Ref: SBY sebagai kepala pemerintah sudah mengambil keputusan berupa dua 
alternatif yang tidak berbeda yaitu memberatkan keuangan anggota masyarakat 
berkantong kempis atau berlobang.

http://www.suarakarya-online.com/news.html?category_name=Ekonomi


           
Pemerintah Ragu Ambil Keputusan 

Hendri Saparini, Ekonom 

Sabtu, 27 April 2013

JAKARTA (Suara Karya): Pemerintah dinilai ragu-ragu dan lamban dalam memutuskan 
soal opsi penaikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi. Sikap pemerintah itu 
menimbulkan spekulasi dan berdampak negatif bagi masyarakat maupun pelaku usaha 
di dalam negeri. 
Ekonom Hendri Saparini mengatakan, meski kebijakan BBM subsidi sudah mengerucut 
pada dua opsi, yaitu penerapan dua harga (dual price) dan opsi penaikan harga 
untuk semua jenis kendaraan, namun pemerintah belum juga mengambil keputusan. 
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sendiri belum bisa memastikan waktu 
pasti untuk menaikkan harga BBM subsidi. Presiden, di Jakarta, Jumat, 
mengatakan, pemerintah masih mempertimbangkan penaikan harga BBM subsidi bagi 
seluruh konsumen jika risiko kebijakan dua harga dinilai terlalu besar. 
Menurut Presiden, pemerintah tidak akan mengambil opsi kebijakan dua harga jika 
kajian teknis menunjukkan opsi itu tidak mungkin diterapkan. "Apa mungkin 
secara teknis di lapangan diberlakukan sistem dua harga? Kalau memang tidak 
memungkinkan, risikonya terlalu besar, tidak mungkin pemerintah pilih," 
katanya. 
Presiden juga menjelaskan, opsi dua harga bertujuan menerapkan secara riil 
undang-undang yang menyatakan subsidi BBM diberikan kepada masyarakat tidak 
mampu. Karena itu, pemerintah hanya akan mengurangi subsidi BBM bagi masyarakat 
mampu, sedangkan subsidi bagi masyarakat tidak mampu dipertahankan hingga 
kemampuan ekonomi mereka membaik. 
Menurut Hendri Saparini, pengendalian konsumsi BBM subsidi tidak berjalan baik. 
Ini membuat pemerintah tidak mampu mengatasi anggaran. Termasuk menambal laju 
kucuran dana subsidi. 
Padahal, menurut Hendri, penaikan harga BBM subsidi belum menyelesaikan masalah 
APBN. Sebab, akar masalah subsidi BBM dalam APBN adalah dan permintaan. Karena 
itu, penaikan harga BBM tidak bisa langsung berdampak terhadap perekonomian. 
Hendri mengatakan, dengan dua harga, kuota BBM subsidi sulit bisa dikurangi. 
Pasalnya, para pemilik kendaraan pribadi besar kemungkinan tetap menggunakan 
BBM subsidi meski lebih mahal. "Saya tidak yakin APBN bisa dihemat. Jadi, 
pemerintah tidak komprehensif mengambil kebijakan. Seharusnya ada konversi 
bahan bakar, misalnya BBM ke gas," ujarnya. 
Hal senada disampaikan Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan 
Wanandi. Ia sebelumnya juga menilai, pemerintah terlalu lambat dalam memutuskan 
penaikan harga BBM. Dampak dari ketidakpastian itu sangat merugikan masyarakat. 
Misalnya, banyak produsen dan distributor menahan barangnya. Selain itu, 
kemungkinan terjadinya penimbunan solar dan premium karena banyak pihak yang 
berspekulasi. 
Menurut dia, rencana pemerintah menaikkan harga solar dan premium sebesar Rp 
2.000 menjadi Rp 6.500 per liter tidak berpengaruh besar terhadap penghematan 
anggaran. "Yakni, hanya sekitar Rp 20 triliun. Setiap tahun subsidi energi 
mencapai sekitar Rp 300 triliun," ujarnya. 
Dia juga menyarankan pengendalian subsidi BBM seharusnya dipukul rata di semua 
jenis BBM. Selain penghematan yang lebih besar, skenario pukul rata itu juga 
lebih praktis. Ini mengingat pengawasan BBM yang dijual dengan dua harga 
dinilai sangat tidak efektif dan rawan penyelewengan. 
"Inflasi yang ditimbulkan dengan penaikan di semua jenis BBM ini tidak akan 
separah penaikan pada 2005 lalu," ucapnya. Apalagi, menurut dia, saat ini 
minyak tanah sudah tidak disubsidi karena dikonversi ke elpiji. 
Di tempat terpisah, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) M 
Said Iqbal mengatakan, demonstrasi buruh pada 1 Mei memperingati Hari Buruh 
Sedunia akan menolak rencana penaikan harga BBM. "Kami tidak setuju kalau 
subsidi BBM dicabut karena subsidi itu kewajiban negara. Di mana-mana buruh 
akan memperjuangkan subsidi BBM," kata Said Iqbal. 
Dia mengatakan, penolakan terhadap penaikan harga BBM oleh buruh didasari oleh 
beberapa alasan, yakni penaikan harga BBM dinilai akan meningkatkan inflasi dan 
mengakibatkan daya beli buruh menurun. "Kalau harga BBM direncanakan naik Rp 
2.000, daya beli buruh pun akan turun sebab harga sewa rumah, ongkos kendaraan 
umum, dan harga kebutuhan pokok pun akan naik," kata dia. 
Namun, apabila pemerintah tetap berkeras menaikkan harga BBM, para buruh 
berencana melakukan mogok kerja nasional. "Kami akan pastikan ketika Presiden 
SBY berpidato pada sidang paripurna, buruh akan mogok kerja," tuturnya. 
(Bayu/Seno/Choi

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke