Ref:  Beberapa hari lalu berita kematian anak-anak karena kelaparan di Papua.  
Hari ini berita dari Bali, pulau Dewata, dikunjungi oleh ratusan ribu turis 
tiap tahun, diadakan pula berbagai konperensi internasional, jadi tak sedikit 
pula fulus yang diperoleh dari tourisme, plenti moni  dolar masuk, tetapi 
ternyata rakyat Bali sendiri tak menikmati fulus diperoleh dari bidang 
parawisata dan oleh oleh karena itu terdapat kasus kekurangan gizi. Pertanyaan 
klasik perlu diulang, yaitu ke kantong siapa  uang yang diperoleh dari 
pengolahan kekayaan alam di Papua dan begitu pun dari tourisme di Bali?

http://www.balipost.co.id/mediadetail.php?module=detailberita&kid=24&id=75089
      06 April 2013 | BP 
     
      Di Bali, Ditemukan 24 Kasus Gizi Buruk Pada Balita 
      Denpasar (Bali Post) -

      Kasus gizi buruk dan gizi kurang akibat asupan gizi yang tidak cukup 
ternyata masih ditemukan di Bali. Tahun 2013 saja, ditemukan 24 kasus, di mana 
daerah terbanyak adalah Buleleng dengan lima kasus.

      Kepala Dinas Kesehatan Bali dr. Ketut Suarjaya, saat ditemui Jumat (5/3) 
kemarin memaparkan, jika dibandingkan dari tahun-tahun sebelumnya, jumlah kasus 
gizi buruk di Bali mengalami kenaikan.

      Lebih lanjut dipaparkan, pada tahun 2011 ditemukan kasus gizi buruk pada 
anak berjumlah 63 orang dengan daerah tertinggi Klungkung mencatat 14 anak. 
Tahun 2012, menjadi 86 kasus dengan jumlah tertinggi daerah Karangasem sekitar 
23 anak. Sementara data tahun 2013 baru ditemukan 24 kasus balita menderita 
gizi buruk.

      Meningkatnya kasus gizi buruk di Bali mencerminkan sudah jalannya fungsi 
tim surveilan. Di sisi lain, juga berarti masih ada ibu yang tidak paham dalam 
memberikan gizi yang tepat bagi anaknya sejak dalam kandungan. Menurut 
Suarjaya, 30-35 persen kasus gizi buruk di Bali berasal dari keluarga miskin. 
"Biasanya jika dari keluarga tidak mampu, kekurangan gizi sudah terjadi pada 
saat dalam kandungan," ujarnya.

      Namun, sebagian besar kasus gizi buruk yang ditemukan, diakibatkan balita 
menderita suatu penyakit sehingga memengaruhi nafsu makan dan penyerapan 
gizinya serta kekurangtahuan ibu mengenai pemberian gizi yang tepat pada 
anaknya.

      Menurut Suarjaya, asupan gizi dilakukan saat anak masih di dalam 
kandungan. Begitu lahir di enam bulan pertama, anak diberikan ASI eksklusif, 
artinya hanya diberikan ASI tanpa makanan tambahan. "Dari enam bulan sampai 
satu tahun baru diberikan makanan pengganti ASI. Pemberian ASI tetap diberikan 
hingga anak berusia dua tahun," jelas Suarjaya. Melewati usia satu tahun, 
barulah anak diperkenalkan dengan makanan orang dewasa.

      Untuk menangani kasus gizi buruk di Bali, selain memberikan informasi 
bagi para ibu tentang asupan gizi yang baik, anak yang menderita gizi buruk 
juga diberikan makanan tambahan selama 120 hari. "Pemberian makanan tambahan 
ini dimonitor oleh petugas posyandu, bidan desa atau tim surveilan di 
masing-masing daerah," papar Suarjaya. (sa 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke