http://www.antaranews.com/berita/364581/kisah-gedung-sekretariat-negara

Kisah Gedung Sekretariat Negara
Kamis, 21 Maret 2013 20:31 WIB | 1465 Views

Oleh Ade P. Marboen

 
Dokumentasi foto Gedung Harmonie. Satu bendi berjalan di depan gedung yang 
terletak di Rijkwijk (Jalan Veteran) dan Rijkwijk Straat (Jalan Majapahit). 
(wikipedia.com)

  Gedung Harmonie adalah benteng pertahanan militer dinamakan Rijkwijk. 

Galeri Terkait 

Setneg Kebakaran 

Setneg Kebakaran 
Video Terkait 

Gedung Utama Setneg Terbakar


Presiden Beri Pembekalan ...

 
Jakarta (ANTARA News) - Lantai 3 Gedung Sekretariat Negara terbakar Kamis 
petang. Presiden Susilo Yudhoyono yang sedang memimpin rapat kabinet 
menghentikan rapat, keluar dari ruang rapat kepresidenan dan langsung 
menghampiri sekitar lokasi kebakaran itu.

Tidak pelak pula Ibu Negara, Ani Yudhoyono, juga keluar sambil menenteng 
kameranya. Wajahnya tidak bisa menyembunyikan kegalauannya menyaksikan api 
menghabiskan ruang rapat di atas tempat kerja Menteri Sekretaris Negara, Sudi 
Silalahi.

Gedung itu berada dalam kompleks Istana Merdeka-Istana Negara, yang terletak di 
lingkar Jalan Medan Merdeka Utara, Jalan Juanda, dan Jalan Veteran III, Jakarta 
Pusat.

Bagaimana sejarah gedung itu?
Menurut sejumlah sumber, gedung itu dulu didirikan pada masa pemerintahan 
Belanda pada 1810. Gubernur Jenderal Belanda pada saat itu, Reiner de Klerk, 
sendiri yang menyuruh didirikannya gedung itu pada 1776.

Pemerintah penjajahan Belanda menamai gedung itu Harmonie Societiet, tempat 
pembesar-pembesar saat itu bersosialisasi dan saling berbagi cerita, sementara 
para nyonyanya bersenang-senang menghabiskan waktu. 

Hingga "zaman normaal", begitu istilah orang-orang tua menjelang Perang Dunia 
II, gedung itu masih difungsikan sebagai tempat kalangan jet set Batavia 
bersenang-senang atau berdiskusi.

Selepas kemerdekaan Indonesia, masyarakat menamakannya sebagai Gedung Harmonie, 
sesuai nama kawasan tersenut. 


Jauh sebelum difungsikan sebagai tempat kongkow, Gedung Harmonie adalah benteng 
pertahanan militer dinamakan Rijkwijk, di luar kota Batavia sebagai penjaga 
arus masuk kota dari arah selatan.

Kota Batavia saat itu jauh lebih sempit ketimbang Jakarta saat ini. Gedung itu 
sempat tidak terurus, dan terbakar dalam kerusuhan pertama Tionghoa pada 1740. 

Pemerintahan berganti di Hindia Belanda, dan Gubernur Jenderal Herman Willem 
Daendels alias "Raden Mas Galak" pada memerintah pada 1808 hingga 1811.

Daendels memerintahkan pembenahan  kawasan Harmonie, dan membangun satu istana 
gubernur jenderal yang lebih megah dan patut, serta membangun gedung hiburan. 
Bangunan terakhir itulah yang kemudian lagi-lagi dinamakan Gedung Harmonie.

Setelah Daendels tidak lagi menjadi gubernur jenderal, tiba kepemimpinan 
Gubernur Jenderal Sir Thomas Stamford Raffles dari Inggris.

Inggris menguasai Hindia Belanda saat itu, sebagai akibat dari kekalahan 
Belanda dan Spanyol atas Inggris. Sempurnalah Gedung Harmonie alias Harmonie 
Societeit berdiri megah pada 1868, bertepatan dengan ulang tahun ratunya, Ratu 
Charlotte. 

Entah apa alasannya, apakah itu karena semangat nasionalisme anti-penjajahan 
atau yang lain, Gedung Harmoni yang berbatasan langsung dengan Istana Merdeka 
(menghadap Jalan Medan Merdeka Utara) dan Istana Negara (menghadap Jalan 
Juanda) dirubuhkan pada masa pemerintahan Orde Baru pada Maret 1985.

Padahal, banyak negara maju melestarikan gedung-gedung penting bersejarahnya. 
Namun, Gedung Harmonie dirubuhkan begitu saja, sebagian menjadi Gedung 
Sekretariat Negara. Sebagian lagi diganti lahan aspal untuk parkir.

Editor: Priyambodo RH

COPYRIGHT © 2013

Berita Terkait
  a.. Empat unit mobil pemadam disiagakan di Sekretariat Negara
  b.. Tidak ada arsip penting Setneg yang terbakar
  c.. Presiden hentikan rapat saat Gedung Sekretariat Negara terbakar
  d.. Tidak ada korban jiwa dalam kebakaran Gedung Setneg
  e.. 27 unit mobil pemadam kebakaran diturunkan ke Setneg

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke