Ref:  Katanya Nabi Muhammad menjungjung kaum wanita, jadi silahkan maju tak 
gentar membela yang benar!

http://www.shnews.co/detile-16563-kasus-korupsi-marak-perempuan-enggan-jadi-caleg.html


Kasus Korupsi Marak, Perempuan Enggan Jadi Caleg 
Ruhut Ambarita | Selasa, 19 Maret 2013 - 15:51:42 WIB

: 64 



(dok/antara)

Partai politik harus sadar perempuan sangat penting terlibat dalam proses 
kebijakan.


JAKARTA – Kasus korupsi yang marak di parlemen dan terjerembabnya politikus 
dalam kasus-kasus korupsi berdampak terhadap pandangan perempuan dalam 
memandang dunia politik. Ini menjadi satu faktor yang menyebabkan kaum 
perempuan takut mencalonkan diri sebagai calon legislator. 

“Maraknya korupsi dan hal-hal tidak baik di parlemen berdampak pada pandangan 
perempuan melihat politik,” kata Wakil Ketua MPR Melani Leimena Suharli Melani 
dalam diskusi bertajuk “Penguatan Peran Politik Perempuan” di Kompleks 
Parlemen, Jakarta, Senin (18/3). Hadir sebagai pembicara Ketua Komisi VIII Ida 
Fauziah dan peneliti Pusat Kajian Politik Universitas Indonesia Ani Soetjipto. 

Melani mengatakan, pandangan kaum perempuan terhadap politik harus diluruskan. 
Menurut politikus Partai Demokrat itu, kaum perempuan harus diberitahu jika 
ingin melakukan perubahan harus masuk partai dan berusaha menjadi anggota DPR 
agar terlibat dalam pembahasan legislasi. 

Namun, Ida mengatakan peluang kaum perempuan masuk partai politik terhalang 
sejumlah kendala. Ia menyebutkan ada kendala struktural dan kultural yang 
menyebabkan kesempatan perempuan masuk partai menjadi tersumbat. Hingga kini 
belum ada kesungguhan hati dari partai untuk melibatkan perempuan dalam 
politik. 

“Belum ada kesadaran dari partai bahwa perempuan sangat penting terlibat dalam 
proses kebijakan,” ujarnya. Oleh karena itu, tak heran bila komposisi politikus 
perempuan dalam parlemen sangat kecil dibandingkan politikus laki-laki. 

Berdasarkan data yang dimilikinya, politikus perempuan hanya mencapai 9 persen 
dari 500 anggota DPR yang terpilih dari Pemilu 1999. Ia melanjutkan, hasil itu 
sedikut meningkat menjadi 11 persen pada Pemilu 2004, dan 18 persen dari hasil 
Pemilu 2009. 

Dengan kondisi minimnya jumlah perempuan di DPR maka sulit berharap 
kebijakan-kebijakan yang diambil parlemen mengarah pada keseimbangan gender. 
Kendala lainnya, lanjut Ida, masih kuatnya budaya patriarki dalam dunia politik 
dan lemahnya kesadaran perempuan dalam berpolitik. 

Sementara itu, Ani mengatakan, aturan partai harus memenuhi 30 persen kuota 
perempuan dalam calon legislator jangan dianggap hanya sebagai target 
kuantitas. Namun, partai harus betul-betul mencari perempuan berkualitas yang 
bakal diusung sebagai calon legislator. 

“Kalau hanya jumlah tanpa perspektif, ya tidak berguna. Kita ingin perempuan 
yang mampu mengaktualisasikan untuk rakyat, bukan untuk dirinya sendiri,” 
ujarnya. Ida, yang politikus Partai Kebangkitan Bangsa, mengakui langkah partai 
mencari perempun politikus masih sebatas memenuhi syarat jumlah yang telah 
ditetapkan aturan. 

Sumber : Sinar Harapan

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke