http://www.gatra.com/nusantara-1/nasional-1/27740-fadli-ironis,-nelayan-miskin-di-negeri-maritim.html

Fadli: Ironis, Nelayan Miskin di Negeri Maritim 

Sunday, 07 April 2013 14:58 
Published Date 
Jakarta, GATRAnews - Nelayan masih jauh dari sejahtera di Hari Nelayan 
Nasional, yang diperingati Sabtu kemarin (6/4). Ini sebuah ironi negeri maritim 
yang belum dimaksimalkan pemerintah.



"Banyak nelayan kita yang hidup tak sejahtera. Dari total keseluruhan penduduk 
miskin nasional, kurang lebih 25 persen merupakan nelayan," kata Wakil Ketua 
Umum Partai Gerindra, Fadli Zon, di Jakarta, Minggu (7/4).

Menurutnya, kebanyakan dari mereka adalah nelayan tradisional yang ketika 
berlayar harus berutang modal pada tengkulak, dan ketika menjual hasilnya pun 
harus pada tengkulak yang sama.

Menurutnya, sebagai negara kepulauan yang memiliki wilayah lautan 5,8 juta 
kilometer persegi, Nusantara semestinya mampu memberikan kemakmuran lebih pada 
para nelayannya di hari jadinya tahun ini.

Namun, ungkap Fadli, saat ini yang terjadi justru sebaliknya. Negeri maritim 
ini mengalami ironi. Banyak nelayan kita yang hidup tak sejahtera. Hal ini 
terjadi karena lemahnya upaya pemerintah dalam melindungi para nelayannya, 
terutama nelayan tradisional. Mereka tak mampu bersaing dengan para nelayan 
besar dan nelayan asing.

Menurutnya, ironi negeri maritim ini bisa pula dilihat dari upaya negara yang 
masih minim dalam meningkatkan produksi sumber daya laut Indonesia. Buktinya, 
untuk ikan saja kita masih impor 281 ribu ton. Di mana semestinya, 40 produk 
asal ikan impor merupakan komoditas ikan yang dapat ditangkap dan dibudidayakan 
di Indonesia. Impor inilah yang menyebabkan ekonomi nelayan kian terpuruk.

Selain itu, sektor kelautan Indonesia juga masih minim kontribusinya terhadap 
Produk Domestik Bruto (PDB). Dibanding Jepang dan China yang luas lautnya 
setengah dari Indonesia, kedua negara ini mampu memberi kontribusi 35% dari 
sektor kelautan terhadap PDB. Sementara Indonesia, kurang dari 30%. Padahal 
potensi pendapatan negara yang bisa diperoleh dari kelautan bisa mencapai  enam 
kali lipat  nilai APBN Indonesia.

"Fakta ini, menunjukan upaya pemerintah masih minim menggunakan kekayaan laut 
untuk kemakmuran rakyat. Sebuah ironi di negara bahari. Semoga hari nelayan 
nasional ini, bisa menggerakkan pemerintah agar lebih perhatian pada 
pembangunan sektor kelautan dan para nelayan kita," harap Fadli. (IS)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke