ref: Barangkali  harus dipahami bahwa  keadaan tanah Arab bukan “seindah” yang 
dibayangkan.

http://www.shnews.co/detile-16681-dari-arab-karwati-membawa-sengsara.html

Dari Arab, Karwati Membawa Sengsara 
Widjil Purnomo | Kamis, 21 Maret 2013 - 15:40:23 WIB

: 67 




(dok/antara)

Maksud mengubah nasib miskin, namun dari negara para nabi Karwati pulang 
membawa sengsara.


Karwati (22) hanya bisa menatap kosong ketika anggota keluarga menggotongnya 
untuk dimasukkan ke dalam mobil sewaan. Dari mulut ibu satu anak itu kadang 
keluar suara seperti orang kesakitan jika ada yang salah dalam cara menggotong 
dari atas ranjangnya yang reyot ketika hendak keluar kamar. 

Hampir dua bulan anak petani miskin itu tergolek tak berdaya di tempat 
tidurnya. Seluruh badannya tak bisa bergerak. 

Mulutnya tak bisa mengucapkan sepatah kata pun kecuali lenguhan-lenguhan yang 
menyayat hati. Susah untuk makan dan—maaf—alat kemaluannya mengeluarkan nanah. 
Semuanya menambah depresi yang dialaminya. 

Senin (18/3) lalu, ia dirawat di RS Polri Kramat Jati. Sebelumnya, ia pernah 
dirawat di rumah sakit ini, tapi keluarganya memulangkan ke kampung halamannya 
di Dusun Tumaritis, Desa Rawagempol Wetab, Kecamatan Cilamaya Wetan, Kabupaten 
Karawang, Jawa Barat, karena tak kunjung sembuh. Keluarga juga kehabisan uang 
dan bekal untuk tinggal di Jakarta. 

Karwati adalah TKI yang pernah mengadu nasib di Timur Tengah. Harapannya besar, 
ia ingin mengubah kondisi keluarga yang miskin dan tak memiliki keahlian karena 
keterbatasan akses pendidikan. 

Ia pilih berangkat ke Suriah. Namun, maksud baik tak selalu mendapat hasil yang 
baik. Di negeri itu, Karwati justru memulai petualangan penderitaannya. 

Banyak TKI asal Karawang memang menggantungkan cita-citanya ke negara-negara 
Timur Tengah. Melekat daya tarik bahwa negara-negara di Arab bisa memberi 
berkah karena tempat kelahiran para nabi. 

Orang seperti Karwati yang tidak menempuh sekolah dasar terbuai dengan daya 
tarik itu. Tak ada keraguan, yakin saja hasilnya baik. “Ya, keinginannya 
seperti orang-orang lainnya di kampung ini karena uang dari sana bisa buat beli 
sawah,” kata Castem (48), ibu kandung Karwati. 

Di Karawang memang banyak orang yang sukses setelah bekerja di Timur Tengah. 
Setidaknya, sepulang dari sana banyak di antaranya yang bisa membeli sawah dan 
membangun rumah. 

Bahkan membangun masjid dan infrastruktur desa. Sayangnya, Karwati bernasib 
lain dari mereka yang sukses itu. Kedatangan Karwati dari Suriah, 11 Januari 
membuat Castem pilu dan meratapi nasib anakanya. Kondisinya mengenaskan dan 
tanpa sepeser uang. 

Ketika hendak ke puskesmas, ia beruntung memiliki Kartu Jaminan Kesehatan 
Masyarakat (Jankesmas) sehingga biaya pengobatan tak menjadi masalah. Namun, 
Castem harus susah payah membayar transportasi menuju puskesmas. Cerita makin 
rumit setelah Karwati masuk RS Polri Kramat Jati. Ia tak mampu lagi biaya 
tinggal di Jakarta menjaga anaknya. “Saya bingung harus cari uang ke mana, 
tetangga juga tidak ada yang bisa dipinjami,”ujarnya. 

Castem terpaksa menjual sebidang tanah Karwati yang didapat dari pemberian ayah 
kandungnya yang kini sudah menikah dengan orang lain. Castem memang cerai 
dengan suami terdahulu dan menikah lagi dengan Ade Saprudin ketika Karwati 
berusia 6 tahun. “Jadi tanah pemberian bapaknya itu saya jual, dan baru dibayar 
Rp 2 juta, sisanya akan dibayar setelah panen,” katanya. 

Karwati masuk ke RS Kramat Jati atas bantuan seorang aktivis buruh migran, 
Padhullah. Padhullah, bagai cahaya dalam kegelapan bagi Karwati. Dialah yang 
menyemangati Karwati saat ini untuk pulih kembali saat Castem sudah pasrah 
dengan nasib anaknya. Perlahan-lahan, Karwati kini bisa diajak bicara. 

Karwati memiliki suami bernama Sugianto yang menikah beberapa saat sebelum ia 
berangkat ke Suriah, 21 Juni 2011 melalui PT Berkah Guna Selaras di Condet, 
Jakarta Timur. Namun Sugianto sudah tak jelas keberadaannya setelah ikut 
program transmigrasi ke Kalimantan bersama orang tuanya. 

Sugianto bahkan meninggalkan Karwati saat yang bersangkutan sedang tergelatak 
lemah di rumah sakit beberapa hari lalu. “Jadi sekarang semuanya hanya diurus 
istri sama saya,” ujar Ade Saprudin (59), ayah tiri Karwati. 

Belum jelas, bagaimana asal-muasal penderitaan Karwati. Ade cuma menduga 
kondisi anak tirinya akibat pemerkosaan dan penganiayaan oleh keluarga Amal Al 
Ehywi. Amal Al Ehywi, majikan Karwati di Kota Al Davi Sharea-Suriah yang pernah 
diketahui perusahaan pengirimnya. Namun, hingga kini perusahaan pengirim tak 
pernah menceritakan apa pun tentang Karwati. 

Karwati tentu hanya satu dari sekian banyak kisah sedih TKI. Karwati, si miskin 
yang punya mimpi mengubah nasibnya. Apa daya tangan tak sampai, yang datang 
malah nasib malang. Negara hanya menghargai TKI kalau kisah sukses yang diraih, 
tetapi ketika sengsara yang didapat, negara tak banyak menganggap apa pun. 

Sumber : Sinar Harapan

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke