Ref:  Dari tahun ke tahun rezim NKRI mengkonsumsikan rakyat miskinnya dengan 
beras berkualitas buruk. Alangkah manis dan sangat cinta kasihnya rezim kepada 
rakyatnya, tetapi apakah rakyat miskin tidak berhak memperoleh beras 
berkwalitas baik seperti yang dimasak oleh ibu negara untuk presiden makan 
siang?

http://us.nasional.news.viva.co.id/news/read/403130-bau-dan-berkutu--warga-miskin-tetap-konsumsi-raskin

Bau dan Berkutu, Warga Miskin Tetap Konsumsi Raskin
Selain berkutu, timbangan raskin juga berkurang 2 kg per kantong.
ddd
Sabtu, 6 April 2013, 23:36 Hadi Suprapto, Diki Hidayat (Garut) 
 
Selain berkutu, timbangan raskin juga berkurang 2 kg per kantong. (Antara/Yudi 
Mahatma)

VIVAnews - Puluhan warga Kampung Anggrek, Desa Wanakerta, Kecamatan Cibatu, 
Garut, Jawa Barat, terpaksa makan beras bau dan berkutu lantaran raskin yang 
mereka terima jelek.

Menurut salah seorang warga penerima raskin, Yaman, 42, kualitas beras bagi 
warga miskini ini sangat jelek. Selain apek, warna beras kumal, dan berkutu. 
Namun karena mereka butuh, tetap diterima dan dikonsumsi.
"Ya harus bagaimana lagi," katanya, pasrah. 

Setiap pendistribusian raskin, warga hanya memperoleh jatah 3 Kg dengan harga 
tebus Rp2.500 kg. Beras itu cukup dinanti karena harga beras di pasar mencapai 
Rp8.700. "Kalau beli dari warung sangat mahal," kata Yaman kepada wartawan, 
Sabtu 6 April 2013.

Sementara itu, petugas RW 14 di Kampung Anggrek, Supandi (43) mengatakan, jatah 
raskin untuk warganya setiap kali pendistribusian hanya 525 kg. Selain 
kualitasnya jelek, timbangan tiap karung beras juga kurang 2 kg."Tiap karung 
beras itu berisi 15 kg, tapi setelah ditimbang ulang cuma 13 kg," katanya.

+++++

http://us.nasional.news.viva.co.id/news/read/306852-penyebab-beras-miskin-bau-dan-berkutu

Penyebab Beras Miskin Bau dan Berkutu
Regulator tidak memberikan sanksi bila pengadaan tidak memenuhi standar 
kualitas.
Senin, 23 April 2012, 13:22 
VIVAnews - Pusat Telaah & Informasi Regional (Pattiro) menyatakan beras miskin 
alias raskin yang sampai ke masyarakat ternyata tidak layak konsumsi. Buruknya 
kualitas itu antara lain adanya tingkat patahan yang tinggi, warna beras kusam, 
berbau, serta berkutu. "Untuk sebuah program adhoc yang sudah berjalan hampir 
14 tahun, maka kenyataan demikian memunculkan pertanyaan besar," kata Peneliti 
Pattiro Abdul Waidl di Jakarta, Senin 23 April 2012.

Menurut dia, meski keluhan atas kualitas beras itu kerap disuarakan, tetapi 
belum ada evaluasi serius dan signifikan bagaimana membenahinya. Temuan di 
lapangan, masyarakat menghadapi kualitas raskin yang buruk itu dengan menerima 
dan dikonsumsi, menerima dan dibuang, menolak pemberian, hingga mengadukannya 
kepada DPRD. "Bila kenyataan ini terus terjadi, maka makin besar pula 
ketidakpercayaan publik kepada pemerintah," ujar Waidl.

Regulasi dinilai Waidl menjadi penyebab buruknya kualitas itu. Dia memaparkan, 
regulasi hanya mengatur standar kualitas beras dari dalam negeri. Padahal, 
sebagian besar pengadaan beras dari luar negeri. "Beras impor didatangkan 
ketika pengadaan dalam negeri tidak mencukupi. Tetapi, perum Bulog tetap 
mengimpor bahkan saat Indonesia per 2008 sudah dinyatakan swasembada beras," 
katanya.

Menurutnya, pada 2011, dari 3,1 juta ton kebutuhan raskin, minimal 2,5 juta ton 
dipenuhi melalui impor. "Regulator tidak memberikan sanksi bila pengadaan tidak 
memenuhi standar kualitas," ujarnya.

Kepala Divisi Pengawasan Kualitas Beras Perum Bulog Bambang Januardi 
mengatakan, monitoring terhadap kualitas gabah dan beras yang disimpan di 
gudang Perum Bulog dilakukan secara rutin 15 hari sekali atau dua kali dalam 
sebulan. "Hasil monitoring dituangkan dalam bentuk laporan dan sebagai dasar 
untuk pelaksanaan perawatan kualitas," kata Bambang. 




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke