dalam hal ini Kementerian Pertanian. Akibatnya hasil riset itu hanya disimpan di bawah meja. Kuatnya peran mafia impor sejumlah produk strategis membuat Indonesia tidak mungkin mencapai kemandirian pangan. Pengusaha akan berusaha melanggengkan bisnisnya dengan memengaruhi kebijakan pemerintah. Jadi, wajar jika negara kita kaya sumber daya alam, tetapi tidak mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri. Ironis memang, tetapi itulah negeri bernama Indonesia yang makin dikuasai mafia bisnis dalam segala aspek kehidupan. Oleh karena itu, dugaan adanya permainan para importir dalam kasus bawang merah dan bawang putih itu sangat mungkin. Hal itu bisa dilihat dari makin banyaknya jumlah perusahaan yang main di bisnis impor bawang. Berdasarkan data, tahun lalu hanya ada 70 importir yang mengajukan impor bawang putih, namun tahun ini melonjak menjadi 130 lebih Importir Terdaftar (IT). Dari semua perusahaan ini diduga banyak yang memiliki keterkaitan, termasuk adanya pemain baru dari koneksi partai politik. Terkait hal itu, kita tentu sangat mendukung upaya Komisi Pemantau Persaingan Usaha (KPPU) dalam hal impor bawang tersebut. Permainan kartel dalam bisnis impor bawang memang harus dibongkar dan lebih dari itu pemerintah diminta lebih serius menangani kemandirian pangan. Selama ini, para pejabat lebih banyak bicara angka-angka di atas kertas dan seolah-olah tidak ada masalah di negeri ini. Namun, dalam kenyataannya, ketahanan pangan kita sangat rapuh. Ketergantungan impor terhadap produk-produk bawang putih, daging sapi, beras, dan lainnya tidak masuk dalam logika masyarakat. Semua sumber yang dibutuhkan ada di negeri ini dan bangsa ini mampu melakukannya. Persoalannya, apakah pemerintah sudah fokus untuk menjalankan fungsi dan tugasnya demi kepentingan bangsa dan negara? Sumber : Sinar Harapan [Non-text portions of this message have been removed]
