http://nasional.kompas.com/read/2013/03/17/09110734/Semoga.Ayah.Ibuku.Tidak.Korupsi.utm.source.WP.utm.medium.box.utm.campaign.Khlwp


Semoga Ayah Ibuku Tidak Korupsi...
Minggu, 17 Maret 2013 | 09:11 WIB 
Share:
KOMPAS/WAWAN H PRABOWOMural menjadi salah satu media kampanye untuk melawan 
maraknya praktik korupsi di negeri ini. Salah satu karya mural antikorupsi 
tersebut bisa ditemui di bawah Jembatan Layang Jalan Jenderal Gatot Subroto, 
Sabtu (16/3). 
TERKAIT:
  a.. Korupsi, Korupsi, Korupsi..! 
  b.. Kita Lihat Perempuan Hakim Memimpin 
  c.. Koruptor Itu Budayawankah? 
  d.. Dana Bantuan Koruptor 
  e.. Kuburan Para Koruptor Itu Makin Sepi
KOMPAS.com - Rakyat mengungkapkan rasa jijik mereka atas menggilanya kejahatan 
korupsi lewat mural di tembok-tembok kota. Di ruang pamer, perupa ”berperang” 
melawan korupsi dengan menampilkan sosok celeng, alias babi hutan, sebagai 
metafora keserakahan para pengisap harta rakyat.

"Ya Tuhan, Semoga Ayah Ibuku Tidak Korupsi...”, itulah harapan dan doa warga 
yang tertulis pada pilar beton penyangga jembatan layang yang melintas di Jalan 
Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Di samping tulisan itu tergambar seorang ibu 
berdoa dengan tangan menengadah.

Di tiang penyangga lain, masih di kolong jembatan layang yang sama, ada mural 
atau lukisan dinding bergambar perempuan dengan air mata menitik bertuliskan, 
”Aku Tak Sudi Bersuamikan Koruptor...”.

Gambar itu terbuat dari kertas berwarna putih dan ditempelkan di dinding beton. 
Kondisinya usang dan berimpit dengan gambar-gambar lain. Namun, mural ini 
tampak cukup menohok mata. Kata-katanya tertulis dengan huruf berwarna merah 
tegas.

Mural-mural di kolong jembatan layang itu terletak sekitar 300 meter dari 
gerbang Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia yang berpagar besi 
menjulang. Kolong jembatan itu menjadi tempat berteduh warga pejalan kaki atau 
pengendara motor kala hujan turun.

Kita simak mural lain di tembok jembatan layang arteri Permata Hijau, Jakarta 
Selatan. Di sana, ada mural bergambar wajah dengan ujung jari telunjuk yang 
ditempel di depan bibir. Wajah itu seakan memberi isyarat peringatan. Lalu ada 
tulisan, ”Ssstt... Ingat...!!! Masih Ada Korupsi...”.

Cobalah tengok ke terowongan Cawang, Jakarta Timur. Pada dinding kiri ujung 
terowongan yang mengarah ke Cililitan terpampang mural yang menggambarkan meja 
makan. Di atasnya ada mangkuk berisi buah-buahan dan gelas minum. Meja itu 
dikitari sosok berdasi berkepala setan, tikus, babi, dan celeng. Pada sudut 
kanan bawahnya terbaca pesan, ”Hati-hati dalam Memilih”.

Lawan

Begitulah mural-mural bertebaran di sudut-sudut kota Jakarta dengan muatan 
ekspresi yang hampir sama, yaitu melawan korupsi! Tak mudah melawan korupsi 
dengan cara mural. Komunitas Street Serrum yang cukup gencar berperang melawan 
korupsi dengan senjata mural harus pintar-pintar bermain kucing-kucingan dengan 
polisi atau petugas dari kelurahan.

Komunitas Serrum lahir tahun 2006 sebagai wadah para mahasiswa bereksplorasi 
dengan menjajal berbagai medium karya seni rupa. Arief ”Arman” Rachman (32), 
salah satu pegiatnya, menuturkan, nama ”Serrum” sebenarnya pelesetan dari 
bahasa Inggris, share room, yang bermakna berbagi ruang. Dalam hal ini berbagi 
ruang penyampai unek-unek rakyat.

Namun, tidak mudah berbagi ruang dengan pihak yang mungkin mendukung korupsi. 
Nyatanya, banyak mural antikorupsi kerap berumur pendek. Bahkan, banyak yang 
hanya berumur jam-jaman. Para pegiat street art sudah hafal, ada daerah-daerah 
keramat untuk mural dan grafiti. Underpass Dukuh Atas itu salah satu tempat 
paling ”keramat”, grafiti atau mural apa pun biasanya akan dibersihkan dalam 
satu-dua hari.

MG Pringgotono (32) alias MG, anggota Serrum, hafal jenis mural, grafiti, atau 
poster ”keramat” yang tak bakal berumur panjang. Tiap kali membuat mural, 
grafiti, dan poster antikorupsi yang menyebut nama tokoh, misalnya seorang 
terpidana korupsi, pasti karya itu bakal lenyap dalam hitungan jam.

”Jadi, ada lokasi ’angker’, yang pasti membersihkan grafiti, mural, atau poster 
apa pun dalam hitungan hari. Dan, selalu ada isu ’keramat’ yang selalu 
dibersihkan entah oleh siapa dalam hitungan hari, bahkan jam,” kata MG.

Namun, mereka tidak pernah jeri dan terus bergerilya melakukan ”perang kota”. 
”Kami memilih melakukan pendidikan publik di ruang publik, lewat propaganda 
publik,” ujar MG.

Perang celeng

Bendera perang terhadap korupsi juga dikibarkan oleh pelukis Aris Budiono 
Sadjad dengan menggelar pameran bertajuk ”Perang Suci Melawan Korupsi”, 14-23 
Maret 2013, di Bentara Budaya Jakarta (BBJ). Pameran yang menggelar 23 lukisan 
ini dibuka oleh Direktur Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat Komisi 
Pemberantasan Korupsi (KPK) Dedi A Rachim, Kamis (14/3).

Aris geram melihat perilaku para koruptor yang tidak menampakkan penyesalan. 
Karena itu, ia menggunakan celeng sebagai metafor kerakusan dan kebebalan. 
”Kalau tikus itu mudah dikalahkan dan penakut, nah kalau celeng, tetap merasa 
gagah walau korupsi,” kata Aris.

Dalam lukisan ”Empat Cakil Rakyat”, Aris menggambar empat butha cakil (raksasa 
kecil yang rakus) sedang menunggang empat ekor celeng. Keempat celeng bertaring 
panjang dengan mata mendelik dan mulut merah. Jelas sekali ciri-ciri sebagai 
”hama” yang rakus itu siap memangsa apa saja.

Di lukisan lain dengan penuh ironi Aris melukis ”Corruptor Family Gathering”. 
Di kanvas tampak sejumlah kalangan sedang berpesta pora, bersenang-senang, 
berenang, main musik, dan segala aktivitas hiburan lainnya. Hal yang aneh, 
seluruh pelaku pesta pora itu berwajah celeng. Begitulah, kata Aris, sifat 
celeng. ”Selalu gagah, tak pernah takut, malah diperlakukan seperti selebritas. 
Semua itu, kan, kini terjadi di hadapan kita?” kata Aris.

Kita kini seolah hidup di negeri penuh koruptor. Pemutarbalikan fakta jadi hal 
biasa, perasaan tidak bersalah jadi pemandangan sehari-hari. ”Dan itu memuakkan 
sekali, sudah seharusnya dilawan,” kata Aris.

KPK merasa mendapat kawan dalam berperang melawan para ”celeng” pemangsa harta 
rakyat. ”Ibaratnya kami sedang berperang sendirian di tengah gurun pasir, dan 
tiba-tiba ada sumber air. Ini menyejukkan kami. Ternyata, KPK punya teman-teman 
seniman,” kata Dedi dalam pembukaan pameran di BBJ.

Provokasi kesadaran batin

Seniman yang beraksi dengan mural dan grafiti di tembok-tembok kota tentunya 
juga kawan- kawan KPK. Budayawan Mudji Sutrisno SJ menyebut seniman seperti 
mereka sebagai penjaga kehidupan yang tetap mau menjaga kelangsungan hidup 
bermartabat.

Apakah suara rakyat yang terucap di tembok-tembok kota itu didengar orang?

”Kentungan harus dipukul terus untuk mengingatkan jaga malam saat waktu jaga, 
atau bahaya-bahaya, maling, kebakaran yang akan menghancurkan masyarakat. 
Anjing harus terus menggonggong lantaran proses membaca tulisan-tulisan di 
mural yang antikorupsi masih tetap menemukan bacaannya untuk kita,” kata Mudji.

Mudji melihat suara-suara di tembok kota tetap diperlukan. Yang berbahaya 
adalah kalau apatisme dan kebisuan, cuek, tidak acuh sudah menjadi sikap lalu 
tidak ada sama sekali reaksi atau tulisan-tulisan mural lagi. Bila sampai tahap 
ini, demokrasi dan hidup bersama berada dalam lampu merah. ”Selama seniman 
nurani masih terus nulis tajam dan kritis antikorupsi di mural-mural, itu 
berarti masih ada dinamika hidup di masyarakat kita,” kata Mudji.

Bagaimanapun, suara rakyat di tembok-tembok kota atau di ruang pameran akan 
tetap mempunyai makna di tengah kehidupan negeri ini saat ini. Kritikus seni 
rupa Suwarno Wisetrotomo dalam katalog pameran ”Perang Suci Melawan Korupsi” 
mengingatkan bahwa karya seni memiliki fungsi untuk memprovokasi kesadaran dan 
batin.

Dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Yogyakarta itu menandaskan, ”Karya seni 
melatih kepekaan dan sikap kritis terhadap segala ketidakadilan atau kezaliman 
yang menimpa manusia, kemanusiaan, serta kehidupan.” (AHA/CAN/ROW/XAR)


Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
Inggried Dwi Wedhaswary

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke