Modus Pencurian Pulsa yang Belum Terendus PolisiTEMPO.CO – 3 jam yang lalu
*
*
TEMPO.CO, Jakarta - Skandal pencurian pulsa akhirnya akan segera diadili. Awal
Maret 2013, Badan Reserse Kriminal Mabes Polri mengumumkan berkas penyidikan
mereka sudah dinyatakan lengkap dan akan segera dilimpahkan kejaksaan ke
pengadilan.
Selain dengan trik konvensional menipu konsumen pengguna telepon seluler, ada
modus lain pencurian pulsa yang tak kalah mencengangkan. Sumber Tempo, seorang
mantan manajer di perusahaan operator telekomunikasi, yakin kalau modus ini
relatif belum banyak diketahui publik. »Bahkan polisi pun belum mengendusnya,”
katanya akhir Maret 2013 lalu.
Untuk mudahnya, modus ini disebut "pencucian Simcard" karena mirip dengan
metode pencucian uang atau money laundering. "Pencucian Simcard biasanya
dilakukan terhadap nomor Simcard yang telah mati tapi masih menyisakan pulsa,"
kata sumber Tempo ini.
Setiap hari, kata dia, ada ribuan Simcard yang dibuang oleh pemiliknya karena
kadaluarsa atau alasan lain. Di dalam setiap Simcard itu, biasanya selalu ada
sisa pulsa yang belum terpakai. Nah, operator seluler tidak bisa mengklaim sisa
pulsa di Simcard yang mati itu sebagai pendapatan mereka. Pasalnya, meski
uangnya sudah masuk ke rekening perusahaan operator seluler, pemiliknya belum
menggunakan pulsa tersebut.
»Ketika kita membeli pulsa telepon, pada prinsipnya kita menitipkan uang ke
perusahaan telekomunikasi, yang meski tidak bisa ditarik (not refundable) pada
dasarnya dana itu tetap uang milik kita, pemakai telepon,” kata sumber ini.
Uang itu baru bisa ditarik menjadi pendapatan perusahaan seluler, kalau
pengguna telepon memakai telponnya untuk bercakap-cakap atau mengirim SMS.
»Ketika ada layanan yang terpakai, barulah uang itu terkonversi menjadi pulsa
dan bisa dihitung sebagai pendapatan perusahaan,” katanya.
Sumber Tempo ini lalu menuturkan bagaimana perusahaan operator seluler lalu
bekerjasama dengan content provider untuk menyedot sisa pulsa di ribuan Simcard
yang sudah tak dipakai itu.
Caranya, operator »menghidupkan” nomor-nomor Simcard yang kadaluwarsa namun
masih ada sisa pulsanya kepada perusahaan content provider. Perusahaan content
provider lalu mengirimi SMS premium berkali-kali ke Simcard itu, sampai sisa
pulsanya tersedot. »Biasanya operator dan perusahaan content provider berbagi
keuntungan dari skema ini,” katanya.
Cerita soal modus ini, kata sumber Tempo, dia dengar langsung dari para
pelakunya. "Ini cara cepat mendulang keuntungan di bisnis content provider,"
katanya. Modus ini hampir tak mungkin terdeteksi, karena tak ada seorang pun
yang merasa uangnya hilang. Tapi coba hitung berapa miliar rupiah yang bisa
diperoleh dengan cara ini.
[Non-text portions of this message have been removed]