Ref: Apakah memalukan jika takir demikian ?

http://www.analisadaily.com/news/2013/6073/perbuatan-yang-memalukan-orang-indonesia/

02 Apr 2013 00:03 WIB 
Perbuatan yang Memalukan Orang Indonesia

Oleh: Hotden. 


Bangsa Indonesia semakin hari diwarnai oleh berbagai fenomena yang memalukan 
tidak lain akibat ulah aparat pemerintahnya. Istilah kasus korupsi tidak lagi 
hal yang asing apalagi jarang didengar, seakan menjadi santapan sehari-hari 
masyarakat luas. Tidak hanya itu, konflik horizontal baik antar masyarakat satu 
dengan yang lain, masyarakat dengan pemerintah bahkan antara pemerintah satu 
dengan pemerintah yang lain. Lengkap sudah negeri ini menjadi tempat orang yang 
tidak kenal malu.
Budaya malu masih kurang di Indonesia sehingga wajar mereka yang berbuat salah 
tidak tahu malu. Pejabat yang korup tidak merasa bahwa perbuatannya suatu 
kesalahan besar dan akan berdampak pada dirinya maupun keluarganya bahkan nama 
baik bangsa, sudah pasti urat malunya sudah tidak ada. Jika kita melihat negara 
maju katakanlah Jepang, mereka sangat malu jika berbuat kesalahan sehingga 
tidak segan-segan langsung mengundurkan diri dari jabatan. 

Berbeda jauh jika kita bandingkan dengan negara Jepang, Indonesia tertinggal 
jauh. Seperti kejadian tsunami baru-baru ini di Jepang 11 Maret 2011 yang 
mengakibatkan kerusakan parah sehingga Perdana Menteri Jepang Naoto Kan 
mengundurkan diri langsung tanpa banyak komentar. Sebenarnya hal itu hanya 
karena bencana alam tetapi karena dianggap dia gagal sehingga mengundurkan 
diri. Keputusan seperti itu sangat sulit ditemukan di Indonesia, malahan banyak 
pembenaran yang tidak sesuai dengan fakta. Banjir adalah hal yang paling sering 
terjadi di kota-kota besar katakan saja Medan, namun hal itu tidak menjadi hal 
yang dianggap memalukan jika tidak bisa teratasi sebaliknya masyarakat yang 
disalahkan karena buang sampah sembarangan.

Perbuatan yang Memalukan

Pendidikan yang bobrok baik di daerah maupun di pusat tidak juga membuat 
pejabat kita malu bahkan membuat berbagai kebijakan yang lagi-lagi hanya 
merugikan negara milyaran rupiah. Sudah dari dahulu sistem pendidikan kita 
tidak pernah mencerdaskan anak bangsa tetap saja sistem yang tidak baik itu 
berlangsung meskipun berbagai program pemerintah melalui perubahan kurikulum di 
bentuk.

Konflik sosial seperti perang saudara di daerah timur seperti Papua yang 
membuat mereka tidak bisa bersatu untuk membangun daerah mereka. Sehingga pihak 
asing sangat mudah untuk memecah mereka dan yang dirugikan adalah masyarakat 
Papua dan yang untung adalah bangsa asing yang berinvestasi. Masyarakat tidak 
lagi bisa berpikir bahwa daerah mereka sudah dieksploitasi tanpa melihat 
kesejahteraan mereka karena sibuk dengan perang saudara.

Tidak hanya masyarakat, pemerintah juga terlibat cekcok mulai dari pemimpin di 
kepolisian yang tertangkap korupsi, pemimpin partai yang tertangkap korupsi, 
menteri yang tertangkap korupsi, dan kepala daerah yang tertangkap korupsi. 
Negeri ini adalah negeri tempat para koruptor, memang sangat sadis tetapi 
itulah adanya. Pejabat yang terjaring kasus korupsi terpaksa membongkar 
jaringan aliran dana haram yang melibatkan pejabat lain sehingga konflik pun 
terjadi.

Polisi yang dikatakan sebagai pelindung masyarakat tidak lagi melindungi tetapi 
sebaliknya yaitu menjadi musuh. Di jalan raya masyarakat yang tertangkap 
sehingga harus mengeluarkan uang untuk terlepas dari jerat polisi. Sehingga 
masyarakat beranggapan bahwa polisi pemeras masyarakat. Ketika masyarakat 
berdemonstrasi untuk menuntut hak mereka juga kerap terjadi adu jotos antara 
masyarakat dengan polisi sehingga masyarakat beranggapan bahwa polisi lebih pro 
penguasa. Sebenarnya polisi dibentuk menjadi pelindung masrakat atau hanya 
pelindung pemerintah? Jika kita lihat semboyan polisi yang kurang lebih untuk 
mengayomi dan melindungi segenap masyarakat. 

Jika polisi hanya menjadi pelindung pemerintah itu artinya pemerintah akan 
seenaknya berbuat salah yang kemudian dilindungi, masyarakat yang menuntut 
kesalahan pemerintah akan dihalau oleh polisi. Mau jadi apa negeri kita ini? 
Sewajarnya negara demokrasi masyarakatnya bebas beraspirasi apalagi menuntut 
kinerja pemerintah yang hancur karena korupsi, tidak perduli nasib rakyat 
miskin dan kondisi eksploitasi alam secara brutal oleh pihak asing. 

Aksi yang paling memalukan adalah ketika oknum TNI yang menyerang Mapolres di 
OKU (Ogan Komering Ulu) Sumatera Selatan sehingga mengakibatkan terbakarnya 
kantor polisi tersebut. Peristiwa ini membuktikan bahwa aparat negeri ini 
seperti penjaga para elit berkuasa saja bukan pelindung masyarakat atau pembela 
negara. Buktinya ketika kedaulatan NKRI direbut oleh negara tetangga kita hanya 
bisa diam, TKI kita yang dibunuh di luar negeri kita hanya bisa diam, tanah 
rakyat yang dirampas oleh investor asing kita hanya bisa diam, dan perekonomian 
kita yang sesuka luar negeri menaikturunkan harga juga kita hanya bisa diam.

Lantas apa yang mau dilihat jika kita hanya bisa diam sehingga pemerintah yang 
tidak berintegrasi bisa menjadi eksis dan dengan mulusnya pampang wajah. Sangat 
memalukan jika tidak dengan segera diberantas mereka yang berkhianat bagi 
rakyat. Rakyat sudah sangat muak dengan sistem pemerintahan yang jauh dari 
seharusnya. Terbukti ketika pemilu diadakan sudah pasti pemenangnya adalah 
Golput. Pernahkah kita berpikir kenapa lebih banyak Golput dari pada pemilih?

Masyarakat sudah tidak percaya lagi pada calon pemimpin yang tidak tahu malu. 
Menebar janji manis kampanye kemudian melupakannya, sangat memalukan alias 
tukang tipu. Bertahun-tahun sudah dirasakan masyarakat luas di Indonesia 
sehingga kognitif mereka lebih condong negatif kepada pemerintahan. Memang 
tidak semua pemerintah seperti yang dipikirkan oleh masyarakat luas tetapi 
sebagian besarnya sudah terbukti memalukan.

Sosok Pemimpin Idaman

Hasil survey menyatakan bahwa Jokowi adalah calon terbanyak pendukungnya di 
pemilu 2014. Sementara ketika Jokowi ditanya soal isu tersebut dia berpendapat 
lebih ingin fokus membenahi ibukota Indonesia. Pernyataan tersebut semakin 
membuat masyarakat gregetan kenapa tidak? Mana ada orang yang menolak jika 
ditawarkan suatu jabatan tinggi apalagi sudah ada bukti survey. Sosok Jokowi 
bisa dikatakan bagian kecil dari pejabat yang tidak memalukan tadi. Kita juga 
jangan langsung berbesar hati atas kehadiran Jokowi karena proses pembuktian 
janjinya masih beberapa tahun lagi. Meskipun demikian untuk sosok pemimpin atau 
standard pemimpin yang diidamkan masyarakat untuk maju dalam pemilu 2014 adalah 
seperti sosok Jokowi yang blusukan.

Adakah pemimpin yang ingin membangun Indonesia menjadi lebih baik? Sangat sulit 
untuk menjawab pertanyaan tersebut karena butuh analisis mendalam lagi untuk 
menjawabnya. Lantas apa yang bisa diperbuat masyarakat untuk bisa memperbaiki 
negeri yang sudah bobrok ini? Ada sebagian masyarakat mengatakan dengan 
berdemonstrasi menuntut pemerintah supaya lebih memperhatikan rakyat. Ada 
sebagian mengatakan dengan mempercerdas anak bangsa supaya kelak tumbuh 
pemimpin yang berkualitas untuk membangun Indonesia. Apapun itu selama sesuai 
dengan hukum, budaya dan kepercayaan kita untuk membangun bangsa ini sudah 
sepantasnya kita lakukan. Yang menjadi masalah adalah ketika kita hanya bisa 
diam melihat negeri kita dipermalukan.***

Penulis adalah Mahasiswa Sastra Inggris USU.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke