http://www.shnews.co/detile-17538-pengentasan-kemiskinan-jadi-taruhan.html


Pengentasan Kemiskinan Jadi Taruhan 
Faisal Rachman | Selasa, 09 April 2013 - 13:22:36 WIB

: 75 




(dok/antara)

Tidak tercapainya target pertumbuhan ekonomi karena pertumbuhan ekonomi 2013 
yang pesimistis.


JAKARTA – Menyerah bisa mencapai pertumbuhan ekonomi sesuai target, pemerintah 
memilih fokus menjaga target kemiskinan dan pengangguran. Dengan pertumbuhan 
ekonomi yang diprediksi bakal lebih rendah, pemerintah tidak ingin laju 
pengentasan kemiskinan dan pengangguran jadi melambat.
 
Sayangnya, pemerintah tak mau merinci strategi yang digunakan untuk 
mengentaskan kemsikinan dan pengangguran lebih cepat tatkala pertumbuhan 
ekonomi melandai. Tak ada juga alokasi dana yang diperbesar siginifikan untuk 
mengentaskan kemiskinan. 

“Kami memahami kondisi tekanan fiskal harus terjadi, kita lebih memprioritaskan 
pengentasan kemiskinan dan pengangguran daripada pertumbuhan ekonomi. Jadi, 
secara umum pertumbuhan ekonomi seperti yang dicanangkan di Rencana Pembangunan 
Jangka Menengah (RPJMN) sebesar 7-7,7 persen kita tidak bisa capai karena 
krisis dunia,” ujar Menteri Keuangan Agus Martowardojo di Jakarta, Senin (8/4). 

Menurutnya, pemerintah sangat berorientasi kepada pencapaian target-target yang 
telah dicanangkan di RPJMN. Namun, dengan adanya tekanan fiskal seperti biaya 
subsidi besar dan jauh di atas yang dianggarkan maka akan berdampak kepada 
angka kemiskinan. 

Tidak tercapainya target pertumbuhan ekonomi dalam RPJMN ini kata Agus tak 
terlepas dari pertumbuhan ekonomi 2013 yang pesimistis tercapai dengan 
mempertimbangkan krisis ekonomi dunia yang belum mengalami pemulihan. 
“Pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan akan ada di 3,5 persen. Kami meyakini 
pertumbuhan ekonomi dunia di bawah 4 persen menunjukkan secara umum dunia masih 
krisis,” tuturnya. 

Hanya saja, kendati pertumbuhan ekonomi di 2013 pesimistis untuk mencapai 
target, di 2014 nanti akan ada pendorong dari konsumsi partai politik dengan 
adanya pemilihan umum (pemilu) yang digelar lima tahunan. “Pemilu akan menjadi 
satu pendukung bagi pertumbuhan ekonomi, jadi ini semua sudah diperhitungkan,” 
ucapnya. 

Tak Merata 

Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal Helmy Faishal Zaini mengatakan, 
pertumbuhan ekonomi semakin meningkat dan berdampak pada penurunan tingkat 
kemiskinan maupun tingkat pengangguran. Namun, dia menyayangkan ditekannya 
angka kemiskinan dan pengangguran tidak diikuti pemerataan pendapatan yang 
ditunjukkan oleh indeks gini yang semakin meningkat (kesenjangan semakin 
meningkat).
 
“Harusnya dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi disparitas antarwilayah turun, 
tapi yang terjadi saat ini semakin senjang. Ini berarti pertumbuhan ekonomi 
yang berkualitas yang disampaikan presiden urgensi dalam konteks perencanaan ke 
depan agar lebih cepat,” ujarnya. 

Dilihat dari struktur ekonomi di daerah tertinggal, sektor pertanian memegang 
peranan penting. Jumlah penduduk miskin (2011) yang bekerja di bidang pertanian 
sebesar 56,62 persen, sedangkan pada 2012 sebesar 55,51 persen.
 
Ia mengatakan estimasi capaian peningkatan pertumbuhan ekonomi untuk 183 
kabupaten tahun 2014 adalah 6,32 persen, dan pertumbuhan rata-ratanya hanya 0,1 
persen. Untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi tahun 2014 bagi daerah 
sebesar 7,1 persen maka diperlukan waktu 12 tahun. 

Capaian pengurangan persentase penduduk miskin di 183 kabupaten tertinggal 
tahun 2014 sebesar 16,64 persen, penurunan rata-ratanya hanya 103 persen. Untuk 
mencapai sasaran 14,2 persen pada 2014 diperlukan waktu tujuh tahun. 

Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Armida S 
Alisyahbana mengatakan, meski target pertumbuhan ekonomi pada tahun depan tidak 
diproyeksikan terlalu tinggi, pemerintah berkomitmen ingin mengurangi angka 
kemiskinan. Pertumbuhan ekonomi sekitar 6,4-6,9 persen dan kemiskinan akan 
ditekan di angka 10 persen. 

Ia mengatakan total anggaran yang direncanakan pengentasan kemiskinan per 
kecamatan sebesar Rp 417,7 miliar yang tersebar pada 151 kecamatan. Alokasi 
untuk subsidi raskin Rp 23,1 miliar. “Kalau tahun lalu itu per kecamatan ada 
yang Rp 3 miliar, Rp 2 miliar, dan Rp 1 miliar, nah sekarang kita sama ratakan 
jadi Rp 3 miliar,” serunya.

Program-program kemiskinan yang akan diperkuat untuk mengentaskan kemiskinan, 
menurutnya, yaitu keluarga harapan, beasiswa siswa miskin, dan PNPM. “Jadi, 
nanti jumlah kecamatannya kami detailkan lagi, mana benar-benar miskin, itu 
yang menjadi sasaran kami," kata Armida. 

Sumber : Sinar Harapan


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke