http://www.hidayatullah.com/read/28032/07/04/2013/perbedaan-sunni-syiah-masuk-haq-dan-bathil.html


Perbedaan Sunni-Syiah Masuk Haq dan Bathil 


       
     
     
Ahad, 07 April 2013 


Hidayatullah.com—Bertempat di Aula Pascasarjana Kampus ITS Surabaya, Jamaah 
Masjid Manurul Ilmi (JMMI) menggelar Seminar Akbar bertema; “Ahlus Sunnah dan 
Syiah: Beda Akidah, Syariah atau Politik?”


Acara yang diselenggarakan hari Sabtu, (06/04/2013) ini adalah puncak dari 
rangakain acara “Gebyar Manurul Ilmi (G-Mail)” yang di ikuti oleh seluruh 
Lembaga Dakwah Jurusan.

Tampil sebagai pembicara adalah Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi (Direktur I nstitute 
for the Study of Islamic Thought and Civilizations/INSISTS dan Pimred Jurnal  
Islamia), Mohammad Idrus Romli (dosen STAIN Jember dan Anggota LBM NU Jatim), 
dan Henry Shalahuddin, MA (dosen Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah/STID Muhammad 
Natsir Jakarta). Acara  dipandu langsung oleh Bahrul Ulum  dari InPAS Surabaya.

“Seminar ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang jelas kepada mahasiswa 
tentang bagaimana  memahami  hingga kita bisa mengerti perbedaan Syiah dan 
Sunnah,” ujar Syafruddin, penanggung jawab seminar.

Pada sesi pembicara pertama,  Dr. Hamid. Fahmi Zarkasih menyampaikan bahayanya 
pemikiran yang mengaggap semua agama itu benar. Sudut pandang pemikiran ini 
menggunakan teori relativisme, di mana menganggap kebenaran menurut Anda benar, 
menurut orang lain belum tentu benar.

“Pemahaman kebenaran ini  kemudian dijadikan acuan untuk membenarkan semua 
agama. Padahal dalam Islam umatnya harus meyakini bahwa agamanya Islam yang 
benar, namun tetap menghormati agama lain,” ujar Hamid.

Menurutnya, menyikapi perbedaan dalam Islam bisa menggunakan tiga macam 
kategori rumusan dalam melihat perselisihan. Pertama adalah sesuatu yang di 
katakan khata’ (salah) atau shawab (betul). Perbedaan dalam kategori ini masih 
dalam ranah ijtihadiyah atau dalam masalah –masalah furu’. 

"Kalau perbedaan antara NU dan Muhammadiyah, umumnya masalah furu'," ujarnya.

Kategori yang kedua adalah sesuatu yang dikategorikan haq dan bathil. Yang 
kedua ini, biasanya ditemukan dalam masalah salah dan benar dalam ruang akidah. 
Biasanya pula, konsekwensi dari perselisihan ini akan berujung pada akidah 
seseorang itu lurus atau salah.

Sedang kategori yang ketiga adalah, perbedaan yang bisa menjadikan seseorang 
itu mukmin dan kafir. Misalnya mendiskon atau menambah rukun iman. Karena 
menambah dan mengurangi itu bisa menjadikan seseorang itu kafir.

Berkaitan dengan masalah Syiah, perbedaan berawal dari  informasi hadits yang 
digunakan oleh pengikut Ali, yang dikatakan bahwa Ali lah sebenarnya yang 
ditunjuk oleh Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi Wassalam untuk menjadi imam. 
Namun kemudian hadits ini ditolak oleh para Sahabat dan kemudian terpilihlah 
Abubakar Radhiallahu anhu sebagai khalifah, Imam pengganti Nabi. Hal inilah 
membangkitkan perlawanan pengikut Ali, kemudian menyebarkan doktrin tentang 
imamah. Doktrin yang mempercayai bahwa satu-satunya imam pengganti Nabi adalah 
Ali bin Abi Thalib. [baca: Idrus Romli: Kultur Islam Indonesia Justru Melawan 
Syiah]

Dalam literatur Syiah dikatakan Imamah, yang artinya seorang harus mempercayai 
Imam Ali bin Abi Thalib sebagai Imam. Barangsiapa yang tidak mempercayai Ali 
sebagai imam berarti kafir.

“Dalam kalangan Syiah, imamah dijadikan sebagai akidah. Sehingga hal itu yang 
mengakibatkan Ahlus Sunnah tidak bisa bersatu dalam masalah akidah. Jadi tidak 
mungkin Syiah dan Ahlus Sunnah bisa bersatu.  Namun disayangkan Syiah kurang 
bijak, dengan mengklaim kelompok diluar syiah telah menjadi kafir, sebagaimana 
tertuang dalam buku-buku mereka.”

Pada sesi pembicara kedua,  Henry Shalahuddin, MA banyak menyoroti perbedaan 
antara Ahlus Sunnah dan Syiah.  Menurutnya,  perbedaan Ahlus Sunnah dan Syiah 
masuk dalam sudah kategori haq dan bathil. 


“Kelompok Syiah secara peribadatan sangat berbeda dengan Ahlus Sunnah. Contoh 
orang Syiah harus sujud di atas gambar imam-imam mereka. Mencambuk diri sendiri 
ketika memperingati hari Asyuro.”

Bukan sampai disitu saja perbedaannya, orang Ahlus Sunnah sangat menghormati 
dan mencintai para Sahabat Rasulullah termasuk Ali Bin Abi Thalib, tapi di 
kalangan Syiah, Sahabat selain Ali bin Abi Thalib adalah terlaknat, sehingga 
pengikut Syiah dianjurkan untuk melaknat Abubakar, Umar ibnu Khatab, Ustman bin 
Afan hingga istri Nabi Siti Aisyah.

“Begitu bencinya pada Sahabat Nabi, bahkan ada anjuran tempat yang paling bagus 
untuk melakukan laknat itu adalah di WC,” ujar Henry.

Menurut Henry kebencian kelompok ini terhadap para Sahabat diekspresikan secara 
nyata dalam kehidupan, seperti lewat kata, dan tulisan. Dan masih banyak lagi 
perbedaan-perbedaan yang ada.

Dalam dialog ini disimpulkan bahwa ajaran Syiah telah merasuk ke dalam 
kehidupan umat Islam secara perlahan lewat berbagai propaganda. Semua aspek 
kehidupan dimasuki, mulai dari budaya, pendidikan, politik, dan penyebaran 
keilmuan melalui penerbitan buku. Berbagai propaganda dilakukan melalui 
keilmuan dengan membalikan fakta dan sejarah. Menggunakan hadits dan ayat untuk 
mengklaim kebenaran keimamahan-nya. Di sisi lain syiah juga disebarkan seperti 
menggunakan bantuan ekonomi dan bantuan pendidikan.*/Samsul Bahri 


Rep: Administrator
Red: Cholis Akbar

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke